Oleh Miftah H Yusufpati
PRABU merasa tubuhnya kehilangan gravitasi ketika azan asar terdengar dari mushola kecil sela-sela villa. Ia berdiri, mengambil wudhu dengan tangan gemetar. Air gunung yang dingin mengalir di atas kulitnya seperti doa yang memaksa kesadaran kembali.
Dalam fikih, ia ingat satu kaidah: “al-masyaqqah tajlib al-taysir — Kesukaran mendatangkan kemudahan.”
Maka ia menjamak zuhur dan asar, memohon Allah meluruskan niat yang bengkok oleh lelah dan rahasia.

Caca pun salat di sisinya. Sejenak, ruangan itu jadi tenang. Kedua insan itu sama-sama berharap keberkahan turun dalam diam.
Namun setelah salam terakhir selesai, ujian pertama langsung datang.
Caca mengenakan baju tidur hitam yang hanya selutut, sederhana namun membelai mata seperti puisi yang belum selesai ditulis. Kulitnya yang bening memantulkan cahaya sore yang merah tembaga. Prabu mengusap keningnya, mulut bergetar dalam doa terakhir sebelum ia mencium istrinya yang baru itu dengan mesra.
Dan… tubuh Prabu membangkang.
Napas Caca mulai memburu, tubuhnya memanas. Tetapi Prabu tetap diam dan kaku, seperti batu karang yang dihantam ombak tapi tidak goyah. Bukan karena kuat, tapi karena tidak mampu bergerak.
Stres, lelah, rasa bersalah — menumpuk seperti kabut di lereng gunung. Prabu memejam, berbisik lirih: “Apakah Wina… punya kekuatan menutup syahwatku?”
Bisikan itu lebih kepada ketakutan batin, bukan logika syariah. Ia tahu dari literatur medis: Respons seksual pria bukan sekadar dorongan fisik, melainkan gabungan hormon dan kestabilan psikologis.
Teori Masters & Johnson menyatakan bahwa fase eksitasi dapat gagal total ketika pikiran tercekik kecemasan. Dan hari itu, Prabu adalah definisi kecemasan yang menjelma lelaki.
Untuk meredakan suasana, mereka berbincang. Caca mencoba menjaga senyum, disentuhnya tangan Prabu, ia menenangkan seperti guru menuntun murid belajar mengenal tubuhnya lagi.
“Biar nanti aku belikan jamu,” katanya, bercanda. Prabu mengangguk, pura-pura percaya diri. Tapi dadanya masih bergetar.
Sore merayap pelan di atas puncak Cisarua, membungkus vila itu dengan kabut yang seperti tirai tebal rahasia manusia.
Menjelang senja, mereka berniat keluar mencari makan. Namun gerbang vila terkunci. Seorang penjaga datang tergopoh-gopoh. “Ibu Ima hanya sewa sampai magrib, Pak. Tidak untuk menginap.”
Prabu terpaku. 3 juta rupiah untuk ruangan berantakan itu? Tidak ada sajian selamat pengantin, tidak ada penghormatan, hanya sisa nasi bungkus di atas meja? Bisnis pernikahan siri ternyata lebih mengutamakan uang daripada sakralitas akad.
Caca menggigit bibir, malu. Prabu mengepalkan tangan: “Kurang ajar itu Ima,” desisnya — namun hanya dalam hati. Hari bahagia ini tak boleh tumbang karena kemarahan kecil.
Tapi masalah baru datang, tanpa jeda. Ponsel Caca bergetar tanpa henti. Nada notifikasi WA dan telepon bersahutan seperti sirene kecemasan. “Kantor terus menelepon,” ujarnya dengan wajah panik kecil. “Besok jam enam pagi saya sudah harus rapat. Kalau rapat, bisa lembur sampai jam sembilan malam.”
Prabu tersenyum pahit. Artinya, tidak ada malam pertama yang sempurna, bahkan menghabiskan malam bersama pun tidak. Padahal ia sudah merencanakan mencari hotel yang layak, yang sesuai untuk dua insan yang baru halal. Tetapi harapan itu runtuh seperti dedaunan kering yang patah diterjang angin gunung.
Akhirnya, dengan langkah gontai, mereka kembali ke kamar. Mengemas pakaian dan sisa mimpi yang belum terwujud.
Prabu mengantar Caca menuju Caringin. Persimpangan tiga arah. Lampu-lampu toko mulai dinyalakan, sinarnya temaram seperti hati Prabu yang remuk pelan.
“Aku sampai sini saja ya,” ucap Caca.
“Nanti dulu…” Prabu hampir menahan. Namun ia menunduk, akhirnya mengangguk. Mereka berpisah tanpa pelukan. Tanpa kepastian kapan bertemu lagi.
Tanpa malam yang menjadi milik dua nama yang baru saja dipersatukan akad. Prabu menatap punggung Caca yang menjauh ditelan lampu jalan. Dalam hati ia bergumam:
“Beginikah bentuk kebahagiaan kedua?” Ia menghela napas panjang.
Menurut Sigmund Freud, konflik terbesar manusia adalah pertarungan antara keinginan dan moral. Dan Prabu hari ini kalah di dua-duanya. Dalam benaknya muncul pertanyaan paling sunyi: “Sudahkah aku menjadi suami? Atau baru sekadar penandatangan akad?”
Langit Puncak semakin gelap. Dan Prabu harus pulang… menghadapi dunia yang belum tahu bahwa ia sudah berubah status.
***


