Senja Temaram di Cipayung – Bagian 1: Pergolakan

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

DI kamar berukuran empat kali lima meter itu, langit-langit tampak seperti kubah sunyi yang menahan segala keluhan Prabu. Lampu tidur menyala temaram, memantulkan bayangan: gelombang yang bergetar halus pada dinding. Di sampingnya, Wina terbaring dengan napas tenang. Ritme tidur yang sudah ia kenal selama hampir 35 tahun pernikahan.

Prabu membuka mata. Bulu matanya bergetar kecil, tanda ia tak sedang mengantuk. Ia hanya kecewa, bukan pada Wina sebagai manusia, tetapi pada jarak yang makin melebar di antara kebutuhan biologis mereka.

“Tubuh manusia,” gumam Prabu dalam hati, “mempunyai kurva hormon yang menurun mengikuti teori homeostasis. Sedang diriku… entah mengapa masih berada di puncak kurva itu.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia mengingat kalimat Einstein: “The measure of intelligence is the ability to change.”

Namun perubahan apa yang harus ia lakukan jika ia tak ingin menghancurkan apa yang telah ia bangun seumur hidup?

Wina memutar badan, menyentuh lengan Prabu dengan sentuhan tipis yang dulu selalu menjadi tanda awal kehangatan. Kini, sentuhan itu lebih mirip pertanda jarak.

“Maaf, Mas… aku capek,” ucapnya pelan sebelum terlelap, sebuah kalimat sederhana yang belakangan terasa seperti dinding lembut yang terus bergerak menjauh.

Prabu memandangi punggung Wina, dan untuk kesekian kali malam ini ia merasa menjadi lelaki yang duduk di perbatasan antara cinta dan kehampaan. Ia tahu, kata “capek” bukan sekadar alasan. Ada bahasa lain yang bersembunyi di baliknya—bahasa tubuh yang tidak lagi sejalan dengan hasrat yang masih hidup dalam dirinya.

Ia pernah membaca, entah dalam jurnal medis mana, bahwa tubuh perempuan berubah drastis setelah masa menopause. Estrogen, hormon yang dulu bekerja diam-diam memberikan kelembutan pada jaringan tubuh, merosot dengan cepat seperti matahari yang tenggelam tanpa jeda. Dan bersama merosotnya hormon itu, ada hal-hal yang ikut meredup: kelenturan, kenyamanan, bahkan kemampuan tubuh untuk menerima sentuhan tanpa rasa sakit.

Para dokter menyebutnya dyspareunia, sebuah nama asing untuk nyeri yang sebenarnya sangat nyata.

Dalam diri Wina, jaringan halus yang dulu menyambut kehangatan kini menipis seperti kertas tua. Elastisitas yang dulu seperti daun muda perlahan berubah menjadi rapuh. Pelumasan alami yang dulu mengalir tanpa diperintah kini tinggal kenangan samar.

Kadang, ketika Prabu menyentuh Wina terlalu lama, ia melihat istrinya menahan napas—bukan karena menahan rindu, melainkan menahan perih.

Betapa getirnya kenyataan itu.
Betapa senyap luka yang tidak pernah ia lihat.

Ia membaca lagi pada suatu malam lengang bahwa aliran darah ke tubuh bagian dalam itu juga berkurang setelah estrogen merosot. Dan ketika aliran darah menyusut, jaringan lembut yang dulu lentur menjadi enggan bekerja sama. Bukan karena Wina menolak dirinya, melainkan karena tubuhnya belajar tegang setiap kali didekati, semacam refleks yang terbentuk dari rasa sakit yang berulang.

Ada istilah lain yang ia temui: Genitourinary Syndrome of Menopause. Istilah panjang yang terdengar seperti nama penyakit di negeri asing. Namun bagi Prabu, ia hanya berarti satu hal: tubuh Wina berubah, dan perubahan itu menyakitkan.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This