Akhir pekan datang, dan itu adalah waktu keluarga pertama. Rumah penuh oleh tawa cucu yang berlarian. Prabu tersenyum, namun hatinya seperti terpecah dua. Ia merasa sedang menyembunyikan sesuatu yang semestinya tak boleh disembunyikan. Filsuf Søren Kierkegaard pernah menulis: “Kebohongan terbesar adalah kebohongan kepada diri sendiri.”
Prabu menelan ludah. Ia merasa sedang melakukannya dengan sangat ahli.
Sementara Wina, istrinya yang pertama, tidak mencurigai apa-apa. Ia sibuk menyiapkan makanan, sesekali mengeluh sakit yang sering kambuh. Dan itu membuat Prabu semakin merasa seperti pengkhianat.
Keesokan harinya, Senin yang dijanjikan lewat begitu saja, karena kesibukan pabrik lagi-lagi mengurung Caca hingga larut. Ia meminta maaf sambil mengabarkan bahwa menstruasinya hampir selesai—sebuah informasi yang bagi pasangan baru sangat berarti.

Selasa direncanakan menjadi hari pertemuan. Tapi bahkan pada hari itu pun, Caca mengirim pesan: “Saya belum suci, Mas.”
Prabu membalas: “Aku tidak mengejarmu hanya karena itu.”
Kalimat itu benar. Namun bukan seluruh kebenaran. Karena bagian terdalam Prabu juga sedang menuntut hak yang sempat tertahan pada malam pertama yang gagal.
Dan di balik percakapan itu, keduanya tahu bahwa ada ujian kimia tubuh yang belum teratasi.
Menurut psikolog Masters & Johnson, hubungan intim pertama dalam pernikahan sering dipengaruhi kecemasan performa dan faktor psikosomatis lainnya. Kelelahan fisik yang ekstrem seperti perjalanan Prabu tempo hari juga jelas menjadi pemicu.
Namun teori apa pun tidak menghilangkan kenyataan: Prabu rindu. Dan ia malu karena rindu itu menyeret rasa takut.
Malam itu, Prabu masih bekerja di depan laptop saat Wina tertidur pulas di kamar. Ia menatap istrinya lama. Perempuan itu telah menemaninya selama puluhan tahun, melalui suka-duka yang tidak sedikit. Wina adalah cinta pertamanya. Dan sekarang ia menambahkan cinta lain tanpa meminta restu.
Ia menghela napas, memandang langit-langit rumah. Bisikan hati terdalamnya menuduh: “Engkau laki-laki dengan dua istri… tapi satu saja belum selesai kau bahagiakan.”
***
Selasa sore yang berkabut. Udara Cikreteg terasa lembap, aroma tanah basah menguar dari sela warung-warung kecil di pinggir jalan. Di perempatan, motor dan angkot saling menyalip dalam kekacauan yang teratur. Caca berdiri di balik tiang listrik, seperti burung kecil yang takut keluar sarang. Sesekali ia menunduk, matanya gelisah meninjau sekitar—khawatir ada tetangga atau rekan kerja yang melihatnya naik mobil pria asing… padahal itu suaminya sendiri.
Prabu menghela napas. Bertemu istri seperti ini—sembunyi-sembunyi. Namun ia tetap membuka pintu, senyum kecil tersungging. “Ayo masuk, Ca.”
Caca masuk cepat, menempelkan tubuhnya ke jok, seolah ingin menghilang. Mobil melaju menuju Puncak, menyusuri kelokan panjang penuh bangunan toko dan penginapan. Kabut menggerayangi kaca depan, seperti tirai yang menutupi sesuatu yang tak boleh dilihat dunia.
Caca meringis menahan sakit perut. Sudah lima hari menstruasinya tak kunjung membaik. “Minum jamu tadi… masih sakit,” ucapnya pelan.
Prabu paham gejala itu: dismenore. Ia pernah membaca jurnal kesehatan, bahwa kontraksi kuat akibat hormon prostaglandin bisa membuat perempuan menggeliat menahan nyeri. “Aku pernah baca kata Hippocrates,” Prabu mencoba mengalihkan, ‘Di mana ada rasa sakit, di sana ada cerita tubuh yang ingin didengarkan.’ “Tubuhmu sedang bercerita.”
Caca mengangguk lemah seakan mengerti. Punggungnya bersandar, mata menerawang bangunan yang berlarian di kaca mobil.
Vila Nyiur terletak di lereng yang menghadap lembah. Bangunannya sederhana tapi bersih. Dinding putihnya mulai kusam dimakan embun. Harga kamar hanya seratus lima puluh ribu.
Senja bergeser menuju magrib. Azan terdengar dari masjid kecil di sela-sela vila yang berjajar. Prabu memesan kamar dan menanyakan restoran. “Sudah tutup, Pak. Kalau mau, ada warung ke bawah… tapi lumayan jauh kalau jalan,” jawab resepsionis.
Caca berkata ia membawa buah. Apel merah dari pasar Caringin—aroma manisnya mengisi kamar. Saat Prabu menunaikan salat Maghrib, Caca duduk di sudut kasur, mengunyah pelan sambil sesekali memijat perut.
Usai salat, mereka berbincang panjang soal masa depan. Tentang rumah kontrakan di Caringin, tentang hidup yang ingin mereka bangun bersama. Prabu mengutip pendapat Ibn Qudamah dalam Al-Mughni tentang rumah untuk istri: “Suami wajib menyediakan tempat tinggal yang aman dan layak bagi istri.”
Caca memperbaiki posisi duduk. Kata-kata itu baginya seperti jaminan, bahwa ia bukan hanya bayangan yang disembunyikan. Malam semakin dalam. Angin gunung mengetuk kaca jendela.
Ketika isya rampung, mereka terbaring berdampingan. Busana Caca masih lengkap, seperti yang ia pakai dari rumah, hanya jaket yang dilepas. Prabu bersedekap dan menatap langit-langit, mencoba memadamkan keinginan-keinginan suami yang berseliweran di kepalanya.
Sesekali Caca meringis, memelintir ujung bajunya. Sakit itu seperti tamu yang tak mau pergi. Prabu mengusap punggungnya pelan. “Kita ke rumah sakit saja?”
“Enggak usah… tidur aja, Bang. Nanti sembuh.”
Ia memaksa tersenyum.
Prabu mendekap bahunya. Ia ingin menenangkan… namun hatinya sendiri tidak tenang. Lama-lama rasa lelah menumbangkan matanya. Dan dalam tidur itu—ia kalah oleh rasa bersalah.
Pagi datang dengan embun yang menempel di kaca jendela. Caca sudah mandi, wajahnya cerah kembali. Sakit itu lenyap seolah tidak pernah ada. Mereka meninggalkan vila menuju Gadog.
Warung bubur Cianjur ramai oleh pelanggan. Asap kuah mengepul, aroma jahe menyalurkan kehangatan ke tubuh yang masih diselimuti dingin. Caca sesekali tersenyum. Hari terasa lebih ringan. Namun, di hati Prabu ada sesuatu yang membatu.
Dalam mobil, ia teringat ucapan Albert Camus: “Kita berjalan di antara kebohongan yang kita ciptakan sendiri.”
Begitu sarapan selesai, Prabu mengantar pulang Caca sampai pertigaan Cikreteg. Caca turun, menengok kanan-kiri, lalu melambaikan tangan kecil yang cepat… seperti angin yang takut ditangkap.
Mobil kembali melaju menuju Bekasi. Namun pikiran Prabu tertinggal di lereng gunung… Ia sadar, poligami bukan hanya dalil fikih. Ia teringat nasihat Syaikh Al-Ghazali: “Berlakulah adil bukan hanya dalam pembagian hak, tapi juga dalam pembagian hati.”
Dan Prabu tahu, keadilan itu belum ia miliki.
Belum untuk Caca.
Belum untuk Wina.
Bahkan… belum untuk dirinya sendiri.
Saat kabut kembali turun di kaca spion, Prabu bergumam lirih: “Ya Allah… apa yang sedang aku mulai?”
Perjalanan masih panjang. Dan badai itu belum terlihat… tapi sedang mengarah tepat ke jantung hidupnya.
***


