Madu Pahit Nenden — Bagian 14: Ahza

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

WAKTU, dalam perspektif fisika relativistik, mungkin bersifat relatif, namun bagi Nenden, ia mengalir seperti pasir hisap yang perlahan namun pasti menelan ketenangannya. Beberapa tahun pertama adalah fase homeostasis—sebuah keseimbangan yang indah. Nabila tumbuh dengan gizi kasih sayang yang cukup, memasuki sekolah dasar dengan ransel merah muda dan senyum yang merepresentasikan teori tabula rasa John Locke; selembar jiwa bersih yang mulai terisi narasi tentang figur ayah yang hangat pada sosok Andrinov.

Namun, hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa setiap sistem tertutup cenderung menuju entropi atau kekacauan. Kekacauan itu mengetuk pintu rumah mereka pada suatu malam yang lembap.

Suara kunci yang beradu dengan lubangnya terdengar kasar, merusak kesunyian dini hari. Ketika pintu terbuka, aroma etanol yang tajam—hasil fermentasi yang mengkhianati fungsi biologis tubuh—menyeruak masuk, mengalahkan wangi melati di sudut ruangan. Andrinov masuk dengan langkah limbung, matanya merah menunjukkan dilatasi pupil yang tak wajar.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Abang… kamu mabuk?” suara Nenden bergetar, berdiri di ambang pintu dengan mukena yang masih melekat.

Tanpa sepatah kata, Andrinov menghempaskan tas kerjanya hingga vas bunga di atas meja rias pecah berkeping-keping. Dengan gerakan tremor, ia merogoh saku celananya, dan sebuah plastik klip kecil berisi pil aneh terjatuh ke lantai. Dalam dunia farmakologi, butiran itu adalah zat psikoaktif yang menjanjikan dopamin instan namun menghancurkan sinapsis moral. Ia kemudian melempar tubuhnya ke kasur, membiarkan gravitasi mengambil alih raga yang kehilangan nakhoda itu.

Pagi harinya, cahaya matahari yang menyusup lewat celah gorden tampak seperti interogator yang kejam bagi mata Andrinov yang hangover.

“Maafkan aku, Nenden… aku khilaf,” bisik Andrinov parau, duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk.

Nenden menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan—perpaduan antara kasih sayang yang tersisa dan kekecewaan yang mendalam. Ia teringat pesan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa khamr adalah “induk dari segala kejahatan” (Ummul Khaba’ith) karena ia melumpuhkan ‘aql (akal), satu-satunya instrumen manusia untuk mengenal Tuhannya.

“Bang, maaf adalah kata benda yang tidak ada artinya tanpa kerja nyata,” ujar Nenden lembut namun tegas. “Sejak keluarga besarmu menarik dukungan sosiologis dan finansial mereka, kau kehilangan orientasi. Kau merasa terbuang, tapi kau justru memilih membuang dirimu lebih jauh ke dalam botol dan pil itu.”

“Tanah Abang sedang sepi, Nenden!” suara Andrinov meninggi, namun penuh nada putus asa. Hukum pasar Adam Smith seolah bersekongkol menjatuhkan Andrinov. “Aku dianggap sampah oleh keluargaku karena memilihmu. Aku mulai berpikir… apakah kebersamaan kita ini memang sebuah kekeliruan perhitungan?”

Nenden terdiam. Kalimat terakhir itu terasa seperti reaksi eksotermik yang membakar relung hatinya. Di luar, Cibubur tetap bising. Tanah Abang yang dulu menjadi ladang emas bagi Andrinov, kini terasa seperti labirin yang menyesakkan akibat pergeseran paradigma ekonomi digital yang tak mampu ia ikuti.

Andrinov kini adalah manifestasi dari konsep The Stranger milik Albert Camus—seorang lelaki yang merasa asing di dunianya sendiri, terasing dari keluarga ningratnya, dan kini mulai merasa terasing dari cinta yang dulu ia perjuangkan. Pilihan hidupnya kini ia pandang melalui lensa distorsi depresi; sebuah kesalahan fatal yang mengakhiri kenyamanan kelas sosialnya.

Nenden memandang Nabila yang sedang asyik mewarnai di ruang tengah. Ia menyadari satu hal: Madu pernikahan mereka memang tetap madu, namun kini ia telah terkontaminasi oleh empedu realitas yang sangat pahit.

“Bang,” ucap Nenden pelan sebelum meninggalkan kamar, “Jika kau membangun rumah di atas pasir hisap keraguan, jangan salahkan pondasi jika kita tenggelam. Pilihan itu ada di tanganmu, bukan pada nasib atau sepinya pasar.”

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This