Prabu menarik napas panjang ketika pertama kali memahami itu. Ia merasa seperti lelaki yang berdiri di musim kemarau panjang, memandangi sawah yang dulu subur sekarang merekah dan retak-retak.
Dalam buku tebal kedokteran yang ia pinjam dari seorang teman, tertulis bahwa saluran lembut itu bisa memendek dan menyempit, menjadi kurang elastis, sehingga sensasi nyeri muncul bahkan dari gesekan yang paling pelan. Ia sempat menutup buku itu lama, matanya panas, bukan karena marah, tetapi karena sesal: berapa banyak malam yang tanpa ia sadari membuat Wina menahan sakit hanya demi menjaga hatinya?
Namun Wina tak pernah berkata apa-apa.
Ia hanya merapat, menghindar halus, atau mengatakan “capek” dengan suara serak.
Prabu memejamkan mata.
Tiba-tiba ia mengerti banyak hal yang dulu ia pertanyakan.

Wina tidak pernah menolak dirinya.
Wina menolak rasa sakit yang tubuhnya sendiri ciptakan tanpa izin.
Ia juga membaca bahwa nyeri berulang bisa melahirkan ketakutan. Perempuan yang pernah merasa sakit akan menegang bahkan sebelum disentuh. Tubuhnya mengingat, meskipun hatinya ingin lupa. Betapa rumitnya tubuh perempuan—rumit, lembut, dan penuh rahasia yang tidak dicatat dalam kitab mana pun selain kitab waktu.
Di kamar remang itu, Prabu menatap wajah Wina yang tertidur. Garis-garis halus di sekitar matanya adalah garis yang ia cintai bahkan sebelum mereka tumbuh di sana. Rambut yang memutih perlahan adalah bukti setia bahwa mereka telah berjalan bersama dalam dua pertiga hidupnya.
Dan malam-malam seperti ini membuat Prabu paham bahwa ia tidak sedang menunggu pintu yang tertutup karena cinta yang padam.
Ia sedang menunggu pintu yang tertutup karena tubuh Wina memilih bertahan dari rasa sakit yang tidak pernah ia ucapkan.
Prabu menyentuhkan jemari ke dahi istrinya. “Maafkan aku,” bisiknya, meski Wina sudah terlelap.
“Maafkan aku kalau pernah membuatmu menahan nyeri hanya karena aku tidak tahu.”
Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Prabu merasa hatinya kalah—bukan dalam arti buruk, tetapi dalam arti menyerah pada kenyataan bahwa cinta kadang harus belajar berhenti meminta.
Dan malam itu, ketika ia duduk di tepi ranjang memandang Wina, ia tahu bahwa sebagian dari keputusan besar yang akan ia ambil bukan lahir dari keinginan semata, melainkan dari kesadaran: bahwa tubuh perempuan yang ia cintai sedang meminta perlindungan, bukan menjauh.
Malam itu, Prabu merapatkan selimut Wina dengan hati getir. Ia merasakan dirinya dipeluk oleh keheningan yang tidak pernah ia duga akan begitu dingin.
Namun ia tetap diam.
Tetap mencintai.
Tetap memikul pergolakannya seorang diri.
Karena sekarang ia tahu:
ada luka yang tidak berdarah,
ada nyeri yang tidak bersuara,
dan ada cinta yang tetap setia meski tak lagi mampu menyala seperti dulu.
***


