Senja Temaram di Cipayung – Bagian 1: Pergolakan

Must Read

Malam kembali turun. Prabu masih duduk di tepi ranjang, dengan tubuh yang mulai terasa berat karena dilema. Apakah ini jalan yang benar? Atau justru pintu menuju kehancuran yang tenang? Apakah poligami akan menyembuhkan batinnya, atau justru merusaknya?

Ia teringat kata-kata Imam Ghazali: “Hati adalah raja. Jika raja rusak, seluruh kerajaan ikut rusak.”

Prabu menunduk. Ia tahu hatinya sedang rusak.


Bukan karena Wina, tetapi karena dirinya sendiri—keinginannya, kekurangannya, dan segala hal yang tidak pernah ia akui dengan jujur selain kepada Tuhan malam ini.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia menatap Wina sekali lagi.

Perempuan itu tidak tahu apa-apa. Tidak mencium badai. Tidak mendengar gemuruh langkah-langkah masa depan yang mendekat perlahan.

Prabu meraih tangan istrinya yang hangat. “Aku berusaha menjaga hatimu,” bisiknya. “Tapi aku juga tak bisa terus mematikan hatiku.”

Itulah pergolakan paling purba: ketika seorang lelaki harus memilih antara setia pada peraturan rumahnya sendiri atau setia pada tubuhnya yang masih berteriak meminta dipahami. Ia tidak tahu jawabannya. Ia hanya tahu bahwa esok, rumah Hidayat akan menjadi pintu yang membawanya ke sesuatu yang tak bisa ia tarik kembali. Dan semua dimulai dari satu pesan pendek, satu rasa kosong yang tidak tertahankan, dan satu bisikan lirih kepada Tuhan yang mungkin menjadi saksi paling jujur atas segala keinginannya. (bersambung ke Bagian 2)

Baca juga: Senja Temaram di Cipayung – Bagian 2: Senandung Cikreteg

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This