Lembayung senja di ufuk tampak seperti luka yang menganga, menyiramkan warna tembaga pada deretan ruko yang berjejal di sekitar Cibubur. Di dalam rumah yang kini terasa lebih sempit akibat tekanan psikologis yang memadat, Nenden berdiri menatap suaminya. Harapan, yang menurut Emily Dickinson adalah “sesuatu yang berbulu yang hinggap di jiwa,” perlahan-lahan rontok bulunya, menyisakan kerangka kenyataan yang dingin dan tajam.
Andrinov bukan lagi lelaki yang mampu mengutip keindahan retorika. Kini, ia adalah budak dari reaksi biokimia di otaknya. Kristal metamfetamin—atau yang ia sebut dengan euphemisme “shabu”—telah mengambil alih kendali atas kelenjar adrenal dan dopaminnya. Ia merasa segar, merasa sebagai superman dalam kelesuan bisnisnya, namun di mata Nenden, ia hanyalah raga yang sedang mengalami pelapukan moral yang akseleratif.
“Ini doping, Nenden. Supaya Abang bisa tetap terjaga, supaya otak Abang bisa berputar seribu kali lebih cepat dari saingan di pasar,” dalih Andrinov dengan mata yang melebar, sebuah dilatasi pupil yang menandakan stimulasi sistem saraf simpatetik yang berlebihan.
Nenden menatapnya dengan pandangan yang dalam, seakan sedang melakukan bedah anatomi pada jiwa suaminya. “Bang, dalam sains, tidak ada energi yang tercipta dari ketiadaan. Kau hanya meminjam energi masa depanmu untuk kau bakar habis hari ini. Kau tidak sedang segar, kau sedang melakukan bunuh diri seluler secara perlahan.”

Andrinov tertawa, suara tawa yang kering dan sember, kehilangan resonansi kemanusiaan. “Kau terlalu banyak membaca buku. Ini dunia nyata, Nenden! Bisnis butuh nyali, bukan kutipan kitab!”
Nenden terdiam. Dalam keheningan itu, ia melakukan audit batin yang menyakitkan. Dalam konsep Choice Theory dari William Glasser; bahwa setiap perilaku manusia adalah pilihan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ia menyadari bahwa pilihannya beberapa tahun lalu—meninggalkan dekapan hangat keluarga besarnya di Cipayung yang asri demi mengikuti Andrinov—kini tampak seperti anomali dalam kalkulasi hidupnya. Cipayung, dengan pohon-pohon rindang dan prinsip agama yang kolot namun kokoh, kini terasa seperti firdaus yang hilang (Paradise Lost).
“Abang,” suara Nenden merendah, namun memiliki frekuensi yang mampu menggetarkan nurani yang paling dalam. “Syekh Abdul Qadir al-Jailani pernah berpesan bahwa jika hati sudah terpaku pada selain Allah, maka kegelapan akan menyelimuti pandangan. Kau bukan hanya kehilangan bisnis, kau kehilangan penglihatan batinmu.”
Andrinov hanya mendengus, jemarinya yang tremor sibuk merapikan tumpukan nota yang sebenarnya sudah tak berarti.
“Kalau Abang tidak berhenti,” lanjut Nenden, kali ini dengan ketegasan yang mutlak, sekeras hukum hukum gravitasi yang tak bisa dinegosiasi. “Nenden akan kembali ke Cipayung. Perkawinan ini tidak bisa kita lanjutkan. Islam mengajarkan hifdzun nafs—menjaga jiwa. Nenden tidak mau hidup bak di neraka yang kau bangun sendiri dari asap shabu ini. Nenden punya tanggung jawab atas masa depan Nabila. Anak itu berhak menghirup udara yang bersih dari residu kimia dan kemaksiatan.”
Andrinov tertegun sejenak. Ia menoleh, menatap istrinya yang berdiri tegak bak pilar Masjid Umayyah. Di mata Nenden, ia tidak lagi melihat kepatuhan buta, melainkan kemerdekaan seorang wanita yang telah selesai dengan rasa takutnya.
“Kau mengancamku?” desis Andrinov.
“Bukan ancaman, Mas. Ini adalah konsekuensi logis dari sebuah sebab-akibat,” jawab Nenden tenang. “Seperti kata Jean-Paul Sartre, kita adalah apa yang kita pilih. Aku memilih untuk menyelamatkan apa yang masih tersisa dari kemanusiaanku.”
Di luar, azan Magrib mulai berkumandang dari menara-menara masjid terdekat, suaranya membelah kebisingan kota, menawarkan frekuensi penyucian di tengah polusi moral yang kian pekat. Nenden berbalik menuju kamarnya, meninggalkan Andrinov yang mulai gemetar saat efek stimulannya perlahan meluruh menjadi depresi yang mencekam.
Malam itu, atmosfer di dalam rumah terasa begitu berat, seolah molekul udara telah mengental menjadi cairan yang menyesakkan paru-paru. Nenden memulai proses “evakuasi” jiwanya. Ia mengambil koper tua dari atas lemari, sebuah tindakan yang dalam psikologi merupakan manifestasi fisik dari pemutusan ikatan emosional (emotional detachment).
Setiap helai pakaian yang ia masukkan ke dalam koper bukan sekadar kain, melainkan fragmen memori yang sedang ia sortir. Ini mengingatkan orang pada hukum Kekekalan Massa Lavoisier; bahwa materi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk. Begitu pula cintanya pada Andrinov; ia tidak hilang, ia hanya bertransformasi menjadi pelajaran yang sangat pahit.
“Bunda, kita mau ke rumah Mama di Cipayung?” tanya Nabila kecil, berdiri di ambang pintu dengan boneka beruang. Matanya yang jernih adalah representasi dari primordial purity yang harus dijaga Nenden dari kontaminasi lingkungan yang kian toksik.
“Iya, Sayang. Kita pulang ke tempat yang lebih sejuk,” jawab Nenden, suaranya tenang namun mengandung vibrasi ketegasan yang tak tergoyahkan.
Tiba-tiba, pintu kamar terbanting terbuka. Andrinov berdiri di sana. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan kilatan paranoid—efek neurotoksik dari shabu yang mulai memicu psikosis. Ia melihat koper yang terbuka dan tumpukan baju Nenden.
“Kau pikir kau bisa pergi begitu saja?” geram Andrinov. Ia melangkah maju, gerakannya patah-patah seperti mesin yang kekurangan pelumas.
“Lepaskan koper itu!” teriaknya sambil menyambar lengan Nenden. Cengkeramannya begitu kuat, sebuah tekanan mekanis yang melampaui ambang batas toleransi jaringan kulit.
Nenden tidak berteriak. Ia menatap mata suaminya yang liar. Ia teringat pada nasihat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah bahwa musibah yang paling besar adalah ketika seseorang kehilangan kendali atas nafsunya sendiri.
“Bang, lepaskan. Secara fisik kau mungkin bisa menahanku di ruangan ini, tapi secara eksistensial, aku sudah tidak lagi bersamamu,” ucap Nenden lirih.
Andrinov kehilangan kendali sepenuhnya. Ia mengangkat tangannya, sebuah ancaman agresi fisik yang dipicu oleh kegagalan prefrontal cortex untuk mengerem impuls kemarahan. Namun, tepat sebelum tangan itu mengayun, Nabila menjerit kecil dan memeluk kaki ibunya.
Jeritan itu berfungsi seperti pemutus arus (circuit breaker) pada sirkuit listrik yang sedang korsleting. Andrinov tertegun. Ia melihat putrinya yang gemetar, lalu melihat tangannya sendiri yang gemetar karena efek residu kimia. Di saat itulah, sisa-sisa kemanusiaan di dalam dirinya beradu dengan kegelapan.
“Pergilah…” bisik Andrinov akhirnya, suaranya pecah menjadi isak tangis yang mengerikan—sebuah fase crash atau depresi hebat setelah euforia shabu meluruh. Ia jatuh bersimpuh di lantai, tampak kecil dan rapuh seperti puing-puing bangunan yang runtuh setelah gempa.
Nenden tidak menoleh lagi. Ia menggandeng tangan Nabila dan menarik kopernya keluar. Di luar, udara malam Jakarta yang polutif terasa jauh lebih segar daripada udara di dalam rumah itu. Ia memesan taksi menuju Cipayung.
Sepanjang perjalanan, Nenden menatap lampu-lampu kota yang berpendar kabur. Ia teringat akan konsep Entropi dalam fisika; bahwa untuk menciptakan keteraturan baru, kadang kita harus membiarkan kekacauan lama hancur sepenuhnya. Cipayung menantinya dengan aroma tanah basah dan pelukan keluarga yang dulu ia abaikan. Madu pahit itu telah ia telan habis, dan kini ia sedang bergerak menuju proses detoksifikasi jiwa di tanah kelahirannya.


