Mobil taksi itu berhenti perlahan di depan halaman rumah Iis di Cipayung. Udara pegunungan yang dingin menusuk pori-pori, namun tak sedingin kekosongan yang dirasakan Nenden di dadanya. Dengan susah payah, ia turun sambil memegangi perutnya yang kian menonjol, sementara Nabila menyeret tas kecilnya dengan langkah gontai.
Iis sedang menyiram tanaman pucuk merah di teras ketika matanya menangkap siluet putrinya. Ia menjatuhkan selang air begitu saja. Air meluber membasahi tanah, menciptakan aroma petrikor yang tajam, namun Iis tak peduli. Ia melihat mata Nenden yang sembab—sebuah fenomena peradangan pada jaringan periorbital akibat pecahnya pembuluh kapiler karena tangis yang berkepanjangan.
“Nenden…” Iis mendekat, langkahnya gemetar.
Nenden tak sanggup berucap. Ia hanya menunduk, membiarkan hukum gravitasi menjatuhkan air matanya ke tanah Cipayung. Dalam sosiologi keluarga, kembalinya seorang anak dalam kondisi hancur adalah ujian bagi struktur ketahanan domestik.

Iis memeluk putrinya erat. Ia merasakan detak jantung Nenden yang tak beraturan, sebuah takikardia emosional. Sebagai ibu yang memegang teguh falsafah Sunda, Iis tidak langsung memberondongnya dengan pertanyaan. Ia teringat prinsip “Pait daging pahit getih,” bahwa penderitaan anak adalah penderitaan ibu juga.
“Sudah, masuk dulu. Ulah ceurik di buruan, malu dilihat tetangga,” bisik Iis lembut, menuntun Nenden masuk.
Di dalam rumah, Isma menyambut dengan isyarat tangan yang penuh kecemasan. Nenden duduk di amben kayu, memandang perutnya yang berusia lima bulan. Di sana, ada kehidupan yang sedang melakukan proses organogenesis sempurna, namun ayahnya justru sedang mengalami degradasi moral di beton Jakarta.
“Mama tidak akan bertanya kenapa,” ujar Iis sambil menyodorkan segelas air hangat. “Tapi Mama tahu, janji laki-laki itu seperti kabut di Puncak; kelihatan tebal tapi hilang ditiup angin sedikit saja.”
Nenden meminum air itu perlahan. “Nenden menyerah, Ma. Nenden tidak mau anak ini lahir dalam asap shabu.”
Iis mengusap rambut Nenden. “Dulu Mama bilang, ulah gumantung ka mahluk. Sekarang kamu rasakan sendiri. Tapi tenang saja, di sini ada Mama, ada Isma. Rezeki janin ini sudah diatur oleh Gusti Allah. Kita akan berdiri di atas kaki sendiri.”
Bulan-bulan berikutnya di Cipayung adalah masa rehabilitasi psikis bagi Nenden.
Keputusan medis itu jatuh seperti vonis yang tak terelakkan di ruang periksa yang beraroma antiseptik tajam. Dokter spesialis obstetri itu menatap hasil rekam medis Nenden dengan dahi berkerut. Diagnosanya rigid: Partus abnormalis. Riwayat asma bronkial yang diderita Nenden bukan sekadar catatan kaki; ia adalah variabel risiko yang fatal.
“Kondisi paru-paru Anda tidak akan sanggup menanggung beban valsava maneuver saat mengejan, Bu Nenden,” ujar Dokter dengan nada otoritatif. “Oksigenasi ke janin bisa terhenti, dan status asthmaticus akan membahayakan nyawa Anda berdua. Operasi sesar adalah satu-satunya jalan keluar logis.”
Nenden tertegun. Secara ilmiah, sesar atau sectio caesarea memang prosedur penyelamatan, namun secara finansial, itu adalah tembok besar. Ketika ia memeriksa kepesertaan BPJS-nya, kenyataan pahit menghantam: statusnya nonaktif. Andrinov, yang memegang kendali atas anggaran rumah tangga di Cibubur, telah abai membayar premi bulanan selama berbulan-bulan. Dalam teori ekonomi keluarga, ini adalah bentuk financial abuse—pengabaian tanggung jawab yang melumpuhkan kedaulatan pasangan.
Biaya operasi mandiri di rumah sakit bukanlah angka yang mampu dijangkau oleh simpanan tipis hasil dagang di Cipayung. Nenden berada dalam dilema eksistensial. Ia Demi nyawa di rahimnya, Nenden terpaksa menurunkan ego, menelan kembali harga dirinya yang sudah setinggi langit Puncak. Ini sesuai dengan ucapan Imam Syathibi dalam konsep Maqashid Syariah, bahwa menjaga nyawa (hifzhun nafs) menempati urutan teratas setelah menjaga agama.
Dengan jemari gemetar, ia menghubungi Andrinov. Di seberang telepon, suara Andrinov terdengar begitu riang, sebuah euforia yang sulit dibedakan antara rasa rindu atau efek dopamin artifisial.
“Abang akan urus semuanya, Sayang. Lima juta, sepuluh juta, bukan masalah,” ujar Andrinov enteng. Tanpa menunda, ia melunasi tunggakan itu. Uang bagi Andrinov saat itu seolah sekadar angka digital yang bisa dimanipulasi, selama itu bisa membawanya kembali pada posisi tawar yang kuat.
Namun, dalam dunia Andrinov, tidak ada makan siang yang gratis. Setiap bantuan adalah transaksi. Quid pro quo.
“Satu syarat,” suara Andrinov mendadak berat saat mereka bertemu di koridor rumah sakit beberapa hari kemudian. “Setelah bayinya lahir dan kau pulih, kau dan Nabila harus kembali ke Cibubur. Abang tidak mau punya anak yang besar di gunung tanpa ayahnya.”
Nenden menatap wajah suaminya. Ada gurat kelelahan di sana, namun juga ada kilatan obsesif. Nenden teringat falsafah Sunda, “Caina hérang, laukna beunang,” menyelesaikan masalah tanpa membuat kekeruhan. Ia mencoba bernegosiasi dengan sisa-sisa kekuatannya.
“Nenden mau kembali, Bang. Tapi ada syarat yang jauh lebih penting dari sekadar tempat tinggal,” suara Nenden bergetar namun tajam. “Abang harus tobat. Berhenti total dari obat-obat itu. Nenden tidak mau anak kita menghirup udara yang sama dengan racun itu.”
Andrinov tidak marah. Ia juga tidak bersumpah. Ia hanya menyeringai, sebuah “cengir kuda” yang menyebalkan—gestur yang dalam psikologi perilaku sering kali menandakan ketidakseriusan atau bahkan peremehan terhadap sebuah komitmen moral.
“Kita bicarakan itu nanti,” jawab Andrinov enteng, matanya beralih ke layar ponselnya.
Nenden merasa seolah baru saja menandatangani kontrak dengan kegelapan demi sebuah napas bagi bayinya. Filsuf Friedrich Nietzsche berucap: “Terkadang orang tidak ingin mendengar kebenaran karena mereka tidak ingin ilusi mereka hancur.” Nenden tahu ia sedang membangun kembali ilusi kedamaian demi keselamatan biologis.
Malam sebelum operasi, Iis menjenguknya. Sang ibu hanya mengelus dahi Nenden. “Nenden, ulah lali ka purwadaksi. Jangan lupa pada jati diri dan asal-usul. Kalau nanti di sana kamu merasa seperti di neraka lagi, pintu Cipayung tidak akan pernah Mama kunci.”
Nenden hanya bisa mengangguk pasrah. Ia akan masuk ke ruang operasi besok pagi, mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kehidupan baru, sambil menyadari bahwa ia baru saja menggadaikan kemerdekaannya kembali kepada lelaki yang memandang janji suci hanya sebagai lelucon di sela hisapan shabu. Madu itu kini benar-benar menjadi obat yang paling pahit untuk ditelan.
***


