Senja Temaram di Cipayung — Bagian 4: Kode Merah

Must Read

Ronaldo meledak tertawa. “Kamu ini dungu, Bro,” sambarnya. “Gemuk begini, niat baik segudang… tapi jatuh cinta kayak bocah SMP.”

Hidayat mengusap wajahnya dengan kasar. “Saya tunggu dia setelah subuh… saya tunggu setelah magrib… saya tunggu sampai saya nggak tahu lagi yang saya tunggu itu orang atau ilusi.”

Matanya memerah, tapi ia cepat-cepat memalingkan pandangan, khawatir airnya jatuh di depan dua sahabatnya. “Saya bantu orang nikah, saya jadi saksi. Banyak rumah tangga yang berhasil karena campur tangan saya. Tapi saya sendiri?” Ia tertawa kecut. “Dijadikan cadangan yang bahkan nggak diakui.”

Ia mencondongkan tubuh, kedua tangannya mengepal di atas meja. “Tahu nggak, Prabu… setiap dia ngetik ‘Assalamualaikum’, saya merasa jadi manusia paling beruntung di dunia.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Ia mendesah panjang. “Tapi sekarang saya sadar… saya bukan prioritas. Saya cuma tempat parkir sementara saat hatinya lagi lelah.”

Ketukan jari Hidayat di meja berhenti. Matanya menatap jauh, seperti melihat masa depan yang baru ia sadari tidak ada. “Lucu ya,” katanya lirih. “Saya comblang. Tapi hati saya sendiri tercecer tanpa alamat.” Ia tertawa. Tawa yang getir. Tawa yang tidak punya tempat pulang.

Ronaldo ingin bercanda, tapi ia menahan diri. Tatapannya berubah lembut, menyadari bahwa lelaki gemuk yang selalu terlihat ceria itu sedang rapuh seperti kaca tipis.

Prabu menghela napas dalam.

Melihat sahabatnya seperti melihat cermin: bahwa lelaki dewasa pun bisa terjebak dalam harapan paling kekanak-kanakan.

Dan saat itu Prabu sadar… pencarian istri muda bukan sekadar petualangan syariat atau sunah tambahan. Di balik semua itu, ada hati lelaki yang takut menyepi sendiri. Hati yang ingin dirawat. Hati yang ingin dipercaya. Hati yang sedang terluka dan tak tahu ke mana harus pulang.

“Dari dulu saya bilang—Indriani itu PHP kelas kakap!” ujar Ronaldo.

Hidayat duduk kembali, tapi gelisah. Ibu jarinya Kembali mengetuk-ngetuk meja, bibirnya bergerak tanpa suara.

Prabu memperhatikan sahabatnya itu.

Hidayat adalah comblang yang memfasilitasi pernikahan orang lain, termasuk membantu Prabu mencari calon istri.

Ironisnya, ia sendiri tidak mampu memaknai hubungan cintanya dengan Indriani. Dua tahun ia berjuang, dua tahun ia menunggu, dua tahun ia menafsirkan setiap emoticon, setiap chat singkat, setiap read dan delivered seakan itu tanda cinta.

Prabu mengingat teori attachment dari John Bowlby: Manusia terikat bukan karena kepastian, melainkan karena harapan.

Harapan itulah yang membelenggu Hidayat selama ini.

“Yat,” Prabu berbicara lembut, “kau sering nasihati saya soal jodoh. Sekarang saya yang bilang… jangan gantungkan hidup pada bayangan yang tidak mau menatap balik.”

Ronaldo menepuk punggung Hidayat. “Sudahlah. Indriani itu bukan jodoh, hanya episode.”

Hidayat tertawa kecil, tapi tawa yang getir. “Heran ya, saya comblang. Sudah punya istri. Sudah punya anak. Tapi untuk urusan perasaan, saya kalah sama janda yang bahkan belum selesai cerainya.”

Prabu ikut tersenyum, samar.

Kisah hidup memang tidak selalu adil. Kadang orang yang paling paham tentang cinta justru tidak berhasil mengelola cintanya sendiri. Seperti dokter yang mengobati semua orang kecuali dirinya.

Hidayat kembali menatap ponselnya, seolah berharap Indriani berubah pikiran dalam lima menit terakhir. Tapi layar ponsel tetap bisu. Ronaldo menggoyangkan kepalanya. “Sudah, Yat. Kau itu kompas buat orang lain, tapi jarummu sendiri hilang.”

Prabu menghela napas. Pemandangan ini membuat perjalanan mencari istri muda terasa semakin rumit. Ia melihat contoh nyata bahwa hubungan tanpa akad, tanpa kejelasan, tanpa struktur syariat, bisa membuat lelaki seusia Hidayat—yang seharusnya stabil—terjebak dalam kegelisahan yang menguras jiwa.

Ia membatin, mengutip Khalil Gibran: “Between what is said and not meant, and what is meant and not said, most love is lost.”

Hidayat dan Indriani adalah bukti kalimat itu.

Siang merangkak perlahan. Angin dari lembah Cilember berhembus lembut. Piring mereka sudah kosong, tetapi percakapan belum tuntas.

Namun satu hal menjadi jelas bagi Prabu: Perjalanan mencari istri muda bukan sekadar mencari perempuan— tapi mencari ketenangan. Dan hari itu, ketenangan masih terasa sangat jauh.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This