Senja Temaram di Cipayung — Bagian 4: Kode Merah

Must Read

Senja menetes perlahan di langit Cilember. Cahaya jingganya membias pada pucuk-pucuk teh yang terhampar laksana karpet zamrud di lereng gunung. Angin lembut membawa aroma basah tanah dan kayu pinus, sementara suara serangga menegaskan bahwa wilayah ini hidup meski dunia mulai temaram.

Di tengah keindahan itu, hati Hidayat justru gersang.

Ia menunduk menatap layar ponselnya. Jarum waktu di digital terus melompat, namun perasaannya justru melambat—seolah setiap menit adalah pertarungan antara harapan dan kenyataan yang enggan datang.

“Indriani… ketemu sebentar saja, bisa?” Pesan itu sudah ia kirim tiga kali. Jawabnya, “Tidak bisa.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Hidayat menelan kecewa. Kursi plastik warung tenda yang didudukinya berbunyi lirih. Ia membetulkan posisi duduk, tubuhnya yang tambun makin terasa berat saat hatinya ikut menyumbang beban.

Namun ia punya alasan untuk tetap berharap. Dalam keyakinannya, cinta yang diperjuangkan tidak boleh menyerah hanya karena prosedur administrasi perceraian yang terkatung-katung. Ia pernah mengutip perkataan Erich Fromm pada Indriani: “Cinta bukan perasaan pasif, melainkan tindakan aktif.”

Dan ia menganggap dirinya sedang berjuang. Akhirnya, pesan baru datang: “Pesanan Abang saya kirim lewat ojek. Uangnya titip ya.”

Tak lama kemudian, seorang ojek muncul membawa plastik besar berisi pakaian Hidayat. Prabu yang melihatnya salah paham. Ia mengira itu pakaian Hidayat sendiri—barang pribadi yang ditinggal setelah beberapa kali menginap di rumah Indriani.

Prabu menatap Hidayat dengan tatapan menyelidik. Tidak bertanya, tapi pikirannya berkelana jauh.

Dalam perjalanan pulang, mobil mereka menyusuri jalan berliku menurun dari Cilember ke Bogor sebelum Jakarta. Lampu-lampu rumah mulai menyala, seolah bukit-bukit menjahit sendiri luka-luka langit dengan benang cahaya.

Prabu menghela napas, mencoba memaknai dinamika cinta sahabatnya itu. Ia ingat penjelasan John Bowlby, bahwa attachment terbentuk bukan karena kepastian, tetapi karena ekspektasi dan reward yang tak terjadwal.

Sama seperti penguat variabel dalam teori Skinner: justru yang tak pasti lebih candu daripada yang pasti.

Dan Hidayat—lelaki dengan istri dan anak—telah kecanduan rindu yang bahkan tidak mau menyapa balik. Ia tersenyum getir sambil meremas plastik berisi pakaian dari Indriani.

Sementara itu, Prabu memandang keluar jendela mobil. Di kejauhan, Gunung Gede berdiri seperti penjaga sunyi yang tahu seluruh rahasia manusia di bawahnya.

Dalam hati kecilnya, Prabu bergumam: “Cinta selalu rumit bila tidak disatukan oleh akad.”

Mobil terus melaju ke arah Jakarta. Lampu-lampu kota mulai muncul, menandai batas antara desa yang penuh harapan dan kota yang penuh keraguan.

Satu hal kini jelas: Perjalanan mencari istri muda impian bukan hanya soal mencintai seorang perempuan… tetapi belajar tentang kerentanan laki-laki yang merasa hidupnya belum utuh. Dan hari itu… belum ada satu pun dari mereka yang menemukan ketenangan.

***

Jakarta menyambut kedatangan Prabu dan Hidayat dengan hamparan cahaya neon yang berpendar di balik kaca mobil. Seolah kota ini selalu ingin menunjukkan bahwa ia penuh kehidupan—padahal di balik gemerlap itu, begitu banyak manusia berjalan membawa sunyi.

Baru saja Prabu merebahkan punggung, telepon genggamnya bergetar. Pesan dari Caca muncul di layar seperti ketukan yang mendesak pada pintu takdirnya: “Bang, soal mahar… saya ingin tunai, bukan dicicil. Lalu soal akad, saya ingin Kamis depan. Saya ingin semuanya baik dan jelas.”

Prabu menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya. Kamis. Hari itu Jumat malam. Besok ia harus berangkat ke Ngawi untuk resepsi keponakannya. Ia baru akan kembali Ahad atau Senin. Dan setelah itu hanya tersisa dua hari menuju Kamis.

Permintaan Caca terasa seperti rem besar yang tiba-tiba diinjak saat mobil melaju kencang.

Angka-angka mulai menari di benaknya: Mahar: 5 juta. Cincin kawin: 3,5 juta. Biaya akad dan penginapan: 3 juta. Total: 11,5 juta. Belum biaya transportasi ke Caringin atau juga Puncak. Belum termasuk biaya perjalanan jauh dan sumbangan keluarga di Ngawi

Menurut teori ekonomi perilaku, manusia seringkali mengambil keputusan besar di bawah tekanan, dan justru itulah yang membuat mereka rentan salah langkah.

Prabu tahu risikonya.

Hidayat menangkap perubahan raut wajah sahabatnya. “Ada kode merah dari Caca?” tanyanya sambil mencoba bercanda.

Prabu memperlihatkan pesan itu.

Hidayat mengangguk pelan—kali ini tanpa tawa, tanpa komentar yang berlebihan.

“Prab,” ucapnya lebih pelan, “ingat perkataan Albert Camus: ‘Manusia sering dibuat letih bukan oleh beban hidup, tapi oleh kebingungannya menentukan tujuan.’ Caca jelas dalam tujuannya. Sekarang giliran kau menentukan milikmu.”

Prabu tersenyum hambar.

Filsafat kadang terasa seperti obat yang terlalu pahit untuk hati yang sedang genting.

Ia menatap malam di luar jendela mobil: gedung-gedung tinggi berdiri seperti pasukan besi yang tak pernah memihak siapa pun. Di kejauhan, bulan tampak kecil dan pucat—seperti idealisme yang dipaksa tunduk di bawah tagihan-tagihan duniawi.

Dalam batinnya, Prabu mengulang ayat yang telah lama menenangkan para pejuang hidup: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”

Namun ia juga mengingat peringatan dari Ibnu Qudamah: “Banyak orang menikah bukan untuk menegakkan sunnah, tetapi untuk menuruti hawa nafsunya.”

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This