Senja telah sepenuhnya menyerah pada malam ketika Nenden tiba di rumah kontrakan itu. Sebuah bangunan sederhana di Pondok Gede—dindingnya tipis, catnya mengelupas di beberapa sudut, namun menyimpan ketenangan yang tak ia temukan di banyak tempat lain. Di halaman sempit, pohon jambu yang tak pernah benar-benar berbuah berdiri seperti saksi bisu kehidupan kecil yang bertahan di bawahnya.
Begitu pintu dibuka, pemandangan itu menyambutnya.
Mbok Rani duduk di kursi plastik dekat jendela, menggendong Nabila. Bayi itu tersenyum lebar, giginya belum tumbuh, matanya berbinar—seolah dunia hanya berisi dua hal yang ia kenal: kehangatan dan wajah ibunya.
“Nah, mamanya pulang,” kata Mbok Rani lirih, suaranya serak namun penuh kasih.

Dalam psikologi perkembangan, senyum bayi adalah refleks sosial awal—social smile—tanda keterikatan yang sehat antara anak dan pengasuh utamanya. Bagi Nenden, senyum itu lebih dari sekadar fase perkembangan. Ia adalah alasan.
Ia menaruh tas, melepas alas kaki, lalu menuju kamar mandi. Air mengalir membasuh wajah dan kakinya. Dalam tradisi Islam, wudu bukan sekadar ritual kebersihan, tetapi juga jeda—transisi dari hiruk dunia ke ruang batin yang lebih hening. Nenden merasakan itu. Ia menutup mata sejenak, menghela napas, lalu kembali ke ruang tengah.
Tanpa banyak kata, ia mengambil Nabila dari gendongan Mbok Rani.
“Lapar, ya?” bisiknya.
Nabila merespons dengan gerakan mulut yang reflektif. Nenden duduk di tepi ranjang, mengatur posisi, lalu menyusui. Bayi itu menyambutnya dengan rakus—seolah menghabiskan waktu yang hilang. Dalam ilmu biologi, menyusui memicu pelepasan oksitosin—hormon ikatan—yang menenangkan ibu dan anak. Namun bagi Nenden, efeknya melampaui penjelasan ilmiah: dadanya menghangat, pikirannya melambat, dan dunia sejenak berhenti menuntut.
Mbok Rani memperhatikan dari kejauhan. Perempuan tua itu bukan keluarga, bukan pula darah daging. Namun dalam sosiologi, ia adalah fictive kin—kerabat yang dibentuk oleh kebutuhan dan empati. Ia hadir sepenuhnya, tanpa kontrak batin selain kepedulian.
“Alhamdulillah, sejak tadi rewel, tapi pas lihat mamanya langsung senyum,” kata Mbok Rani.
Nenden mengangguk, matanya berkaca. Ia teringat ucapan Khalil Gibran: “Anak-anakmu datang melalui kamu, tetapi bukan dari kamu.” Kalimat itu terasa nyata di pangkuannya—sebuah amanah yang menuntut kehadiran, bukan sekadar niat baik.
Di luar, suara motor melintas, azan magrib mengambang dari kejauhan. Kota terus bergerak, tak peduli pada ritme kecil di dalam rumah kontrakan ini. Namun di ruang sempit itu, Nenden menemukan sakinah versi paling jujur—ketenangan yang lahir bukan dari relasi suami-istri, melainkan dari kehadiran yang utuh.
Ia teringat perdebatan panjang tentang poligami yang pernah ia baca: tafsir Ibnu Katsir tentang keadilan, peringatan Imam Asy-Syafi’i tentang bahaya zalim yang terselubung, hingga pandangan Muhammad Abduh yang menegaskan bahwa kebolehan poligami adalah dispensasi sosial, bukan legitimasi hasrat. Semua itu kini bukan lagi wacana akademik baginya, melainkan pengalaman hidup yang telah membentuk luka.
Daniel pernah berbicara tentang sunnah. Tentang dalil. Tentang keutamaan.
Namun ia lupa satu hal mendasar: kejujuran.
Dalam etika Islam, dusta adalah pintu bagi kerusakan (mafsadah). Dalam psikologi, kebohongan sistematis menciptakan relational trauma—luka yang menghancurkan rasa aman paling dasar. Nenden telah melewati itu. Dan ia bersumpah, tidak akan menyeret anaknya ke dalam kebingungan yang sama.
Nabila tertidur di dadanya. Napas kecilnya teratur. Nenden mengecup keningnya pelan.
Di rumah kontrakan ini—dengan Mbok Rani yang setia, dengan bayi yang bergantung sepenuhnya—Nenden belajar satu kebenaran sederhana yang jarang dibahas dalam kitab atau jurnal: bahwa pulih tidak selalu berarti melupakan, tetapi memahami luka tanpa lagi tunduk padanya.
Inilah madu pahit Nenden.
Manis karena ia pernah percaya.
Pahit karena kepercayaan itu dikhianati.
Namun dari kepahitan itulah, ia menemukan bentuk cinta yang lebih jujur—cinta yang tidak meminta apa-apa selain hadir. (Bersambung ke Bagian IV)


