Pagi di Tanah Abang selalu dimulai dengan kegaduhan yang teratur. Matahari belum sepenuhnya naik, tetapi jalanan sudah berdenyut seperti nadi kota yang tak pernah tidur. Bau kain baru bercampur keringat, asap kendaraan, dan aroma kopi dari kafe-kafe kecil yang bertahan di sela pertokoan. Di sanalah Nenden bekerja, di sebuah kafe sederhana yang menghadap arus manusia yang terus bergerak, seolah Jakarta menolak berhenti meski satu jiwa sedang remuk.
Nenden berdiri di balik meja kasir, mengenakan celemek cokelat tua. Gerakannya cekatan, wajahnya tenang. Di balik ketenangan itu, tersimpan disiplin keras yang ia bangun sejak menjadi ibu tunggal. Dalam psikologi trauma, rutinitas adalah mekanisme stabilisasi, cara jiwa menjaga kewarasan setelah guncangan besar. Nenden menjalaninya tanpa istilah, tanpa teori. Ia hanya tahu: jika ia berhenti, hidup akan runtuh.
Tak sedikit lelaki pelanggan yang mencoba mendekat. Tanah Abang memang ruang maskulin: transaksi, tawar-menawar, uang, dan hasrat yang sering tak tahu tempat. Tatapan-tatapan itu datang silih berganti—ada yang terang-terangan, ada yang dibungkus basa-basi. Nenden menghadapi semuanya dengan satu strategi: jarak.
Namun di antara mereka, ada satu sosok yang berbeda.

Namanya Andrinov.
Ia selalu datang saat jam makan siang, mengenakan kemeja rapi meski sederhana. Tidak banyak bicara. Ia duduk di sudut yang sama, memesan menu yang sama, dan mengamati tanpa membuat Nenden merasa diteror. Dalam etologi manusia—cabang ilmu yang mempelajari perilaku sosial—perhatian yang tidak invasif sering justru lebih kuat dampaknya. Nenden menyadarinya, meski ia pura-pura tidak.
Awalnya, Andrinov hanya meninggalkan tip. Tidak kecil, tidak juga berlebihan. Nenden menganggapnya biasa. Di kota ini, uang sering bicara lebih dulu daripada niat. Namun lama-kelamaan, jumlah tip itu meningkat. Lima puluh ribu. Tujuh puluh ribu. Seratus ribu.
Hari itu, ketika Andrinov berdiri hendak pergi, ia menyelipkan selembar uang seratus ribu ke meja.
Nenden terkejut. Ia mengejarnya hingga dekat pintu.
“Pak, ini kebanyakan,” katanya, menyodorkan kembali uang itu.
Andrinov tersenyum tipis. Tidak lama, tidak menggoda.
“Ambil saja,” ujarnya ringan. “Kebetulan ada rezeki nomplok tadi.”
Lalu ia pergi. Tanpa menunggu jawaban.
Nenden berdiri terpaku, menggenggam uang itu erat-erat. Di telapak tangannya, uang terasa hangat—seolah membawa beban yang lebih besar dari nilainya. Dalam ekonomi perilaku, uang bukan sekadar alat tukar; ia simbol kuasa, niat, dan relasi. Dan Nenden paham betul, tidak ada pemberian yang sepenuhnya netral.
Siapa yang tidak butuh uang?
Sebagai ibu tunggal di kota mahal, kebutuhan datang lebih cepat daripada gaji. Susu anak, kontrakan, ongkos, obat—semuanya menunggu giliran. Dalam teori hierarki kebutuhan Maslow, Nenden masih berjuang di tingkat dasar: keamanan dan keberlangsungan hidup. Namun pengalaman hidup telah mengajarinya satu hal: kebutuhan tidak boleh mengorbankan martabat.
Ia cemas.
Bukan pada uang itu, melainkan pada kemungkinan di baliknya.
Daniel telah mengajarinya dengan cara paling kejam bahwa kedekatan lelaki sering kali datang dengan lapisan niat yang disembunyikan. Dalam kajian relasi timpang, ini disebut coercive generosity—kebaikan yang perlahan menciptakan rasa berutang emosional. Nenden tidak ingin kembali terperangkap.
Ia teringat pendapat Imam Al-Ghazali tentang niat: bahwa amal dinilai bukan dari bentuk luarnya, melainkan dari maksud di baliknya. Dan ia teringat pula peringatan Ibnu Qayyim al-Jauziyah bahwa kezaliman sering kali hadir dengan wajah yang sopan.
Nenden menyimpan uang itu di laci kasir, belum berani membawanya pulang.
Ia belum siap bergaul lebih dekat dengan laki-laki mana pun. Luka yang ditorehkan Daniel terlalu dalam, terlalu struktural. Itu bukan sekadar patah hati, melainkan keruntuhan keperca-yaan—pilar utama dalam teori keterikatan (attachment theory). Ketika kelekatan dikhianati, jiwa belajar curiga demi bertahan.
Di sela kesibukan, Nenden menatap jalan Tanah Abang yang riuh. Ia sadar, hidup ke depan tak akan sederhana. Akan ada tawaran, akan ada bujuk rayu, akan ada dalil dan janji—seperti yang dulu dibungkus Daniel atas nama agama dan poligami.
Ia kini tahu, seperti ditegaskan Syekh Muhammad Abduh, bahwa poligami dalam Islam adalah dispensasi sosial dengan syarat keadilan yang hampir mustahil diwujudkan. Tanpa kejujuran, ia bukan ibadah—melainkan manipulasi yang disucikan oleh kata-kata.
Nenden menghela napas panjang.
Madu pahit itu telah ia cicipi sekali. Ia tidak berniat mengulanginya.
Dan pagi di Tanah Abang pun berlanjut—dengan kopi yang terus diseduh, langkah-langkah yang tak berhenti, dan seorang perempuan yang perlahan belajar: bahwa bertahan bukan berarti membuka diri pada siapa saja, melainkan menjaga diri agar tetap utuh di dunia yang gemar merusak.
***


