Senja Temaram di Cipayung — Bagian 11: Kemeja

Must Read

Kabut Cipayung belum sepenuhnya terangkat ketika Prabu melangkah pergi dari warung kopi kecil itu. Cahaya pagi merayap pelan di antara batang-batang pinus, membuat embun yang melekat di daun teh berkilau bagai serpihan kaca.

Di kejauhan, punggung Gunung Pangrango berdiri kukuh, namun masih diselimuti kelembutan putih yang turun perlahan dari puncaknya. Udara basah selepas hujan membawa aroma tanah yang menenangkan, meninggalkan jejak halus di jaket Prabu seolah alam ingin merekam langkahnya. Ia berjalan perlahan, membiarkan pikirannya tersapu dingin gunung—tanpa pernah menyadari bahwa dari balik helm pengendara yang berhenti di tikungan, ada sepasang mata yang mengamatinya dengan penuh minat.

Tanjung Priok – Sore Hari

Di sebuah kamar yang hanya ditemani kipas angin tua berdengung tak pasti, Hidayat duduk gelisah menunggu pesan balasan. Udara utara Jakarta yang menyesakkan terperangkap di dinding-dinding sempit kamar itu, membuatnya tak betah duduk namun terlalu resah untuk beranjak. Ketika notifikasi WhatsApp berbunyi, ia segera meraihnya, seperti orang yang menemui oase dan baru sadar air yang diteguknya payau.

Milad 117 H Muhammadiyah

 “Aku udah liat mereka.”

Pesan dari Yuni. Pesan berikutnya masuk sebelum ia sempat bertanya. “Mereka ketemu di warung kopi Cipayung. Yang ada bougainville ungu itu.”

Nama tempat itu saja sudah menyalakan kecemburuan dalam dada Hidayat. Ia langsung mengetik: “Terus? Ceritain.”

Di Gadog—tempat Yuni tinggal—hujan baru selesai turun. Jalan kecil yang melintasi pemukiman itu licin dan berkilau, dipenuhi aroma rumput basah yang naik dari kebun-kebun warga. Yuni duduk santai di kursi plastik biru sembari memainkan kuku ibu jarinya. Senyumnya kecil, namun caranya mengetik cepat mengisyaratkan kepiawaiannya merangkai cerita sesuai kebutuhan.

 “Kayaknya Indriani gak mau sama Prabu. Dia keluar duluan, gak nunggu. Jalan ngebut. Prabu cuma duduk bengong. Gak nganter. Definisi ditolak.”

Hidayat merasa ada semacam angin kemenangan berdesir di dadanya. Ia menggulung ujung sarung yang dipakainya, mencoba tampak santai padahal jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.“Pantes. Mana mungkin Indriani mau sama dia hahahaha.”

Ia tertawa pelan, tidak menyadari bahwa tawa kecil sering kali merupakan gerbang menuju bencana. Prabu pernah mengutip Carl Jung dalam diskusi mereka dulu: “Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.” Dan kini, Hidayat sedang berjalan tepat menuju takdir yang dibangun dari kedangkalan pikirannya sendiri.

Tak lama berselang, ponselnya berbunyi lagi.“Bang… aku mau ke rumah Indriani. Biar jelas semua.”

Hidayat mengangkat alis. “Halah. Kamu mau bantu atau mau minta ongkos?”

Balasan Yuni datang cepat, disertai emotikon tergelak.“Ya masa jalan kaki dari Gadog? Hujan begini. Hehe. Ongkosnya dong.”

Hidayat mendesah. Ia membuka aplikasi banknya. Tiap angka yang ia tulis terasa seperti koin terakhir dari kantong harga dirinya, tapi tetap ia kirim. Ketika notifikasi transfer masuk ke ponsel Yuni, perempuan itu melengkungkan senyum puas—senyum kecil orang yang menikmati permainan di balik layar.

***

Pada waktu yang sama di Cipayung.

Prabu memarkir mobilnya di sebuah tepi tebing kecil, tempat pemandangan lekuk-lekuk alam Cipayung tersaji seperti lukisan hidup. Asap tipis dari dapur rumah-rumah kayu merayap naik ke langit, berpadu dengan kabut yang turun pelan, menebarkan ketenangan aneh yang membuat Prabu terdiam lama.

Ia membuka jendela sedikit—cukup untuk membiarkan udara gunung masuk dan menggigilkan perasaannya. Prabu sedikit melamun dan lamunan Prabu terbang ke wajah Indriani, ke suara lembutnya yang mengatakan: “Mas… kita kenal dulu. Saya gak suka buru-buru.”

Ia menarik napas panjang yang berat namun menenangkan. “Indriani benar,” gumamnya. “Semua proses butuh waktu. Bahkan air pun harus mencapai suhu tertentu untuk berubah menjadi uap. Tidak ada dorongan instan yang menghasilkan bentuk yang lebih baik.”

Ia memikirkan teori entropy yang pernah ia baca. Sistem yang kacau bisa menuju keteraturan bila diberi energi tepat dan waktu yang cukup. Ia mengangguk pelan, seolah sedang berdialog dengan dirinya sendiri: “Hubungan manusia pun begitu.”

Perasaannya menghangat—hangat yang jujur, bukan gelap. Tapi hangat itu rapuh, seperti uap yang mudah hilang jika ditiup angin.

Dan tanpa ia sadari, di Gadog, Yuni sedang memintal cerita yang bengkok. Di Tanjung Priok, Hidayat sedang menunggu celah untuk membakar bara kecil dalam hatinya. Dan di antara kabut yang kian menebal, alam seperti menyembunyikan bab baru yang siap mengubah hidup Prabu.

Kabut Megamendung turun perlahan, membungkus hari itu dengan misteri. Prabu, dalam kesenyapannya, tidak tahu bahwa langkahnya baru saja memasuki jalan hidup yang tidak akan pernah kembali ke bentuk lamanya.

***

Serangan Pesawat Nirawak di Gaza Tengah Tewaskan Dua Warga

JAKARTAMU.COM | ​Korban jiwa di jalur Gaza kembali berjatuhan. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas dan empat lainnya mengalami...

More Articles Like This