Madu Pahit Nenden — Bagian 14: Ahza

Must Read

Fajar di penghujung tahun 2017 menyapa Cibubur dengan kehangatan yang tak biasa. Bagi Nenden, cahaya itu terasa seperti metafora bagi kehidupan baru yang sedang bersemi di rahimnya. Setelah siklus menstruasinya terhenti selama sebulan—sebuah diskontinuitas biologis yang memicu intuisi kewanitaannya—ia memutuskan untuk melakukan validasi medis.

“Selamat, Bu Nenden. Anda positif hamil,” ujar dokter spesialis kandungan itu seraya mengulurkan tangan dengan senyum tulus. Di layar monitor ultrasonografi (USG), tampak sebuah titik kecil, sebuah mudghah dalam terminologi Al-Qur’an, yang sedang berjuang melakukan mitosis sel demi menjadi manusia utuh.

Nenden pulang dengan hati yang membuncah. Kabar kehamilan ini seolah menjadi katalisator bagi transformasi Andrinov. Lelaki itu berubah menjadi sosok protektif, manifestasi dari teori attachment yang ideal. Setiap sore, ia pulang membawa buah tangan—mulai dari mangga harum manis hingga susu khusus ibu hamil—seolah ingin memastikan bahwa janji yang ia ucapkan di Cipayung terkunci rapat dalam dedikasi. Nenden merasa hidupnya telah mencapai titik ekuilibrium, sebuah keseimbangan yang ia dambakan sejak lama.

Namun, kebahagiaan manusia sering kali bersifat transien, laksana fata morgana di tengah padang pasir. Dalam hukum Murphy, dinyatakan bahwa “Anything that can go wrong will go wrong.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Saat usia kehamilan Nenden memasuki bulan kelima—masa di mana janin mulai memiliki indra pendengaran dan mulai merespons emosi sang ibu melalui aliran hormon kortisol—badai itu kembali tanpa ketukan pintu. Malam itu, jarum jam dinding seolah berdetak lebih lambat, mengikuti ritme kecemasan Nenden yang tak kunjung melihat suaminya pulang.

Pukul dua dini hari, pintu terbuka dengan sentakan kasar. Andrinov masuk dengan langkah yang kehilangan koordinasi motorik. Matanya merah padam, bukan karena kantuk, melainkan karena efek mydriasis akibat stimulasi zat amfetamin. Ia tampak terengah-engah, dengan aura agresivitas yang tercium dari setiap pori kulitnya. Pil setan itu telah kembali merampas kedaulatan akalnya.

Nenden terbangun dari sofa, terkesiap. Melihat sosok Andrinov saat itu, ia seolah tidak lagi melihat suaminya, melainkan sesosok hantu dari masa lalu yang datang untuk menagih tumbal. Imam Ghazali berpesan bahwa seorang pecandu tidak lagi memiliki kendali atas dirinya sendiri karena “nafsunya telah menjadi Tuhannya.”

Nenden tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Lidahnya kelu, namun air matanya mengalir deras membasahi pipi, mengikuti hukum gravitasi duka yang tak tertahankan. Ia hanya bisa mengusap perutnya yang mulai membuncit, seolah ingin melindungi janin di dalamnya dari getaran kebencian yang memenuhi ruangan. Dalam falsafah Sunda, kondisi ini adalah “Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok,” namun kali ini batu itu adalah hati Nenden yang sudah terlalu sering tertimpa tetesan luka hingga lubangnya tak lagi bisa ditambal.

Malam itu ia tidak tidur. Ia menghabiskan waktu dengan melakukan audit eksistensial. Sebagaimana ucapan filsuf Jean-Paul Sartre: “We are our choices.” Dan kali ini, Nenden tahu ia harus membuat pilihan radikal demi keselamatan dua nyawa di tangannya.

Keesokan harinya, ketika semburat merah matahari belum sempat menyentuh ufuk timur, Nenden membangunkan Nabila dengan gerakan yang sangat lembut.

“Mau ke mana, Bunda?” tanya Nabila dengan suara serak khas anak-anak yang baru terjaga. Matanya yang jernih menatap kebingungan pada koper yang sudah tergeletak di samping tempat tidur.

“Kita ke rumah Mama di Cipayung, Sayang,” ujar Nenden pelan namun penuh determinasi.

Nabila terdiam sejenak. Ia memanggil ibunya “Bunda” dan neneknya “Mama”, sebuah dikotomi panggilan yang menunjukkan betapa eratnya silsilah kasih sayang di antara mereka. Nabila tidak banyak bertanya lagi. Insting seorang anak sering kali mampu menangkap vibrasi kesedihan ibunya meski tanpa penjelasan verbal.

Nenden menuntun Nabila keluar rumah dengan langkah yang mantap, tidak menoleh lagi ke arah kamar di mana Andrinov masih terlelap dalam pengaruh obat. Ia meninggalkan kemewahan palsu di Cibubur demi mencari kembali “Jati kasilih ku wanda”—kembali ke jati diri yang sebenarnya di tanah leluhur. Perjalanan menuju Cipayung kali ini bukan lagi tentang pelarian, melainkan tentang proklamasi kemerdekaan seorang ibu yang menolak untuk menyerahkan masa depan anaknya pada kegelapan sebuah adiksi.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This