Di luar restoran, kabut Cisarua mulai turun lebih tebal, membungkus janji baru yang lahir di antara sisa-sisanya aroma kopi dan makanan cepat saji. Madu itu memang pahit di awalnya—penuh dengan penundaan, rahasia, dan rasa sakit—namun di meja itu, keduanya sepakat untuk terus melangkah, menyusun kepingan takdir yang sempat terserak di jalur Puncak yang dingin.
Di balik jendela restoran cepat saji itu, arus kendaraan di jalur Puncak Cisarua tampak seperti aliran darah yang tak kunjung henti—merayap, padat, dan penuh ketidaksabaran. Namun, di meja nomor dua belas, waktu seolah mengerucut pada satu titik koordinat yang presisi. Haekal, yang selama ini dikenal dengan pola pikirnya yang sistematis, merasa bahwa segala wacana dan dialektika harus segera bermuara pada aksi.
“Kapan tepatnya Adik suci? Kita butuh tanggal,” ujar Haekal, suaranya rendah namun memiliki resonansi otoritas yang tenang.
Nenden terdiam sejenak, jemarinya memainkan ujung sedotan. Secara biologis, ia sedang menghitung siklus peluruhan rahimnya—sebuah ritme alami yang dalam sains dikendalikan oleh fluktuasi estrogen dan progesteron. Dalam kondisi stres, siklus ini bisa menjadi anomali, namun Nenden cukup mengenal tubuhnya sendiri. Tubuhnya adalah sebuah peta yang telah berkali-kali melewati badai.

“Tiga hari lagi, Mas,” jawab Nenden mantap. Mata bulatnya menatap Haekal, mencari kepastian yang sama. “Tanggal dua puluh tiga Desember. Nenden yakin saat itu segalanya sudah bersih.”
Maka, terjadilah kesepakatan itu. Tanggal 23 Desember dipilih sebagai titik balik. Dalam numerologi atau sekadar kebetulan kalender, tanggal itu berada di ambang hiruk-pikuk perayaan akhir tahun, namun bagi mereka, itu adalah hari rekonsiliasi spirituil.
Haekal mengangguk. Dalam benaknya, ia langsung menyusun logistik mental. Tanggal 23 berarti Nenden memiliki waktu tujuh puluh dua jam untuk memastikan penghulu siap, saksi-saksi yang dipercaya tidak berhalangan. Bagi Haekal ada satu lagi, yang paling penting: memastikan bahwa privasi Nenden tetap terjaga dari radar Iis maupun gangguan Andrinov.
Sesuai dengan teori Goal Setting dari Edwin Locke, penetapan tanggal yang spesifik (Specific and Time-bound) secara instan menurunkan tingkat kecemasan Nenden. Ketidakpastian adalah musuh utama dari mental health, dan dengan adanya angka “23”, beban di pundak Nenden seolah terangkat sebagian.
Nenden menghela napas panjang. Ia teringat falsafah Sunda: “Kudu bisa milih nu munasabah, milah nu merenah.” (Harus bisa memilih yang masuk akal, memilah yang pantas). Memilih tanggal 23 adalah keputusan yang munasabah. Ia tidak ingin menunda lebih lama hingga masuk ke hiruk-pikuk Tahun Baru yang akan membuat akses jalanan Puncak menjadi mustahil ditembus, dan ia tidak ingin terlalu cepat hingga melanggar batasan kesucian biologisnya.
“Dua puluh tiga Desember,” Haekal mengulanginya, seolah ingin mencicipi bunyi tanggal itu di lidahnya.
Di antara hiruk-pikuk Cisarua dan ketenangan Cipayung yang mulai diselimuti kabut, sebuah perdebatan logistik muncul ke permukaan. Sebuah perdebatan yang menyentuh sisi paling pragmatis dari sebuah pernikahan yang “tak terlihat”. Haekal, dengan naluri protektifnya sebagai lelaki Jawa, awalnya menawarkan Jakarta sebagai palagan akad.
“Mas akan siapkan segalanya di sana, Dik. Adik cukup datang dan fokus menjaga kesehatan. Jangan makan yang aneh-aneh lagi, simpan tenagamu untuk hari itu,” ujar Haekal, sebuah tawaran yang dalam teori Benevolent Sexism bermaksud melindungi namun secara tidak langsung mengambil alih kedaulatan tempat.
Nenden, yang telah bertahun-tahun ditempa oleh kerasnya persaingan dagang dan pahitnya pengkhianatan, tidak lantas menelan usul itu mentah-mentah. Ia memiliki insting survival yang lebih tajam mengenai realitas di lapangan.
“Mas, di Cipayung, nikah siri itu tetap mendapatkan selembar dokumen surat dari amilnya. Apakah di Jakarta juga begitu?” tanya Nenden pelan namun menuntut jawaban pasti.


