Madu Pahit Nenden — Bagian 14: Ahza

Must Read

Perjalanan dari Cibubur menuju Cipayung secara geografis hanyalah perpindahan sejauh belasan kilometer yang dapat ditempuh dalam waktu empat puluh lima menit. Namun secara psikologis, bagi Nenden, ini adalah sebuah perjalanan lintas dimensi—sebuah migrasi dari pusaran entropi menuju zona stabilitas. Kendati arteri jalan raya Puncak sering kali diwarnai kemacetan yang menjengkelkan—sebuah fenomena bottleneck dalam teori aliran lalu lintas—udara di Cipayung tetaplah sebuah anugerah. Oksigen di sini terasa lebih murni, seolah-olah pepohonan di kaki Gunung Gede Pangrango sedang giat-giatnya melakukan fotosintesis untuk membasuh paru-paru jiwa yang jelaga.

Begitu taksi berhenti di depan rumah Iis di lereng bukit itu, aroma tanah basah dan melati menyambut Nenden. Struktur rumah itu adalah manifestasi dari falsafah Sunda, “Soméah hadé ka sémah,” ramah dan terbuka bagi siapa saja yang datang mencari perlindungan.

“Nenden!” sebuah seru parau pecah di udara.

Iis, sang ibu, berlari kecil dengan tangan terbuka. Mereka berpelukan dalam keheningan yang bicara lebih banyak daripada ribuan diksi. Dalam sosiologi keluarga, pelukan ibu adalah primary safety net—jaring pengaman pertama yang mencegah seorang anak jatuh lebih dalam ke jurang keputusasaan.

Milad 117 H Muhammadiyah

Nabila pun tak luput dari dekapan. Ia kemudian beralih ke tangan Isma, kakak Nenden yang tuna rungu. Meski Isma hidup dalam dunia tanpa bunyi, ia memiliki ketajaman intuitif yang luar biasa—apa yang dalam psikologi disebut sebagai heightened sensory perception. Isma menatap mata Nenden, jari-jarinya bergerak cepat membentuk isyarat yang berarti: “Kamu pulang, kamu selamat.”

Kegembiraan meluap saat Firly, anak angkat Nenden yang dibesarnya Iis, berlari kencang menggandeng tangan Nabila. Keduanya memiliki tinggi badan yang nyaris sama, layaknya dua tunas pohon yang tumbuh dalam deret ukur yang seragam. Meski sama-sama duduk di kelas tiga SD, dunia mereka masih terjaga dalam teori Immanuel Kant tentang keindahan estetis; sebuah kebahagiaan tanpa pamrih.

“Ayo main ke kebun, Nabila! Ada anak kelinci baru!” teriak Firly riang.

Nenden menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat ucapan Albert Schweitzer: “Kebahagiaan adalah satu-satunya hal yang berlipat ganda saat Anda membaginya.” Namun, di balik senyumnya, Nenden menyimpan rapat-rapat rahasia tentang kehancuran rumah tangganya. Ia berdiri di tengah kerumunan tetangga yang mulai berdatangan—karena di desa ini, berita kepulangan kerabat adalah magnet sosial yang kuat.

“Wah, Nenden pulang! Tumben bukan hari Lebaran,” celetuk salah satu tetangga dengan nada ramah namun penuh rasa ingin tahu.

Nenden hanya tersenyum tipis. Dalam tradisi Sunda, dikenal falsafah “Luhur budi, handap asor.” Ia menjaga martabat suaminya meski di ambang kehancuran. Ia tidak ingin mengumbar aib, sebab ia paham akan pesan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa lisan laksana singa; jika dilepaskan, ia akan memangsa pemiliknya sendiri.

“Hanya rindu suasana Cipayung, Bu. Ingin Nabila menghirup udara pegunungan sebentar,” jawab Nenden diplomatis.

Di dalam rumah, Isma menyajikan teh hangat. Nenden duduk di amben kayu, memandang pepohonan di luar jendela. Secara biologis, ia merasa detak jantungnya yang semula takikardia akibat stres kronis, kini mulai melambat menuju irama sinus yang normal. Ia sadar, kembali ke Cipayung adalah kembali ke akar, ke tanah yang membesarkannya dengan falsafah “Silih asah, silih asuh, silih asih.”

Madu itu memang terasa pahit di lidah saat ini, namun di tanah kelahirannya, Nenden berharap kepahitan itu akan terurai oleh waktu, seperti proses pelapukan alami yang justru menyuburkan tanah untuk pertumbuhan benih yang baru.

***

Malam di Cipayung turun dengan keheningan yang purba, hanya diinterupsi oleh orkestra jangkrik yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon puspa. Di teras belakang rumah panggung itu, aroma tanah yang menguap setelah disiram embun membawa memori pada siklus hidrologi kehidupan—bahwa apa yang naik sebagai uap duka, pada akhirnya harus turun sebagai hujan air mata yang membasuh jiwa.

Nenden duduk bersimpuh di dekat Iis. Cahaya lampu tempel berpendar kuning, menciptakan bayangan yang dramatis pada garis-garis wajah Iis yang setajam ukiran kayu jati. Nenden merasa seperti berada dalam ruang pengakuan eksistensial.

“Nenden mau cerai saja, Ma. Andrinov sudah tersesat, tergantung pada obat,” ucap Nenden lirih, namun suaranya memiliki densitas beban yang luar biasa berat. Dalam terminologi neurosains, ia sedang menggambarkan seseorang yang sistem dopaminnya telah dibajak oleh zat adiktif, mengubah arah kompas moral secara radikal.

Iis tidak segera menjawab. Ia memandangi putrinya dengan tatapan yang mencerminkan falsafah Sunda, “Luhur budi handap asor,” sebuah kebijaksanaan yang muncul dari kedalaman pengalaman pahit. Ia menghela napas, seolah ingin melepaskan karbon dioksida kekecewaan yang telah lama mengendap di paru-parunya.

“Mama sebelumnya sudah bilang sama kamu, Nenden,” ujar Iis dengan suara yang datar namun mengandung otoritas seorang ibu. “Nggak usah nikah lagi. Besarkan Nabila. Kita mesti mandiri, ulah gumantung ka batur, jangan bergantung pada orang lain: terutama laki-laki.”

Kalimat itu bergetar di udara, mengingatkan orang pada peringatan Ibnu Hazm dalam kitab Thauq al-Hamamah tentang bahaya ketergantungan hati yang berlebihan kepada makhluk, yang seringkali berakhir pada penderitaan (al-‘adzab). Sejak perceraian Nenden dengan Daniel, Iis memang menjadi sosok yang paling skeptis terhadap institusi pernikahan kedua. Baginya, kemandirian bukan sekadar pilihan ekonomi, melainkan kebutuhan ontologis untuk menjaga martabat.

Nenden menunduk. Pikirannya melayang pada masa silam, sebuah fragmen waktu di mana hukum Entropi ekonomi sedang menghantam keluarganya tanpa ampun. Kala itu, toko milik Iis—satu-satunya katup penyelamat finansial mereka—terpaksa digadaikan. Kondisi itu menciptakan apa yang disebut sosiolog sebagai precarious life, kehidupan yang rentan dan penuh ketidakpastian.

Andrinov datang di tengah krisis itu bagaikan anomali yang indah. Ia hadir layaknya ksatria dalam narasi The Hero with a Thousand Faces karya Joseph Campbell, membawa solusi finansial yang instan. Bagai oase di tengah gurun gersang, ia menawarkan kehidupan yang stabil di saat Nenden sedang berkonsentrasi penuh pada tumbuh kembang Nabila yang masih balita.

“Nenden saat itu takut, Ma. Takut Nabila tidak bisa makan, takut kita kehilangan rumah,” bisik Nenden membela diri.

Iis menatap ke arah kegelapan kebun. “Madu yang diberikan Andrinov itu memang manis di awal, tapi Mama tahu itu madu yang dihasilkan dari bunga yang beracun. Dalam hidup, ulah kepincut ku deudeuhna, ulah katarik ku asihna hanya karena urusan perut. Kemerdekaan jiwa itu jauh lebih mahal dari tumpukan harta di Tanah Abang.”

Nenden menyadari kekeliruannya. Filsuf Soren Kierkegaard berucap: “Hidup hanya bisa dipahami dengan menoleh ke belakang, tetapi harus dijalani dengan memandang ke depan.” Ia telah melakukan kesalahan kalkulasi dalam memercayakan nasibnya pada sosok yang ia anggap “malaikat”, tanpa menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis dan rentan terhadap degradasi karakter.

Kini, di bawah langit Cipayung yang tenang, Nenden merasa sedang melakukan proses detox spiritual. Ia harus melepaskan residu ketergantungan itu. Jika Andrinov memilih untuk menghancurkan dirinya sendiri dengan shabu—sebuah upaya sia-sia untuk mengejar euforia artifisial—maka Nenden memilih untuk kembali pada fitrah kemandirian.

“Nenden paham sekarang, Ma,” sahut Nenden dengan tekad yang mulai mengkristal. Seperti kata Imam Syafi’i, singa tidak akan pernah memakan bangkai meski ia kelaparan. “Nenden akan berdiri di atas kaki sendiri, demi Nabila, demi Mama.”

Di kejauhan, suara aliran sungai kecil di bawah lembah terdengar konsisten, sebuah pengingat bahwa hidup harus terus mengalir, melewati bebatuan tajam sekalipun, demi mencapai samudera ketenangan yang hakiki.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This