Senja Temaram di Cipayung – Bagian 3: Mahar

Must Read

Prabu mengambil napas dalam.

Ia lalu mengutip pendapat ulama, sebagai pijakan agar pembicaraan tetap berada di jalur syariat. “Dalam hukum Islam, Caca, mahar boleh ditangguhkan. Bahkan Imam Malik dan Imam Syafi’i membolehkan mahar yang dibayar sebagian atau diundur. Yang penting jelas jumlahnya. Ini ada dalam Al-Majmu’ dan Al-Muwaththa’. Tidak haram. Tidak cacat akad.”

Namun Caca tetap tampak tidak senang. Ia menunduk, menggigit bibir, lalu berkata dingin: “Kalau begitu… ditunda saja nikahnya. Saya tidak masalah nunggu. Tapi jangan angsur mahar.”

Prabu terdiam.

Ia tidak menyangka persoalan akan berbelok ke arah ini. Dalam hati ia teringat kutipan Nietzsche: “In truth, there are no facts, only interpretations.”


Ia sadar bahwa bagi Caca, mahar bukan sekadar angka—melainkan rasa aman. Tetapi ia juga sadar bahwa reaksi perempuan itu mengandung ketergesa-gesaan yang membuatnya semakin ragu.

Milad 117 H Muhammadiyah

Ketika siang menjemput, Ima dan Hidayat kembali ke meja. Ima membawa plastik berisi cakwe yang sudah ia bungkus. Hidayat menatap Prabu, seolah ingin memastikan keadaan baik-baik saja.

Namun sebelum siapa pun sempat berbicara, Caca nyeletuk: “Mahar kok diangsur.”

Nada suaranya tidak marah, tetapi jelas mengandung penilaian. Prabu tersenyum tipis, menahan gelombang yang mulai naik.


Ia akhirnya mengalah. “Baiklah, Caca. Tidak diangsur. Saya bayar penuh. Tapi… kapan kita menikah?”

Caca tampak memikirkan. Ia menggenggam ujung jilbabnya, melirik Ima seolah meminta petunjuk, lalu kembali menatap meja.

Tidak ada keputusan hari itu.

Mereka berdiri, saling berjabat, lalu berpamitan dalam aura yang ambigu—antara setuju dan tidak, antara harapan dan kekecewaan, antara logika dan suara hati yang belum serempak.

Prabu keluar dari Rafles dengan langkah pelan.

Angin Puncak menyapa wajahnya yang letih.

Di benaknya terngiang kata-kata Ibnu Khaldun: “Setiap keputusan manusia diwarnai hajat, dan setiap hajat melahirkan ujian.”

Hari itu, ia sadar satu hal:  perjalanan mencari istri muda bukanlah sekadar urusan syahwat, tetapi labirin panjang antara niat, mahar, waktu, dan karakter manusia.

Dan labirin itu baru saja mulai berbelok. (bersambung ke Bagian–4)

===

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This