Namun, seperti kata Arthur Conan Doyle: “Kesalahan kecil adalah pintu masuk bagi kisah besar.”
Dan kesalahan itu baru terungkap ketika Prabu menginjak lantai rumahnya di Bekasi.
Ponsel berbunyi.
Pesan dari Hidayat: “Bro… tas kita ketuker. Tas gue ada di lo. Tas lo kebawa gue ke Priok.”

Prabu memandang tas yang tergeletak di lantai seperti seorang detektif amatir. Benar. Itu tas Hidayat—bukan miliknya.
Tubuhnya terlalu letih untuk marah atau panik. Hidayat tinggal di Tanjung Priok, sedangkan dirinya tinggal di Bekasi. Tak mungkin menukar tas malam itu juga. Sangat lelah. Ditambah keesokan hari ia harus bertolak ke Ngawi, Jawa Timur.
Seolah semesta sedang iseng menguji batas kesabarannya. Menurut teori stres Lazarus, stres muncul ketika tuntutan hidup melebihi sumber daya diri seseorang. Namun Prabu tahu, orang beriman dilatih bukan untuk menghindari tekanan, tetapi untuk menemukan hikmah di baliknya.
Ia mengingat petuah Umar bin Khattab: “Tidaklah suatu musibah menimpamu kecuali Allah hendak menggugurkan dosamu.”
Dengan pasrah ia putuskan: “Tukar tas besok saja.”
Ia rebahkan badan, namun pikirannya tetap terjaga. Tentang Caca. Tentang biaya akad. Tentang rumah di masa depan yang masih berupa kertas-kertas rencana. Tentang keputusan besar yang tidak bisa ia tarik kembali setelah melangkah.
Kadang, manusia diperhadapkan pada simpang jalan yang membingungkan. Sigmund Freud pernah menulis: “Di balik segala keputusan besar, selalu ada konflik yang dikuasai oleh bagian terdalam manusia yang tidak pernah kita pahami sepenuhnya.”
Prabu merasakan itu sepenuhnya.
***


