Senja Temaram di Cipayung — Bagian 4: Kode Merah

Must Read

Kata-kata itu menusuk diam-diam.

Ketika mobil memasuki kawasan Cawang, lampu-lampu jalan tampak seperti garis panjang nasib manusia—terus maju tanpa pernah memberikan kesempatan untuk kembali memilih titik awal.

Prabu merapatkan ponsel ke dada. Ia tak ingin pesan itu sekadar teks. Ia ingin yakin bahwa di balik permintaan tegas itu ada ketulusan yang sepenuh hati.

Dalam diam, ia berdoa: “Ya Allah, jika niat ini baik menurut-Mu, maka mudahkan langkahku. Jika buruk, jauhkan aku tanpa melukai siapa pun.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Namun sebuah suara samar dalam hati berbisik: “Tak ada perjalanan menuju surga yang bebas ujian.”

Prabu tahu, malam ini ia telah melangkah satu langkah lebih dekat pada babak baru hidupnya. Babak yang mungkin menghadirkan berkah besar… atau badai yang tak terduga. Dan Kamis hanya tinggal hitungan jari.

***

Jakarta malam itu seperti kota yang tidak mau tidur: jalan-jalannya berkilau oleh lampu-lampu yang menolak kalah dari bintang. Aroma aspal basah menguar, menyelinap halus ke dalam kabin mobil yang mulai kehilangan percakapan.

Mobil berhenti di Jatinegara.

Hidayat, dengan tubuh gempalnya yang semakin mendesak batas kemeja, tergesa turun. Tanpa banyak basa-basi ia mengangkat sebuah tas di jok belakang dan mengucap salam pendek sebelum menghilang ke kerumunan.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This