Senja Temaram di Cipayung — Bagian 11: Kemeja

Must Read

Indriani sedang live di marketplace.

Lampu ring light kecil memantulkan cahaya lembut di wajah Indriani. Ia berdiri di depan rak baju sederhana, tubuhnya bergerak luwes, suaranya ramah, matanya cerah, seolah dunia tak pernah memberinya luka. Ada ketenangan dalam suaranya, ketenangan yang lahir dari perempuan yang bekerja keras bukan demi gaya, tetapi demi hidup.

“Ini bagus, Kakak… bahannya adem, jatuhnya cantik banget,” katanya pada salah satu penonton.

Yuni yang mengikuti live itu di kamarnya mendecak. Setitik iri berputar dalam hatinya, tapi tak ia akui. Ia menyalakan sebatang rokok, menghembuskan asap yang bercampur dengan aroma tanah basah yang masuk dari jendela.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Sok manis,” gumamnya.

Namun yang membuat Yuni lebih tidak nyaman bukan senyum Indriani—melainkan jumlah penontonnya yang semakin bertambah. Dan salah satu nama pembeli yang tiba-tiba muncul di layar memberikan kejutan kecil: Prabu W. – telah membeli 1 item.

Pada saat Prabu masih di Cipayung, notifikasi belanja muncul di layar ponselnya. Ia menekan ikon tautan yang dikirim sebelumnya dikirim Indriani, hanya dengan niat sekadar melihat. Namun ketika wajah Indriani muncul di layar, lengkap dengan suara ramah dan gerak tangannya yang penuh energi, dadanya menghangat seperti terkena sinar matahari yang menembus kabut.

Ia melihat Indriani tersenyum, mata perempuan itu memancarkan kehidupan yang menular. Tanpa pikir panjang, Prabu menekan tombol “Beli”.

Sebaris tulisan muncul:

Anda membeli: Kemeja Pria Lengan Panjang – Warna Coklat Kopi

Indriani berhenti sebentar saat pemberitahuan itu muncul di layar live-nya. Matanya membesar sedikit, bibirnya terangkat membentuk senyum yang tak bisa ia sembunyikan.

“Terima kasih, Kak Prabu!” serunya dengan suara yang lebih cerah dari sebelumnya.

Prabu tertegun. Ada sesuatu dalam cara Indriani menyebut namanya—bukan manja, bukan menggoda, tetapi tulus, seperti orang yang menghargai rezeki yang datang setelah kerja keras panjang.

Ia menarik napas. Dalam kehidupan yang sudah melewati enam dekade, jarang ada momen kecil yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tapi sore itu, di antara kabut dan udara dingin, ia merasakannya.

Prabu teringat ucapan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin: “Hati manusia ibarat cermin; ia kusam bukan karena gelap, tetapi karena terlalu banyak debu dunia yang menempel.”

Indriani, tanpa sadar, sedang menghapus satu lapis debu dari cerminnya.

Ia juga teringat analogi fisika tentang dopamine reward system, bahwa manusia cenderung mengejar hal yang menghasilkan respon kecil tapi konsisten. Dan sore itu, suara Indriani menjadi stimulus sederhana yang menimbulkan gelombang kecil dalam dirinya.

“Ini berbahaya,” gumamnya.

Namun senyuman itu kembali muncul di kepalanya.

“Dan indah.”

Ia membuka halaman lain dari Tuhfatul Muhtaj. Bacaan tentang poligami mengatakan: “Adil bukanlah persamaan matematis, tetapi kemampuan menimbang perasaan dengan jujur.”  Ia tahu, bila ia melangkah ke arah yang salah, satu hati bisa patah—hatinya, hati Indriani, atau bahkan hati Wina yang menunggunya di rumah.

Ia menutup buku itu, menatap layar ponsel lagi. Indriani sedang tertawa kecil bersama para penontonnya.

Prabu memijat pelipis. “Ya Rabb… aku harus berhati-hati.”

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This