Langit sore memudar di atas Ngawi; angin lembut menyapu padi yang masih menguning setengah matang. Barisan pohon jati berdiri tegak seperti pasukan penjaga zaman, mengawasi manusia yang tergesa menata kebahagiaannya sendiri.
Rumah besar keluarga Prabu malam itu berubah menjadi lautan cahaya. Tenda putih besar terpasang di halaman depan, diterangi bola-bola lampu kekuningan yang menggantung seperti kunang-kunang raksasa. Musik campursari mengalun pelan, beradu dengan aroma sate ayam yang dibakar di ujung halaman.
Pesta resepsi itu seharusnya sepenuhnya milik sepupunya. Tapi takdir kadang seperti anak kecil yang usil: ia suka menyelipkan cerita di antara cerita.
Prabu duduk di meja para keluarga inti. Ia berbicara dengan adiknya, Zein, lelaki bertubuh tidak terlalu gemuk juga tak terlalu kurus, mata berbinar nakal. “Berapa umur Kakak sekarang?” tanya Zein sambil menyesap teh.

Prabu tersenyum kecil. “Enam puluh.”
Zein mengangguk-angguk dramatis, lalu mulai dengan logika khasnya: “Kakak ini udah senja… tapi istri cuma satu. Nanti kalau malaikat tanya,
‘Berapa istrimu?’ Kakak jawab: satu.”
Ia berhenti sejenak, menatap tajam namun nakal. “Kalau malaikat tanya, ‘Kenapa hanya satu?’ Kakak jawab: karena takut istri. Lah, malaikat bisa marah dong! Kakak berarti lebih takut istri daripada takut kepada Allah!”
Prabu spontan tertawa hambar.
Namun dalam hati: hantaman itu tepat sasaran. Dari mana Zein tahu? Adakah ia mengendus rencana yang selama ini hanya berputar di dalam kepala? Atau dunia memang punya cara lain untuk membocorkan rahasia?
Menurut teori komunikasi Edward Hall, manusia tidak hanya berbicara melalui kata-kata. Bahasa tubuh membocorkan segalanya. Mungkin Zein telah membaca keresahan itu dari gerak-gerik Prabu belakangan ini.
Prabu menarik napas panjang. “Kakak bukan takut. Kakak hanya tidak ingin menyakitinya. Juga memikirkan bagaimana agar istri bisa menerima,” katanya lirih.
Zein mengangguk bijak, sesuatu yang jarang ia lakukan. “Poligami itu syariat, bukan pelarian nafsu,” katanya menirukan ceramah seorang ustaz ternama.
Ia mengutip pendapat Imam Syafi’i bahwa poligami dibolehkan selama adil menjadi pondasi. Dan Ibnu Taimiyah menegaskan: “Keadilan harus diupayakan sekuat kemampuan.”
Zein kemudian menyunggingkan senyum penuh kemenangan: “Aku sudah kondisikan istriku dari awal menikah. Kalau suatu saat aku nikah lagi, dia tidak akan terkejut…”
Prabu memandangnya setengah sinis, setengah iri. “Teori itu mudah,” batinnya. Praktik?
Hati perempuan adalah samudra luas—gelombangnya sulit diramalkan. Psikolog Carl Rogers menyebut perempuan menjunjung tinggi “emotional security”, keamanan emosional yang stabil. Dan poligami, apa pun hukumnya, menantang pilar itu hingga ke akar terdalam.
Prabu merogoh ponselnya. Ada keberanian muncul dari semesta entah dari mana—
mungkin dari tawa keluarga, mungkin dari semangat pesta, mungkin dari ucapan Zein yang nakal tapi menguatkan.
Ia membuka sebuah foto. Sosok perempuan bergamis syar’i, wajah teduh dengan senyum yang tidak dibuat-buat. Caca. “Ini,” ucap Prabu sambil menunjukkan layar kepada Zein. “Cantik?”
Zein terpaku seolah sedang melihat cahaya hidayah. “Subhanallah… siapa dia?”
Prabu menjawab pelan: “Kakak butuh lima belas juta. InsyaAllah akhir bulan ini Kakak akan menikahinya.”
Zein tergelak lebar: “Joss..! Itu baru laki-laki!”
Tawa mereka lenyap bersama angin sore, terbang ke langit Ngawi yang semakin pekat. Bintang tampak lebih rendah, seperti mengintip dua laki-laki yang tengah merancang kisah baru.
Di tengah gemerlap pesta, Prabu merasa hatinya lebih ringan. Tidak karena beban hilang. Tapi karena ada yang mengerti diam-diam perjuangannya. Dalam doanya ia berbisik: “Ya Allah… jika ini baik bagi agama, hidup, dan keluargaku, maka bukakan jalan ini seluas-luasnya.”
Prabu menatap ke angkasa. Namun yang tampak di pelupuk matanya hanya dua bayang: Wina dan Caca—masa lalu yang harus dijaga, masa depan yang ingin diraih.
Keduanya kini berdiri seperti dua arah yang saling menunggu keputusan.
Dan Prabu berada tepat di persimpangan itu. (bersambung ke Bagian 5)
Baca juga: Senja Temaram di Cipayung – Bagian 5: Langkah Berat


