Senja Temaram di Cipayung — Bagian 4: Kode Merah

Must Read

Prabu yang kelelahan hanya melambaikan tangan seadanya. Ia tak menaruh curiga apa pun.

Pagi buta menjelma. Udara Bekasi masih dingin ketika ia melaju ke Tanjung Priok. Di sebuah restoran ketupat masakan khas Padang—dengan aroma rendang yang mendominasi angin—ia bertemu kembali dengan Hidayat.

Pertukaran tas terjadi cepat tanpa drama. Mereka sama-sama tahu ada perjalanan lain menunggu.

Prabu kemudian kembali ke rumah hanya untuk berganti pakaian dan berangkat lagi, kali ini bersama keluarga menuju Ngawi. Jalan tol Panjang Mataram melintang seperti nadi yang menghubungkan dua dunia: dunia Prabu yang lama dan dunia yang hendak ia masuki.

Milad 117 H Muhammadiyah

Di perjalanan, pemandangan berubah: dari beton-beton raksasa menjadi sawah yang terhampar sejauh ingatan, lalu gunung-gunung yang menatap gagah namun diam.

Ngawi menyambut dengan angin gunung dan aroma tanah basah.


Pohon-pohon jati berbaris rapi di kanan kiri jalan, seolah menyambut kepulangan anak rantau.

Di kejauhan, Gunung Lawu berdiri seperti penanda waktu—tempat di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan seorang lelaki bisa bertemu dan saling menatap tanpa berkata apa-apa.

Di dalam mobil, Prabu memandang Wina yang tertidur. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup.

Ia mengingat ilmuwan sosial Zygmunt Bauman: “Cinta modern sering ingin kenyamanan tanpa komitmen, kedekatan tanpa kedalaman.”

Prabu justru sebaliknya: komitmen ia jaga, kedalaman ia pelihara, tapi kenyamanan—itu yang hilang. Ia meyakinkan dirinya sendiri: “Poligami adalah syariat, bukan tradisi nafsu.”

Ia hafal syarat adil, ia tahu konsekuensi mental Perempuan, ia paham fatwa para ulama. Namun ia juga paham satu hal yang paling menakutkan: Tidak ada lelaki yang benar-benar bisa adil perasaan. Maka poligami bukan hanya soal hukum… melainkan ujian spiritual yang nyaris mustahil lulus dengan sempurna.

Angin sore masuk lewat kaca mobil yang terbuka sedikit. Perjalanan masih panjang. Dan di dalam hati Prabu, sebuah pertanyaan berdiri tegak:

Apakah ia sedang menuju kebahagiaan baru… atau sebuah jurang yang belum ia lihat dasarnya?

Jawaban itu mungkin menunggu di Kamis depan. Ketika Caca menunggu kepastian—dan takdir sudah siap mengetuk pintu lebih keras daripada sebelumnya.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This