Senja Temaram di Cipayung – Bagian 6: Kegelapan

Must Read

Prabu menyalakan mesin. Lampu mobil menyapu jalanan Caringin yang lembap oleh embun. Ia menancap gas memasuki Tol Bocimi, menembus gelap dan kabut yang menggeliat pelan dari lereng gunung. Cahaya kota mulai terlihat di kejauhan, bagaikan bisikan dunia yang sedang menunggu pengakuan dosa.

Dari Bocimi ia sambung ke Tol Jagorawi, lalu mengarah ke JORR sebelum akhirnya memasuki Tol Jakarta–Cikampek yang padat merayap. Rantai lampu rem memanjang seperti ular raksasa yang merayap pelan. Prabu memandangnya dengan mata sayu.

Dalam teori fisika, energi tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk. Mungkin begitu juga cinta dan ketakutan: mereka tidak lenyap, hanya berubah menjadi kecemasan yang menusuk jantung.

Ia sampai rumah sekira pukul 8 malam. Wina sudah lelap. Sudah biasa ia tidur setelah salat isya. Dengkurannya halus, seperti ritme kehidupan rumah tangga yang selama ini ia jaga.

Milad 117 H Muhammadiyah

Prabu menatap wajah istri pertamanya itu. Di sana tidak ada jeda. Tidak ada kecanggungan seperti yang ia rasakan dengan Caca sore tadi.

Pukul 03.00 dini hari Wina bangun untuk tahajud, kebiasaannya sejak dulu. Namun sebelum ia sempat berdiri, Prabu memeluknya erat dari belakang. Tidak ada kata-kata. Hanya desahan perasaan yang diluapkan tanpa jeda.

Dan pagi itu… Apa yang gagal ia lakukan dengan Caca justru berhasil dengan Wina. Seperti tubuhnya menemukan rumah yang tidak asing. Keringat mengucur, napas beradu.

Prabu berdiri terengah-engah ketika Wina bangkit memanaskan air untuk mandi. Sementara tubuhnya masih bergetar oleh kemenangan semu itu.

Ketika sendirian di lantai kamar mandi, Prabu terpaku menatap lantai keramik yang memantulkan cahaya lampu kuning. Ia mengusap wajahnya yang panas—antara lega dan hampa.

“Mengapa aku gagal dengan Caca?”
“Mengapa justru aku sukses dengan Wina?”

Dalam psikologi teori ikatan emosional (emotional bonding) menjelaskan bahwa: kedekatan batin menciptakan rasa aman, dan rasa aman membuat tubuh merespons lebih baik.

Sementara dengan Caca… ia dipenuhi rasa bersalah, kecemasan, rahasia, dan ketakutan Wina akan menangis jika tahu. Dan dalam agama, ia paham sabda Rasul: “Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik pada keluarganya.”

Tapi apakah ia masih layak jika keluarga itu kini dua? Ia membayangkan Wina sujud dalam sendu—seandainya tahu. Ia ingat pula penjelasan Ibnu Taimiyyah: “Poligami bukan asal mampu, tapi wajib adil dalam seluruh perkara yang tampak.”

Namun bagaimana dengan keadilan dalam rasa? Dalam spiritualitas? Dalam gelombang kecemasan yang seperti badai kecil di kepalanya?

Prabu menatap cermin. Di sana ada seorang lelaki yang baru saja beristri dua tapi tidak yakin apakah ia pantas mengemban dua hati yang rapuh. Ia menutup mata. Dan untuk pertama kalinya sejak akad tadi siang… ia menangis dalam diam.

***

Selama hampir satu pekan setelah akad yang tergesa itu, Prabu merasa seolah hidupnya dibagi menjadi dua bagian yang tidak pernah benar-benar saling menyapa. Di Bekasi, ia adalah kepala keluarga yang terhormat, masih menjadi suami sah Wina dan kakek yang dicintai cucu-cucunya. Namun di sisi lain, ada Caringin dan Cicurug—wilayah hijau dan berkabut tempat seorang perempuan muda menaruh harapan padanya sebagai suami baru.

Pesan dan video yang dikirim Caca dari tengah pabrik garmen membuat batin Prabu bergolak. Suasana Cicurug begitu kontras dengan Bekasi: lebih lembap, lebih banyak pepohonan. Jalan-jalan kecilnya diapit rumah warga yang tak beraturan. Namun dari sana, suara ribuan mesin jahit mengaum seperti kawanan lebah raksasa. Caca berada di tengah pusaran ekonomi industri yang menuntut ketahanan fisik dan mental.

Prabu memandang layar ponselnya lama. Ia mengingat sebuah teori psikologi dari Maslow, tentang kebutuhan dasar manusia: keamanan, kenyamanan, cinta, dan penghargaan. Ia menyadari, Caca sedang berjuang pada level paling bawah: bertahan hidup. Sedangkan dirinya… sedang mengejar cinta kedua. Kesenjangan itu membuat hati Prabu seperti diremas rasa malu.

Kalimat permohonan maaf dari Caca terus mengalir setiap hari. Prabu membalas dengan kalimat pengertian. Tetapi semakin ia mengerti kondisi istrinya itu, semakin ia menyadari bahwa cinta poligami bukan hanya tentang kemampuan finansial, namun kemampuan emosional dan kehadiran—yang justru makin sulit ia berikan.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This