Ia sempat terdiam lama setelah itu. Angka itu bukan ia pilih sembarangan. Ia memikirkannya melalui kaca mata fikih, melalui nasihat Rasul yang pernah berkata pada lelaki fakir: “Carilah walau hanya cincin dari besi.”
Bahwa mahar bukan kemewahan, melainkan komitmen. Dan ia memikirkan Caca — perempuan yang tidak minta apa-apa di luar kejelasan. Perempuan yang telah patah sekali, dan kini belajar melihat kehidupan dengan lebih tenang.
Perempuan yang bekerja di pabrik garmen, menjadi admin, hidup dengan ritme pabrik yang serba tepat waktu; dan kini menuntut ketepatan yang sama dari lelaki yang ingin meminangnya.
Sesudah mengirim pesan itu, Prabu menyandarkan tubuhnya. Ia teringat lagi pada Husein Muhammad yang menulis bahwa mahar adalah “tanda cinta dan penghormatan yang terjelma dalam bentuk fisik.”
Ia juga teringat pada pendapat Imam Syafi’i bahwa mahar memberikan legitimasi moral bagi hubungan suami–istri. Dan pada Imam Malik yang menyebut mahar sebagai rukun nikah. Unsur yang menjadikan pernikahan berwujud dan berharga.

Semua itu kini tidak hanya menjadi ilmu di kepala; ia telah menjelma menjadi keputusan hidup. Menjadi kompas dalam perjalanan Prabu menuju perempuan yang mungkin — atau tidak — akan menjadi istrinya.
Caca membaca pesannya satu jam kemudian. “Baik. Terima kasih atas kejelasannya, Bang.”
Sederhana. Tanpa drama. Seolah Caca sudah menghitung semuanya sebelum pesan pertama terkirim.
Kalimat sederhana itu membuat Prabu merasa seluruh pelajaran fikih yang ia baca sepanjang hidupnya menemukan tempat paling praktisnya: di dalam percakapan kecil dengan seorang perempuan yang menguji kesungguhannya.
Prabu menutup kitabnya perlahan. Baginya, mahar bukan lagi teks.
Bukan lagi teori. Ia adalah perjalanan menuju seorang perempuan — perjalanan yang hanya boleh ditempuh dengan hati yang telah belajar menghormati.
Dan malam itu, setelah mengirim angka yang sederhana tetapi jujur, Prabu merasa satu pintu telah terbuka. Pintu kecil, tetapi kokoh: pintu kerelaan. Pintu tempat cinta yang paling tua mengambil bentuknya yang paling nyata.
Beberapa menit setelah percakapan tentang mahar selesai, sebuah pesan baru muncul:
“Kita bertemu dulu, Bang.”
Prabu membaca kalimat itu perlahan, bibirnya terangkat dalam senyum kecil. Mereka memang baru bertemu sekali, yakni saat di rumah Ima. Itu sebabnya, Prabu menganggap itu sebagai permintaan yang sederhana, tetapi penuh pertimbangan. Permintaan dari seorang perempuan yang pernah disakiti, pernah diremehkan, tetapi kini ingin memastikan bahwa langkah yang akan ia ambil tidak membawa dirinya kembali ke jurang yang sama.
Prabu memejamkan mata sejenak.
Rasulullah sendiri menganjurkan laki-laki untuk melihat calon istrinya agar tidak terperosok dalam penyesalan. Bahkan sahabat Mughirah bin Syu’bah pernah dinasihati:
“Lihatlah dia. Karena itu lebih mampu menumbuhkan kasih sayang di antara kalian.”
Caca sedang menjalankan sunnah itu — dengan caranya, dengan keberaniannya yang tenang.
Prabu membalas: “Insyallah, Ca. Kapan kamu bisa? Abang yang mengikuti waktu kamu.”
Mereka akhirnya sepakat: Pertemuan akan dilakukan di Rafles, restoran terkenal di kawasan Puncak Bogor.
Tanggal sudah ditentukan. Waktu sudah ditetapkan.
Dan sore itu, ketika matahari memerah di balik pucuk-pucuk pinus, Prabu duduk diam dengan perasaan yang sulit didefinisikan. Apakah ini awal kebahagiaan kedua? Atau pembuka jalan pada ujian yang lebih besar?
Ia mengingat perkataan Ibnu ‘Athaillah: “Keinginan yang kau paksakan, akan menyeretmu. Keinginan yang datang karena takdirmu, akan membimbingmu.”
Dan sore itu, Prabu belum tahu…
apakah ia sedang diseret, atau sedang dibimbing.
Dan Prabu tahu: perjalanan mencari istri muda impian tidak pernah sederhana. Tidak sesederhana nomor ponsel yang aktif atau tidak. Tidak sesederhana rasa suka. Ia adalah pertemuan antara pertimbangan agama, ilmu sosial, luka lampau, masa depan, dan keberanian untuk mulai lagi.
***


