Senja Temaram di Cipayung — Bagian 11: Kemeja

Must Read

Hari Minggu bergerak pelan, seolah enggan melepaskan sisa-sisa kehangatan ulang tahun Prabu yang ke-60. Bekasi Utara diguyur hujan tipis sejak subuh; tiap tetes air yang jatuh ke genting terdengar seperti ketukan halus dari masa lalu—menggulirkan ingatan, membuka pintu-pintu batin yang biasa ia tutup rapat.

Wina sibuk di dapur, menyiapkan bubur ayam kesukaan Prabu. Aroma kaldu yang gurih memenuhi ruangan, lembut dan menenangkan. Prabu duduk di meja makan, memandangi mangkuk bubur itu, tapi pikirannya seperti burung yang terbang jauh, meninggalkan tubuhnya diam di kursi.

Senyum sempat hinggap di bibirnya, lalu padam. Karena hatinya tidak berada di meja makan. Hatinyalah yang berkeliaran di lorong-lorong batin, gusar seperti seseorang yang menunggu kabar dari arah yang tak terlihat.

Teleponnya bergetar.

Milad 117 H Muhammadiyah

Satu pesan.

“Selamat ulang tahun yang ke-60, Mas Prabu. Maaf baru bisa ucapkan hari ini. Boleh saya ketemu nanti? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.” – Indriani

Degup jantung Prabu berat, seperti gong besar yang hanya dipukul sekali namun getarannya lama menggantung di udara.

Ia membaca pesan itu tiga kali—seperti seseorang memastikan cahaya di kejauhan bukan hanya fatamorgana.

Indriani ingin bertemu. Indriani menghubungi duluan. Dan… ia ingin menyampaikan sesuatu.

Prabu menutup layar ponsel. Embun di kaca jendela tampak seperti tulisan-tulisan takdir yang belum ia mengerti. Wina memanggil dari dapur, tetapi suaranya terdengar jauh—terpisah oleh kabut yang perlahan muncul di hati Prabu.

Ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba bangkit dan menuntut ruang.

Siang hari, Prabu pamit kepada Wina. Katanya: ingin mengambil berkas pekerjaan.

Itu tidak bohong. Hanya tidak seluruh kebenaran.

Ia mengendarai mobil menuju Cipayung, Megamendung—desa di lereng pegunungan yang selalu diselimuti angin dingin dan ketenangan yang jatuh dari arah Puncak.

Perjalanan 1,5 jam itu terasa seperti perjalanan melintasi dua babak hidupnya: Satu di belakang: rumah, Wina, kedewasaan yang mapan. Satu di depan: Indriani, kemungkinan yang samar, masa depan yang belum bernama.

Setelah keluar dari Tol Jagorawi, udara berubah. Aroma tanah basah dan kabut dari Gunung Pangrango memenuhi kabin mobil. Pohon-pohon pinus Megamendung berdiri tegap seperti penjaga tua yang mengetahui rahasia semua orang yang lewat.

Cipayung menyapanya dengan jalan kecil yang meliuk, sawah bertingkat yang berkilau kehijauan, dan suara sungai kecil yang mengalir jernih dari hulu.

Warung kopi tempat pertemuan itu berada di tepi jalan menanjak—sederhana, namun halaman depannya dihiasi bougainville ungu yang menunduk seperti tirai alam yang merestui pertemuan dua hati.

Indriani sudah menunggu di sudut.

Baju pastel, jilbab lembut, tampak lebih teduh daripada saat terakhir mereka berbicara lewat video call. Ada ketenangan di matanya, namun Prabu juga menangkap sehelai kegelisahan yang bersembunyi.

Ketika Prabu masuk, Indriani berdiri.

“Mas Prabu… selamat ulang tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu.”

Nada suaranya adalah nada seseorang yang tulus—yang memanggil sisi terdalam Prabu, sisi yang sudah lama tidak disentuh oleh kehangatan baru.

Mereka duduk.

Beberapa detik berlalu tanpa kata-kata. Tapi keheningan itu bukan keheningan asing; lebih seperti dua hati yang sedang menimbang arah angin takdir.

Prabu memandang Indriani yang tersenyum lembut.

Dengan suara hampir berbisik, ia berkata: “Saya… merindukanmu.”

Wajah Indriani memerah. Senyumnya goyah—antara bahagia dan malu.

Prabu melanjutkan, “Bagaimana jawabanmu soal tawaran saya waktu itu?”

Indriani menautkan jemari, wajahnya berubah serius. “Mas bilang ingin hubungan yang halal dan sehat… tapi apakah harus buru-buru? Kenapa kita tidak saling kenal lebih dalam dulu?”

“Sampai kapan?” Prabu menatapnya, suaranya jujur dan tak ditahan.

“Sampai kita merasa cocok,” jawab Indriani pelan.

“Saya dengan istri saya dulu tidak pacaran. Tiga bulan kenal, langsung menikah,” kilah Prabu.

Indriani menghela napas kecil. “Kita baru saling mengenal… sepekan, Mas.”

Prabu menatapnya dengan ketegasan yang lembut. “Yang saya minta cuma kepastian. Kamu… mau menikah dengan saya?”

Pertanyaan itu menggantung lama di udara. Indriani terdiam. Bukan menolak. Bukan mengiyakan. Lebih seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu agar tidak pecah. Akhirnya ia berkata: “Kita saling mengenal dulu, ya Mas… tapi prinsipnya, saya sudah merasa nyaman dekat dengan Mas.”

Kalimat itu membuat wajah Prabu cerah; bukan bahagia meledak, tetapi bahagia yang hangat—yang tumbuh perlahan namun dalam. Indriani menatapnya, matanya berkilat lembut.

“Mas… boleh jujur?”

“Boleh,” jawab Prabu.

“Semalam saya tidak bisa tidur. Karena saya merasa… ada perubahan besar yang sedang bergerak ke arah hidup saya.”

Prabu menunggu.

“Mas itu… berbeda. Cara bicara Mas tenang. Mas ngerti agama, ngerti ilmu dunia. Saya masih ingat Mas kutip Imam Ghazali waktu kita diskusi. Entah kenapa… Mas membuat saya ingin mengenal lebih jauh.”

Kata-kata itu seperti embun yang menetes ke hati Prabu. Tiba-tiba ia teringat ucapan Ibnu Qayyim: “Hati yang jujur akan mengenali hati yang jujur pula, bahkan sebelum kata-kata terucap.”

Prabu memandang mata Indriani. Ada kedamaian di sana. Ada ruang aman yang tak bisa ia jelaskan dengan logika. Namun bersamaan dengan itu, ada beban moral yang menekan dada.

Ia menunduk, mendengar gema ayat yang dulu sering ia baca: “Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka satu saja.”

Ayat itu bukan teguran. Itu pagar. Itu cermin. Itu ujian. Dan ia juga ingat pendapat para fuqaha: ‘Keadilan bukan sama rasa, tapi sama tanggung jawab’. Dan itu… bukan hal ringan.

Indriani bangkit dari duduknya. Langkahnya lembut, perlahan, meninggalkan jejak tipis di tanah basah Cipayung—sebuah jejak yang seolah akan tetap hidup di ingatan Prabu selamanya.

Prabu hanya duduk diam. Menatap kabut gunung yang turun dari punggung Pangrango. Menatap jalan berliku di depan warung kopi itu. Menatap masa depan yang tiba-tiba mendekat tanpa permisi.

Dan ia tahu satu hal: Benang takdir yang kemarin samar, hari ini berubah menjadi garis tebal. Dan ia sudah berada di tengah-tengahnya.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This