Yuni menutup live itu dan meraih ponselnya. Jemarinya menyentuh layar, cepat dan terlatih. Pesan dikirim ke Hidayat di Tanjung Priok:“Bang… Prabu udah mulai beliin barang Indriani. Udah mulai modus dia.”
Beberapa detik kemudian: “Biarin. Bentar lagi juga mentok.”
Yuni nyengir.
Malam di Gadog seperti gulungan kain wol yang tebal—sunyi, dingin, dan menyimpan simpul-simpul rahasia. Di balik jendela yang tembus pandang, Yuni masih memelototi layar ponselnya. Notifikasi pesan yang baru ia kirim dan balasan yang baru ia terima membuat matanya berbinar nakal.

Di Tanjung Priok, jauh di utara sana, Hidayat merespons pesannya dengan nada meremehkan. Namun di kedalaman matanya, api kecil mulai bernyala. Kebencian memang jarang lahir tiba-tiba. Ia seperti proses pembakaran dalam fisika: butuh oksigen, bahan bakar, dan percikan. Dan Yuni, sadar atau tidak, baru saja menyediakan semuanya.
Di Megamendung, kabut turun perlahan seperti tirai panggung teater. Lembah-lembah hijau terselimuti asap tipis yang membuat pepohonan tampak melayang di udara. Para petani sayur menutup lumbung, unggas kembali ke kandang, dan jalanan mulus yang membelah bukit tampak berkilau oleh embun.
Sementara itu, Prabu berada di Kopi Lao Cisarua, duduk di sudut kafe. Di luar, kabut turun begitu rendah hingga seperti bisa disentuh.
Ia memutar gelas jahe panas di tangannya. Uapnya naik perlahan, membias di cahaya lampu, sama seperti pikirannya—yang selama enam puluh tahun selalu stabil seperti batu karang—yang kini berubah menjadi lautan dengan gelombang yang tak menentu.
Indriani.
Nama itu muncul seperti gema di ruang sunyi, tak pernah selesai kembali.
Sebagai akademisi, ia tahu betul kata-kata Ibn ‘Arabi: “Hati manusia adalah padang luas yang tak bisa dipagari logika.”
Namun ia juga ingat peringatan al-Ghazali bahwa nafsu harus dikendalikan oleh akal, seperti kuda liar yang perlu kekang agar tidak menyeret pemiliknya ke jurang. Prabu bukan lelaki muda yang mudah terseret pesona. Ia percaya dirinya kokoh oleh usia dan ilmu.
Lalu mengapa jiwanya goyah?
Pertanyaan itu berputar seperti bandul Foucault—bergerak stabil, namun keberadaannya justru membuktikan seluruh bumi sedang berubah. Begitu pula batinnya: tenang di permukaan, tetapi ada pergeseran besar di kedalaman yang tak terlihat siapa pun.
Sementara itu, Indriani mengakhiri live di marketplace dengan senyum penuh kehangatan. Cara ia mengangkat baju, memutar kain, dan menyapa penonton—semuanya natural, seakan ia diciptakan untuk menyenangkan orang yang menatapnya.
“Terima kasih Kak Prabu,” katanya ketika membaca nama pembeli.
Nada itu ringan, tetapi bagi Prabu, sapaan itu seperti mengetuk pintu lama yang tak pernah ia buka lagi sejak bertahun-tahun lalu.
Ponsel Prabu bergetar. Indriani menelepon. “Mas di mana?” suaranya lembut, dengan getaran keakraban yang baru tumbuh.
“Di Kopi Lao. Nunggu Ronaldo,” jawab Prabu santai.
Ia melirik pintu kaca yang berembun. Suara denting sendok dan gelas terdengar samar. Malam di Cisarua seperti menahan napas, mendengarkan percakapan itu.
“Bisa ke sini?” Prabu bertanya hati-hati.
“Maaf Mas, nggak bisa. Saya harus masak buat anak-anak,” ujar Indriani.
Jawaban sederhana, tetapi justru itulah yang menggetarkan Prabu. Ia perempuan yang tidak pernah melepaskan tanggung jawabnya. Dan tanggung jawab sering lebih memikat daripada kecantikan.
“Mas… terima kasih sudah beli baju,” tambahnya. “Saya senang.”
Prabu tersenyum, meski Indriani tak melihat. “Padahal cuma satu,” ujarnya ringan.
“Bukan jumlahnya, Mas… tapi perhatian orang yang membelinya.”
Kata-kata itu melayang seperti bulu kecil yang jatuh ke permukaan air—tampak kecil, tapi riaknya menjalar jauh.
Indriani pamit. Telepon terputus. Keheningan perlahan menutup ruang di sekeliling Prabu.
Prabu bersandar, menatap lampu-lampu yang berbayang di tengah kabut. Aroma kopi Arabika Gunung Salak memenuhi ruangan. Angin dari celah pintu membawa suara serangga malam—menghadirkan kesunyian yang puitis dan gelisah.
Dalam ingatannya, Wina tadi pagi membuatkan air hangat dengan penuh perhatian—ritual cinta yang telah mereka jalani puluhan tahun. Kesetiaan itu begitu kuat. Namun kini, ada sesuatu yang lain. Bukan pengganti, bukan pesaing, tetapi… percabangan takdir yang tiba-tiba terbuka.
Ia mengingat Omar Khayyam: “Hati manusia, jika diberi dua jalan, sering memilih yang membuatnya paling bergetar.”
Dan getaran itu kini hadir—tak bisa ia mungkiri, tak bisa ia redam.
Kabut di luar semakin tebal. Seolah-olah alam ikut menyembunyikan perubahan yang sedang terjadi. Prabu tidak tahu bahwa percakapan kecil malam itu… telah membuka pintu yang tidak akan pernah menutup kembali. (Bersambung ke Bagian 12)


