Madu Pahit Nenden — Bagian 14: Ahza

Must Read

Rumah di kawasan Cibubur itu, dengan arsitektur modern yang fungsional namun terasa dingin, menjadi saksi bisu atas sebuah drama eksistensial yang sunyi. Usai prosedur bedah sesar yang meninggalkan sayatan linear di perutnya—sebuah pengingat permanen akan pertaruhan nyawa yang hampir saja kalah oleh asma yang mencekik—Nenden akhirnya menyerah pada takdir untuk kembali ke pelukan “beton” kehidupan Andrinov. Ia seperti partikel yang terjebak dalam gaya tarik gravitasi yang tak terelakkan, meski ia sadar bahwa pusat massanya adalah sebuah lubang hitam yang siap menelan apa saja.

Kehadiran Ahza, bayi laki-laki yang lahir dengan garis wajah yang nyaris identik dengan Andrinov, menjadi episentrum baru bagi Nenden. Secara biologis, Ahza adalah perpaduan genetik yang luar biasa; mata yang tajam dan garis rahang yang tegas. Namun bagi Nenden, wajah bayi itu sering kali menjadi cermin yang menyakitkan, sebuah pengingat harian akan lelaki yang telah menghancurkan rasa percayanya. Nama Ahza, yang dalam bahasa Arab berarti “yang beruntung”, seolah menjadi doa di tengah kepungan kemalangan yang kian memadat.

Nabila, yang kini telah menginjak usia sembilan tahun, bertransformasi menjadi sosok kakak yang penuh dedikasi melampaui usianya. Di saat teman-teman sebayanya di kelas tiga sekolah dasar masih asyik dengan dunia permainan, Nabila sudah memahami cara menenangkan adik bayinya. Ia adalah manifestasi dari falsafah Sunda, “Silih asah, silih asih, silih asuh.”

Ia mengasah kesabarannya, mengasihi adiknya dengan tulus, dan membantu Bundanya mengasuh kehidupan kecil itu. Nenden sering menatap Nabila dengan rasa haru sekaligus sesal; ia melihat seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, sebuah fenomena yang dalam psikologi disebut sebagai parentification.

Milad 117 H Muhammadiyah

Sementara itu, Andrinov masih terjebak dalam ritme trans-nasional yang melelahkan. Rutinitas lima belas hari di Jakarta dan lima belas hari di Kuala Lumpur untuk mengurus toko tekstilnya di Malaysia tetap berjalan tanpa henti. Secara ekonomi, Andrinov tampak seperti pilar yang kokoh, seorang saudagar yang berhasil menaklukkan pasar regional. Namun secara spiritual, ia adalah kerangka yang keropos, dimakan dari dalam oleh adiksi yang tak kunjung padam.

Di balik dinding kamar yang tertutup rapat, terjadi sebuah boikot batin yang membeku. Sejak kehamilan lima bulan hingga Ahza lahir dan kini mulai tumbuh, tak sekalipun Nenden mengizinkan Andrinov menyentuh raganya. Dalam perspektif hukum pernikahan, tindakan ini mungkin dipandang sebagai nusyuz oleh sebagian orang, namun bagi Nenden, ini adalah bentuk self-preservation atau perlindungan diri yang paling mendasar. Filsuf Simone de Beauvoir berucap: “Seseorang tidak lahir sebagai wanita, tetapi menjadi wanita.” Dan Nenden telah menjadi wanita yang sadar bahwa harga dirinya tidak bisa ditukar dengan kenyamanan materi.

“Bang, jangan mendekat,” ujar Nenden suatu malam ketika Andrinov mencoba meraih tangannya. Aroma tubuh Andrinov saat itu terasa asing—perpaduan antara wangi parfum mahal dan residu kimia stimulan yang disamarkan.

“Kenapa kau begini, Nenden? Aku sudah penuhi semua kebutuhanmu! Aku sudah tebus BPJS itu, aku biayai persalinanmu yang mahal!” bentak Andrinov dengan mata yang melebar, sebuah tanda klinis mydriasis yang menunjukkan sarafnya sedang dalam kendali amfetamin.

Nenden menatap suaminya dengan tatapan setajam pisau bedah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa kesucian batin adalah syarat utama bagi keharmonisan lahiriah. Nenden tak pernah membaca buku itu. Akan tetapi, bagaimana mungkin ia bisa menyatukan raga dengan seseorang yang secara sadar merusak ‘aql (akal), anugerah Tuhan yang paling mulia, hanya demi kesenangan sesaat?

“Keadilan bukan diukur dari berapa banyak angka yang Abang transfer ke rekening rumah sakit,” sahut Nenden dengan suara yang tenang namun memiliki frekuensi yang menggetarkan. “Keadilan adalah saat Abang memberikan hak anak-anak untuk memiliki ayah yang sadar. Aku tidak akan melayani lelaki yang jiwanya sedang digadaikan pada pil-pil setan itu. Itu bukan cinta, Bang, itu hanya pelampiasan saraf yang sedang korsleting.”

Nenden telah memantapkan nawaitu-nya. Ia menyadari bahwa pernikahan ini telah mencapai titik entropi maksimum—sebuah keadaan di mana keteraturan telah musnah sama sekali. Ia diam-diam mulai mengumpulkan bukti-bukti. Di sela-sela merawat Ahza, ia menemukan bungkusan plastik klip kecil di saku celana Andrinov yang hendak dicuci. Ia tidak lagi menangis histeris. Ia hanya memotretnya, menyimpannya dalam folder rahasia di ponselnya sebagai amunisi hukum untuk gugatan cerai kelak.

Ia teringat sebuah pepatah kuno: “Lebih baik berjalan sendirian di bawah hujan daripada berlindung di bawah atap yang akan runtuh.”  Madu pernikahan yang dulu ia bayangkan manis, kini benar-benar telah menjadi racun yang harus ia buang dari sistem kehidupannya, demi menyelamatkan masa depan Nabila dan masa depan Ahza yang masih suci dari noda ayahnya. (Bersambung ke Bagian 15)

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This