Madu Pahit Nenden — Bagian 18: Tanggal 23 Desember

Must Read

Nenden berbaring menatap langit-langit kamar yang mulai dihiasi bayang-bayang senja. Pengembalian uang itu terasa seperti sebuah penanda simbolis bahwa alam semesta memang sedang memintanya untuk melakukan jeda eksistensial. Ini mengingatkan orang akan kutipan dari Blaise Pascal: “Seluruh masalah kemanusiaan berasal dari ketidakmampuan manusia untuk duduk diam dengan tenang di dalam kamar.”

Mungkin, penundaan ini adalah cara Tuhan untuk memberinya ruang Self-Reflexivity. Apakah ia ingin menikah karena benar-benar butuh perlindungan Haekal, ataukah ia hanya sedang mencari pelarian dari kejaran manipulatif Andrinov? Perih lambungnya kini mulai mereda seiring dengan diet bubur yang ketat, namun digantikan oleh debar refleksi yang lebih dalam tentang masa depan.

“Sabar, Nen. Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok,” bisik Iis yang tiba-tiba masuk membawa semangkuk air hangat. Peribahasa itu mengingatkannya bahwa segala sesuatu yang besar membutuhkan ketelatenan dan waktu, bukan ketergesaan yang emosional. Batu yang keras sekalipun bisa berlubang oleh tetesan air yang konsisten; begitupun nasib, ia bisa diubah oleh kesabaran yang tidak putus.

Dua hari sebelum tanggal 15 Desember yang batal itu, Nenden merasa dunianya tidak runtuh. Sebaliknya, ia merasa sedang melewati proses sublimasi—pemurnian niat. Ia membiarkan vila itu disewa orang lain, ia membiarkan para spekulan berbicara sesukanya. Ia memilih untuk mendekap dirinya sendiri dalam sunyi, menunggu aliran darah haidnya berhenti dan lambungnya kembali tenang, sebelum benar-benar melangkah menuju akad yang ia harapkan menjadi muara terakhir dalam hidupnya.

Milad 117 H Muhammadiyah

***

Tanggal 20 Desember datang membawa hawa pegunungan yang lebih tajam, seolah-olah Puncak sedang memamerkan otoritas cuacanya. Cisarua siang itu dibasuh hujan rintik yang menyisakan aroma tanah basah—petrichor—yang bercampur dengan aroma penggorengan dari kedai-kedai di sepanjang jalan raya. Di dalam sebuah restoran cepat saji yang dinding kacanya berembun, Nenden duduk berhadapan dengan Haekal.

Suasana restoran yang bising oleh deru mesin pendingin dan tawa pengunjung lain kontras dengan kedalaman percakapan mereka. Nenden hanya memesan satu menu sederhana, seolah lambungnya masih melakukan negosiasi pasca-trauma durian tempo hari. Namun, ada yang berbeda. Rona merah di pipinya kembali muncul, dan gurat kelelahan yang sebelumnya mendominasi wajahnya kini memudar, digantikan oleh vitalitas yang segar.

“Adik sakit kok malah tambah gemuk?” sindir Haekal, matanya berkilat jenaka di balik kacamata. Dalam biologi, fenomena ini sering disebut sebagai rebound effect—saat tubuh yang baru saja sembuh dari stres metabolik dan malnutrisi sementara mulai menyerap nutrisi dengan lebih efisien sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri.

Nenden tertawa, sebuah tawa yang renyah dan jujur, melenyapkan kesan wanita yang beberapa hari lalu nyaris menyerah pada rasa sakit. “Ah, nggaklah, Mas. Dari dulu Nenden ya seperti ini,” jawabnya sambil merapikan jilbabnya yang sedikit terusik angin dari pintu otomatis.

Haekal meletakkan minumannya, wajahnya berubah serius namun tetap memancarkan kelembutan. “Adik, tahu tidak? Di luar sana, ada yang berbisik-bisik. Ada yang mengatakan kalau Adik sebenarnya nggak siap menikah lagi. Penundaan kemarin dianggap sebagai bentuk keraguan atau ketakutan Adik untuk kembali terikat.”

Dalam sosiologi, ini disebut sebagai stigma sosial, di mana kegagalan rencana sering kali dilekatkan pada ketidakmampuan personal daripada faktor situasional. Publik lebih senang menyusun narasi spekulatif daripada menerima fakta medis yang membosankan. Nenden tidak tampak terganggu sedikit pun. Filsuf Stoik, Marcus Aurelius berkata: “Segala sesuatu yang kita dengar adalah pendapat, bukan fakta. Segala sesuatu yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran.”

“Biarkan saja orang bicara apa, Mas. Nenden sangat siap. Kalau Mas mau kita akad sekarang juga, ayo. Nenden tidak takut,” tantang Nenden. Matanya menatap tajam, memancarkan determinasi yang melampaui rasa sakit fisiknya. Kalimat itu bukan sekadar gertakan, melainkan sebuah pernyataan kedaulatan atas hidupnya sendiri.

Haekal terkejut, namun sedetik kemudian ia mengangguk mantap, mengagumi keberanian wanita di depannya. “Baiklah. Kita atur kembali. Tapi Mas tetap ingin mereka yang tadinya kita undang—meski jumlahnya sedikit—tetap hadir. Mas ingin pernikahan ini, meski rahasia dari sebagian orang, tetap memiliki saksi yang valid secara sosial dan hukum Tuhan.”

Nenden mengangguk, namun raut wajahnya kembali menyimpan beban saat pembicaraan beralih ke urusan keluarga. Ia bersikeras bahwa akad ini harus terjadi tanpa kehadiran papanya yang kini sudah pikun (senile dementia) dan hanya bisa terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Ia juga tetap pada pendiriannya untuk tidak memberi tahu Iis, sang mama.

“Pusing, Mas. Akan banyak pertanyaan yang menghujam. Nenden malas ribut sama Mama. Biarkan ini menjadi urusan kita dan Allah dulu,” ujarnya lirih.

Secara hukum Islam, terjadi diskursus panjang mengenai hal ini. Menurut madzhab Hanafi, seorang wanita yang sudah janda (tsayyib) dan dewasa secara akal memiliki otonomi penuh untuk menikahkan dirinya sendiri tanpa wali. Namun, dalam konteks masyarakat Indonesia yang kental dengan madzhab Syafi’i, wali tetap menjadi rukun. Nenden mengambil jalan tengah yang sunyi: ia memilih menikah secara siri—sebuah institusi pernikahan yang sah secara agama namun tidak tercatat negara—sebagai bentuk perlindungan diri sementara dari hiruk-pikuk penolakan keluarga.

Falsafah Sunda mengajarkan “Ulah nundungkeun nungtun, ulah nyiduh ka langit”—jangan sampai langkah kita justru memperumit keadaan atau menghina sesuatu yang seharusnya kita junjung. Dengan menyembunyikan ini, Nenden sedang mempraktikkan conflict management. Ia ingin kedamaian, bukan drama yang akan memperburuk kondisi kesehatan mentalnya dan kesehatan fisik orang tuanya yang kian renta.

“Mari kita atur ulang, Mas. Begitu Adik suci, kita langsung akad. Cukup penghulu dan dua saksi yang terpercaya. Soal mengundang teman-teman ke vila, itu bisa dilakukan sebagai bentuk syukuran kecil setelah kita resmi,” tandas Nenden.

Haekal menatap Nenden dengan penuh pengertian. Ia paham bahwa bagi Nenden, pernikahan ini adalah sebuah survival strategy. Di tengah kepungan utang, ancaman manipulatif dari Andrinov, dan tuntutan ekonomi yang berat, Nenden membutuhkan “jangkar” yang sah secara spiritual untuk menstabilkan jiwanya yang telah lama terombang-ambing.

“Ya. Yang penting kita sah dulu sebagai suami istri di mata Allah,” pungkas Haekal.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This