Selang beberapa detik, pesan balasan muncul—cepat, namun emosinya terasa membara. “Kenapa Abang mencari informasi tentang saya? Jangan ikut campur! Kalau ada apa-apa dengan saya, saya tidak akan menyeret Abang. Jadi jangan menelisik hidup saya!”
Prabu tertegun. Nada dingin itu seperti menampar logika cintanya. Ia mencoba menjelaskan dengan sabar — seperti seorang suami yang mengerti bahwa tanggung jawab adalah amanah syariat: “Aku suamimu. Tugas suami adalah tahu kondisi istri. Dunia akhirat akan aku pertanggungjawabkan.”
Namun balasannya jauh lebih menusuk: “Saya cuma istri simpanan. Jangan terlalu jauh mengatur saya.”
Kali ini, hati Prabu yang mendidih. Kalimat itu mengguncang akidah rumah tangga mereka.

Tidak—Prabu tidak menikahi Caca untuk disembunyikan seperti barang curian. Ia menikah menurut tata cara agama. Ada saksi. Ada wali, meski melalui jalan yang sempit. Ada ijab kabul yang ia lafalkan dengan gemetar penuh tanggung jawab. “Kamu bukan istri simpanan. Kamu istriku. Titik.” tulisnya tegas.
Namun Caca merespons: “Saya tidak mau ditelisik begitu.”
Prabu menggenggam ponselnya erat. Detak jantungnya tak teratur—seperti grafik psikologi stres yang mengalami puncak akut.
Dalam fikih keluarga, ia tahu satu prinsip penting yang pernah diucapkan Umar bin Khattab: “Tidak ada kebaikan dalam pernikahan yang dirahasiakan.”
Dan kini, pernikahan mereka bukan hanya rahasia—tapi seperti sebuah kesalahan yang ingin disembunyikan Caca selamanya.
Prabu bersandar di kursi. Dada terasa sesak. Sensasi yang oleh para dokter disebut angina pectoris emosional. Ia memejamkan mata dan mengingat satu kalimat Nietzsche: “Cinta sering hanya keinginan untuk memiliki. Tapi rasa memiliki kadang membunuh cinta itu sendiri.”
Malam itu, Prabu akhirnya membuat keputusan besar: Besok—Sabtu—hari ketika haid Caca sudah selesai, mereka harus bertemu. Ia tidak ingin lagi berjalan dalam kegelapan yang penuh prasangka. Pertemuan itu akan menentukan: apakah pernikahan ini diteruskan… atau berhenti sebagai sebuah kesalahan yang baru seminggu dijalani.
Ia menatap langit-langit kamar. Namun yang dilihatnya adalah jurang: jurang antara harapan dan kenyataan, antara dalil dan realita.
Prabu menarik napas panjang. Tak ada doa yang lebih berat daripada meminta petunjuk saat hati mulai goyah. Dan dalam hening itu, ia akhirnya bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah mungkin… impian terindah justru menyamar sebagai bencana? (bersambung ke Bagian 7)
Baca juga: Senja Temaram di Cipayung – Bagian 5: Langkah Berat


