Senja Temaram di Cipayung — Bagian 4: Kode Merah

Must Read

Oleh Miftah H Yusufpati

MOBIL Prabu menaiki jalan Puncak menuju Cilember, meninggalkan restoran Rafles yang kini terasa seperti panggung percakapan yang belum selesai. Hidayat duduk di sebelahnya dengan wajah yang lebih murung daripada ketika mereka datang. Ia seperti kehilangan sebagian energinya.

Prabu, yang biasanya tenang, menatap jalan sambil menimbang ulang pembicaraan dengan Caca. Ada sesuatu yang mengganjal. Bukan tentang mahar, bukan tentang uang tetapi karakter. Ketergesa-gesaan, rasa tidak dewasa dalam memandang akad, serta sikap yang terlalu sensitif.

Poligami bukan hanya tentang memenuhi libido; itu proyek sosial, moral, bahkan spiritual. Ia ingat ucapan Ibnu Qayyim, “Pernikahan yang baik adalah yang menenangkan jiwa, bukan yang menambah beban.”

Di Cilember, mereka bertemu Ronaldo—sahabat lama Hidayat, lelaki kekar, berambut Panjang, dengan tawa keras yang selalu mengundang perhatian. Ronaldo menepuk bahu Prabu, lalu mengajak mereka ke warung pecel lele di dekat tikungan.

Milad 117 H Muhammadiyah

Warung tenda itu sederhana: piring-piring bertumpukan, aroma sambal terbang bersama angin, dan suara penggorengan mendesis seperti musik latar.

Ketika tiga piring pecel lele mendarat di meja, percakapan perlahan mencair.

“Jadi begitu, Prabu,” kata Ronaldo sambil menahan tawa. “Baru ketemu satu kali sudah ngegas soal mahar.”

Hidayat ikut terkekeh, meski satir. Prabu hanya tersenyum kecil.

“Saya nggak mau pacaran,” kata Prabu akhirnya, suaranya tenang namun tegas. “Saya nggak mau jalan gelap, nggak mau maksiat. Kalau cuma mau penyaluran syahwat, tiga ratus ribu pun bisa. Itu bisa dibeli di Jakarta. Tapi itu bukan solusi. Saya ingin yang halal, sehat, sesuai syariat.”

Ronaldo yang Kristen mengangguk. “Iya, benar. Tapi tetap jangan buru-buru.”

Prabu menyesap tehnya, lalu berkata dengan nada seorang pria yang mengerti hisab moralnya sendiri, “Kalau saya menunda dan akhirnya terjebak dalam hubungan tanpa akad, itu berarti saya sengaja menempatkan diri di wilayah syubhat. Ulama bilang, ’Siapa mendekati haram, ia jatuh ke dalamnya.’  Saya tidak mau itu.”

Hidayat yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya tiba-tiba berdiri. Kursinya bergeser keras. “Saya kena tipu,” katanya lirih namun tegas.

Prabu dan Ronaldo menatapnya bersamaan. “Ada apa?” tanya Prabu.

Hidayat menahan napas. Jemarinya bergetar sedikit saat ia mendorong layar ponselnya ke arah Prabu. “Indriani…” suaranya parau, hampir pecah. “Ternyata dia belum selesai urusan cerainya. Dan selama ini dia kasih harapan palsu. Dua tahun lebih saya tunggu. Dua tahun! Ternyata hubungan itu… nggak jelas.”

Tatapan Hidayat kosong, tapi penuh luka yang mencoba ia sembunyikan dengan kelakar yang tak pernah sampai bibir.

Perutnya yang buncit naik turun lebih cepat, tanda napas yang tak sanggup ia atur. Ia tiba-tiba tampak lebih tua dari usianya, seolah beban batin itu menambah garis usia di wajahnya dalam sekejap.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This