Madu Pahit Nenden — Bagian 14: Ahza

Must Read

Udara Cipayung pagi itu masih diselimuti kabun tipis yang menggantung di pucuk-pucuk pohon albasia, menciptakan suasana melankolis seperti lukisan cat air yang belum kering. Namun, ketenangan mikrokosmos itu terusik oleh deru mesin mobil yang berat. Sebuah Jeep hitam, dengan ban yang berlumur debu jalanan, berhenti tepat di depan halaman vila bercat putih milik Djakarta Lloyd.

Andrinov turun dengan langkah yang tampak lebih terukur, meski sisa-sisa withdrawal syndrome—fase di mana tubuh berjuang melawan absennya zat adiktif—masih menyisakan pucat di sekitar garis rahangnya. Ia datang bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai seorang pesakitan yang mencari tebusan.

“Nenden… maafkan Abang. Abang berjanji, demi Tuhan, tidak akan lagi menyentuh barang haram itu,” ucapnya dengan suara yang bergetar, begitu masuk rumah Iis.

Nenden mematung di ambang pintu panggung. Di kepalanya, berkecamuk pertentangan antara rasionalitas dan afeksi. Secara ilmiah, ia tahu tentang neuroplasticity; bahwa otak manusia bisa berubah, namun proses pemulihan dari ketergantungan metfetamin membutuhkan waktu dan sistem pendukung yang rigid, bukan sekadar janji lisan. Namun, di sisi lain, ia teringat falsafah Sunda, “Mulus laku alus budi,” yang mengajarkan untuk selalu memberi ruang bagi kebaikan dan perbaikan diri bagi sesama manusia.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nenden memandang tajam ke dalam manik mata Andrinov, mencoba mencari kejujuran di balik selaput kornea yang masih tampak lelah itu.

“Benar Abang berjanji?” tanya Nenden dengan nada yang menguji kedalaman komitmen. Suaranya datar, namun mengandung beban eksistensial yang besar. Ia seolah sedang mempraktikkan apa yang disebut oleh filsuf Hannah Arendt sebagai “kekuatan pengampunan” sebagai satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari beban masa lalu yang tak tertahankan.

Andrinov mengangguk perlahan. “Benar, Nenden.”

Nenden menghela napas panjang. Dalam psikologi, ada yang disebut sebagai optimism bias, sebuah kecenderungan manusia untuk percaya bahwa hasil yang baik akan terjadi meskipun probabilitas statistik menunjukkan sebaliknya. Ia pun mengalah. Mungkin, batinnya berbisik, Andrinov adalah pengecualian dari teori residivisme: kecenderungan penjahat/pengguna untuk kambuh kembali.

“Baiklah, Bang. Tapi ini adalah kesempatan terakhir. Jika kau melanggarnya, kau bukan hanya kehilangan aku, tapi kau kehilangan jiwamu sendiri,” ujar Nenden.

Perpisahan dengan Iis berlangsung dalam suasana yang lebih dingin dari kabut Cipayung. Iis hanya menatap dari kejauhan dengan tangan bersedekap, sebuah bahasa tubuh yang menunjukkan proteksi dan ketidaksetujuan yang tertahan. Baginya, “Ulah nambakan cai ku jukut,” jangan membendung air dengan rumput—ia merasa janji Andrinov terlalu rapuh untuk membendung badai kehancuran yang sudah dimulai.

Nabila, dengan kepolosan anak kecil yang belum memahami dialektika orang dewasa, naik ke kursi belakang Jeep dengan riang. Jeep itu kemudian bergerak, menuruni jalanan berkelok Cipayung yang rimbun, meninggalkan aroma tanah basah menuju kegersangan beton Cibubur.

Andrinov menyetir dengan penuh konsentrasi, sementara Nenden menatap keluar jendela. Ia melihat pohon-pohon besar yang menjauh, seolah melihat perlindungan masa kecilnya perlahan sirna. Kata-kata Imam Syafi’I relevan dalam kasus ini: “Pergilah merantau, niscaya kau akan mendapatkan ganti dari orang-orang yang kau tinggalkan.” Namun, Nenden bertanya dalam hati; apakah perjalanan pulang kali ini adalah sebuah langkah maju menuju kesembuhan, atau sekadar putaran balik menuju lubang hitam yang sama?

Perjalanan itu sunyi. Hanya suara ban yang bergesekan dengan aspal dan detak jantung Nenden yang tak beraturan, seolah sedang melakukan sinkronisasi dengan nasib yang kembali ia pertaruhkan di tangan seorang lelaki yang sedang “berjanji”.

Hari-hari pertama sekembalinya dari Cipayung dilewati dengan ritme yang terukur. Nabila kembali mengenakan seragam merah-putihnya. Sekolah dasar yang sempat terputus karena “migrasi darurat” itu kini dilanjutkan lagi. Secara pedagogis, stabilitas lingkungan sangat krusial bagi anak seusia Nabila; ia membutuhkan rutinitas sebagai fondasi pembentukan karakter. Nenden melihat putrinya berangkat sekolah dengan tas ranselnya.  Jean Piaget mengatakan bahwa anak adalah penjelajah yang butuh rasa aman untuk memahami dunianya.

Di sisi lain, kohesi antara Nenden dan Andrinov nyaris pulih sepenuhnya. Hubungan mereka mengalami apa yang dalam sosiologi disebut sebagai restorative justice dalam skala domestik. Andrinov tampak benar-benar berusaha merehabilitasi citranya. Ia menjadi lebih perhatian, lebih hadir secara emosional, seolah-olah sedang membayar hutang budi atas kesabaran Nenden yang seluas samudera.

Malam itu, hujan turun membasahi bumi Cibubur, menciptakan orkestra statis yang menenangkan. Di dalam kamar yang remang, hanya diterangi lampu tidur berwarna amber, atmosfer terasa begitu sakral. Nenden mendekati suaminya, menatap wajah yang kini tampak lebih bersih—bebas dari residu kimia yang sempat merusak garis-garis ketampanannya.

Dengan kelembutan yang lahir dari kerinduan mendalam, Nenden mencium mesra suaminya. Itu bukan sekadar kontak fisik, melainkan sebuah ritual penyatuan kembali dua jiwa yang sempat terfragmentasi. Dalam perspektif agama, persetubuhan suami istri adalah ibadah yang memiliki nilai shadaqah, sebuah penyaluran fitrah yang diberkahi. Sebagaimana Imam Al-Ghazali jelaskan dalam Ihya Ulumuddin, bahwa hubungan intim yang didasari cinta dan tanggung jawab adalah sarana untuk menenangkan jiwa dan membentengi diri dari godaan setan.

Sikap mesra itu disambut Andrinov dengan kelembutan seorang suami yang telah menemukan kembali kompas moralnya. Tidak ada kekasaran, tidak ada bau alkohol, tidak ada paranoia. Yang ada hanyalah sinkronisasi detak jantung dan napas. Malam itu, kehidupan suami istri terasa normal dalam definisi yang paling luhur. Mereka bergerak dalam harmoni yang selaras dengan hukum alam—sebuah dialektika cinta yang mencapai sintesis kesempurnaan.

Keduanya merasakan kepuasan yang paripurna—kepuasan yang bukan hanya bersifat biologis atau pelepasan hormon oksitosin dan endorfin ke dalam aliran darah, melainkan kepuasan spiritual. Mereka merasa seperti dua entitas yang telah melewati ujian berat dan berhasil bertahan.

Nenden menyandarkan kepalanya di dada Andrinov, mendengarkan irama jantung suaminya yang stabil. Ia teringat falsafah Sunda, “Silih asih, silih asah, silih asuh.” Malam itu, ia merasa ketiga aspek itu telah terpenuhi. Ia mencintai, ia belajar (asah), dan ia merasa dilindungi (asuh).

“Terima kasih sudah kembali menjadi ‘Abang’ yang aku kenal,” bisik Nenden di tengah keheningan.

Andrinov mengecup kening istrinya. “Terima kasih sudah tidak menyerah padaku, Nenden.”

Namun, di balik kebahagiaan yang tampak solid itu, hendaknya juga disadari bahwa dalam setiap sistem yang pulih, selalu ada risiko relaps. Sebagaimana Sigmund Freud pernah berteori tentang Repetition Compulsion, dorongan untuk mengulangi pola lama seringkali bersembunyi di alam bawah sadar, menunggu celah terkecil untuk kembali muncul. Madu itu memang terasa sangat manis malam ini, murni tanpa campuran pahit, membuat Nenden sejenak lupa bahwa ia pernah berada di tepi jurang neraka.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This