Madu Pahit Nenden — Bagian 3: Demi Nabila

Must Read

Di Cipayung, kabar perceraian itu jatuh ke pangkuan Iis laksana petir di siang bolong—tanpa hujan, tanpa aba-aba. Ia membaca pesan di layar ponsel itu berulang-ulang, seolah maknanya bisa berubah jika dilihat dari sudut yang lain. Namun, kata-kata tetaplah kata-kata: singkat, telanjang, dan tak memberi ruang sedikit pun untuk penyangkalan. Dalam psikologi kognitif, momen ini adalah sebuah cognitive shock, di mana realitas baru yang pahit menghancurkan struktur harapan yang telah dibangun sekian lama.

Iis terduduk lama di lantai rumah kecilnya. Lantai semen yang dingin merambat di telapak pahanya, seakan ikut menyerap beban yang mendadak runtuh. Pandangannya tertahan pada dinding yang penuh retak rambut—garis-garis tipis yang menjalar tak beraturan, serupa peta nasib yang tak pernah ia minta. Rumah itu sunyi, kecuali detak jam tua di dinding dan napasnya sendiri yang kian berat.

“Kenapa nasib buruk itu juga menimpa anak saya?” lirihnya.

Kalimat itu tak ditujukan pada siapa pun, namun menggantung lama di udara, memenuhi ruang yang pengap. Secara sosiologis, Iis sedang menghadapi apa yang disebut sebagai Intergenerational Trauma—sebuah siklus luka batin yang seolah-olah diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Milad 117 H Muhammadiyah

Iis teringat dirinya sendiri—tahun-tahun kelabu ketika ia juga menjadi “madu”, ketika pernikahan yang ia harapkan membawa ketenangan justru menjadi ladang getir yang gersang. Ia mengingat malam-malam panjang tanpa kepastian, janji-janji yang diucapkan dengan suara pelan namun dikhianati dengan keheningan yang panjang. Perkawinan itu gagal, dan ia dipaksa keadaan untuk membesarkan tiga anaknya sendirian, dengan tenaga yang dipaksa kuat dan hati yang dipaksa belajar diam.

Ingatan itu datang berlapis, seperti luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh, hanya mengering di permukaan. Kini, luka itu seolah menuntut ruang kembali, diwariskan bukan sekadar sebagai cerita pengantar tidur, melainkan sebagai pengalaman pahit yang terulang pada tubuh lain: tubuh putrinya sendiri, Nenden.

Pandangan Iis beralih pada Isma, putrinya yang tunarungu. Gadis itu duduk di sudut ruangan, memeluk lutut, tersenyum kecil pada sesuatu yang hanya ia mengerti sendiri. Secara fisiologis, dunia Isma adalah dunia tanpa suara, sebuah Silent World  yang melindunginya dari vibrasi kata-kata kasar manusia. Isma tak mendengar kabar apa pun. Dunia baginya tetap utuh, tak retak oleh kata “cerai” atau “pengkhianatan”.

Senyum polos itu—yang tak tersentuh dosa dunia—justru membuat dada Iis kian sesak. Ada kontras yang menyakitkan antara ketenangan Isma dan badai yang sedang mengamuk di dalam batin Iis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang mulai keriput. Bahunya bergetar hebat.

“Dosa apa yang sudah kami lakukan…” gumamnya meratapi takdir.

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menulis bahwa musibah bukanlah selalu bentuk hukuman dari Sang Pencipta, melainkan sebuah Tarbiyah, pendidikan jiwa yang keras agar manusia mampu melampaui ego dirinya dan tumbuh menuju kematangan spiritual. Namun, bagi seorang ibu yang sedang hancur, teori-teori teologis sering kali tak sanggup menahan derasnya air mata. Pengetahuan sering kali runtuh di hadapan rasa; logika takluk di hadapan empati. Yang tersisa hanyalah ketakutan purba: takut melihat buah hatinya mengulangi jalan terjal dan berliku yang pernah ia lalui dengan penuh darah dan air mata.

Dengan tangan yang masih gemetar, Iis memandang ponsel dalam genggamannya. Itu adalah milik tetangga sebelah yang sengaja menunggu dengan rasa cemas yang sama.

“Ada apa, Bu?” tanya sang tetangga pelan.

Iis hanya menggeleng, tak sanggup menyusun kata-kata verbal. Lidahnya kelu. Ia kemudian meminta tetangganya itu menulis pesan pendek, sebuah instruksi singkat namun sarat makna, meminta Nenden segera pulang. Kembali ke Cipayung. Kembali ke rumah asal.

Dalam benaknya, “pulang” adalah metafora dari keselamatan. Pulang berarti berada dalam jangkauan pelukan seorang ibu. Dalam perspektif Attachment Theory, pelukan ibu adalah Secure Base atau pangkalan keamanan terakhir bagi jiwa yang sedang terluka parah. Betapapun rapuh dan tua pelukan itu, ia tetaplah satu-satunya tempat di mana Nenden bisa menjadi dirinya sen-diri tanpa harus berpura-pura kuat di hadapan dunia yang kejam.

Iis menghela napas panjang, menatap langit-langit rumahnya, berharap doanya menembus atap dan sampai ke Arsy, memohon agar madu yang pahit ini adalah yang terakhir kalinya dicicipi oleh keturunannya.

***

Namun malam itu, di Pondok Gede, Nenden duduk di samping ranjang kecil Nabila yang mulai terlelap. Nafas bayi itu teratur, wajahnya tenang setelah demam mereda. Di kursi dekat jendela, Mbok Rani tertidur setengah duduk; kepalanya terangguk, ta-ngannya masih menggenggam kain kecil, penjaga sunyi yang tak pernah menuntut apa pun.

Nenden memandang keduanya: anak dan perempuan tua yang bukan siapa-siapa menurut silsilah, tetapi hadir sepenuhnya menurut nurani. Di antara detak kipas angin dan suara kota yang meredup, ia memahami sesuatu yang selama ini luput.

Pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat asal. Kadang, pulang adalah keberanian untuk berdiri di tempat luka terjadi—menatapnya tanpa menutup mata—lalu memilih jujur pada diri sendiri.

Ibnu ‘Ashur menegaskan bahwa maqāsid pernikahan adalah sakinah—ketenangan, bukan dominasi. Apa yang Nenden jalani bukan sakinah. Bukan keadilan. Bukan pula sunnah yang hidup. Itu adalah madu pahit: manis di awal, mematikan di akhir.

Di luar, Jakarta tetap bergerak. Klakson bersahutan. Pedagang kaki lima berteriak menawarkan dagangan. Seperti kata Albert Camus, dunia memang absurd—ia tidak menjelaskan dirinya pada penderitaan manusia.

Namun di dada Nenden, sesuatu mengendap menjadi tekad. Jika kebohongan adalah akar luka, maka kejujuran—meski menyakitkan—akan menjadi jalan pulang.

Dan dari puing-puing inilah, kisah Nenden akan menemukan bentuknya yang baru. Bukan sebagai istri. Melainkan sebagai perempuan yang bertahan.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This