Prabu masih menatap Wina yang terlelap, napasnya teratur seperti seorang yang tidak tahu badai apa yang sedang tumbuh di dada suaminya. Selimut naik turun, lembut, seolah hidup tak pernah berubah. Padahal di hati Prabu, dunia retak halus di bagian yang selama ini ia sembunyikan.
Ia meraba dadanya sendiri yang sesak. “Ya Allah… kalau bukan Engkau yang melihat betapa aku berusaha menjaga rumah ini, siapa lagi?”
Sudah lama Prabu bertahan dengan kehampaan yang menggigit pelan-pelan. Ia tahu ini bukan sekadar perkara hasrat; ini perkara keseimbangan jiwa. Lelaki di usianya kadang hanya membutuhkan sentuhan untuk merasa hidup. Dan ketika sentuhan itu hilang, seolah sebagian dirinya memudar.
Namun di saat yang sama, ada rasa bersalah yang menjalar seperti akar ke seluruh sendi.

Bagaimana mungkin ia memikirkan perempuan lain, sementara Wina tidur dengan damai setelah bertahun-tahun menjadi pelabuhan hidupnya?
Setiap kali pikiran itu muncul, Prabu merasa seperti orang yang meminum air asin: semakin haus, semakin tersiksa.
Ia mencoba mengingat kembali dalil-dalil yang selama ini menjadi penyangga logikanya. Poligami bukan sembarang nafsu. Ia tahu itu. Ia mengerti syarat-syaratnya, ia belajar dari kitab kuning, dari ceramah-ceramah para ulama, dari fiqih yang tidak memanjakan laki-laki.
Poligami adalah ujian, bukan hadiah. Dan setiap lelaki yang masuk ke dalamnya harus siap terperosok dalam jurang keadilan yang sulit dijangkau. Tapi pengetahuan itu tidak pernah sanggup menenangkan gelombang malam yang menabraknya berkali-kali.
Sebagian dirinya berkata:
Kau punya hak.
Sebagian lagi membalas:
Tapi apakah kau punya hati?
Prabu memejamkan mata. Ia merasa seperti berdiri di persimpangan yang tak dituliskan dalam kitab mana pun. Sebab kitab bisa mengatur hukum, namun hanya hati yang tahu kadar luka yang mungkin ditinggalkan.
***
Pagi tadi, setelah subuh, ia duduk lama di teras depan. Burung-burung baru mulai bersuara, dan udara dingin menusuk tulang. Di situlah ia merasakan tekadnya membentuk diri seperti kabut yang perlahan menjadi bentuk.
Ia membuka ponselnya. Tangannya bergetar sedikit, bukan karena udara, tetapi karena keputusan yang akhirnya ia sentuh.
Nama Hidayat muncul. Ia tahu, sekali pesan itu dikirim, ia tidak bisa sepenuhnya kembali menjadi Prabu yang lama. “Yat, aku ingin bicara. Tentang yang dulu pernah kau tawarkan.”
Ia menatap layar itu selama hampir satu menit, berharap pesan itu menghapus dirinya sendiri. Tapi tidak. Pesan terkirim.
Jawaban Hidayat datang begitu cepat hingga Prabu tersentak kecil, seolah sahabatnya itu memang sudah menunggu sejak lama. “Baik, Prabu. Kita ketemu di kantor. Aku sudah tahu maksudmu.”
Adakah kalimat yang lebih membuat lutut goyah?
Prabu menutup teleponnya. Ada sensasi pahit ketika ia membayangkan Wina mendengar kabar itu.
Perempuan itu tidak sempurna, tetapi ia selalu setia.
Perempuan itu tak lagi muda, tetapi ia selalu mencintai.
Perempuan itu menua, tetapi ia menua di samping Prabu, bukan di tempat lain. Dan kini ia, Prabu, sedang mempertimbangkan sesuatu yang bisa mengoyak hati perempuan itu sampai ke akar.
***


