Prabu tersenyum sendiri. Caca rupanya masih menghitung Dewi. “Dia sudah selesai. Tidak akan ada lagi Dewi,” jawab Prabu.
Caca membalas. “Kalau kita jadian, hari-hari apa kita bisa bertemu?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengisyaratkan bahwa Caca tidaklah melangkah sembarangan. Ia bukan tipe perempuan yang terburu-buru menerima. Prabu mengetik: “Selain Sabtu dan Minggu. Dua hari itu anak dan cucu saya berkumpul di rumah. Hari lainnya saya bisa seolah-olah pergi ke kantor.”
Beberapa detik kemudian, balasan muncul lagi: “Saya kerja di pabrik, Bang. Sering lembur sampai jam 9 malam. Berangkat pagi. Libur hanya Sabtu dan Minggu. Bagaimana kita mau ketemu?”

Prabu memijat pelipisnya. Sungguh, ia tidak memprediksi hal ini. Teori-teori logistik sederhana tentang waktu yang ia baca dari buku manajemen—bahwa jadwal bisa disusun selama ada komitmen—ternyata berbenturan dengan realitas manusia yang bukan angka.
“Kadang,” gumamnya, mengingat ucapan Voltaire, “common sense is not so common.”
Termasuk dalam urusan waktu.
Ia mengetik pelan, mencoba menyeimbangkan rasionalitas dan keinginan: “Kalau begitu, kita bertemu saat kamu pulang kerja. Malam hari. Walau waktunya terbatas.”
Ia mengirimnya, lalu menunggu dengan jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.
Itu reaksi biologis normal—adrenalin, dopamin, antisipasi. Ia tahu ini berdasarkan literatur neuropsikologi. Tetapi mengetahui teori tidak pernah membuat gelombang hati lebih tenang.
Tak lama kemudian Caca mengirim pesan yang pendek namun memecah seluruh keraguannya: “Oke. Saya setuju.”
Prabu terdiam.
Pesan Caca muncul di layar ponsel Prabu seperti cahaya kecil yang menembus kabut keraguannya. Ia mengeja setiap katanya perlahan, seolah takut kehilangan makna yang bersembunyi di balik huruf-huruf itu. “Berapa mahar dan nafkah bulanan yang akan Abang berikan kepada saya?”
Pertanyaan itu begitu lugas. Terlalu lugas bagi sebagian perempuan yang biasa menunggu laki-laki menentukan segalanya.
Namun bagi Prabu, kelugasan Caca justru isyarat kedewasaan: ia tidak sedang mencari cinta buta, tetapi kehidupan yang bisa ditegakkan dengan kejelasan dan adab.
Dan Prabu menyadari satu hal: perempuan yang mampu bertanya seperti itu adalah perempuan yang memahami dirinya sebagai subjek, bukan sekadar objek jodoh.
Malam itu, setelah pesan itu ia baca berkali-kali, Prabu membuka tumpukan kitab fikih terbuka memanjang seperti sungai yang menunggu dijelajahi. Setiap halaman mengingatkannya bahwa mahar bukan sekadar angka. Ia adalah bahasa kuno tentang penghormatan.
Mahar memiliki delapan nama: mahar, shadaq, nihlah, faridhah, hiba’, ujr, ‘uqar, dan alaiq. Delapan nama itu seperti delapan jalan yang berujung pada satu pemahaman:
bahwa ketika seorang perempuan menerima seorang laki-laki masuk ke kehidupannya, ia layak disambut dengan sesuatu yang memuliakan.
Prabu teringat pada definisi tegas yang pernah ia hafalkan. Harta itu diwajibkan kepada suami dalam akad nikah sebagai imbalan atas hak-hak tubuh Perempuan. Bukan untuk membeli, tetapi untuk menghormati.
Dan kini, Caca sedang menanyakannya. Dengan jernih, tanpa tedeng aling-aling. Seakan-akan seluruh diskusi para fuqaha itu turun ke ruang kecil WA malam ini. Prabu mengetik jawaban itu dengan hati-hati, seolah sedang menulis di lembar ijab kabul:
“5 juta untuk mahar. Nafkah bulanan 2,5 juta.”


