Senja Temaram di Cipayung – Bagian 6: Kegelapan

Must Read

Hari berganti. Hujan semalam menyisakan bau tanah basah yang menenangkan di pagi yang redup. Namun ketenangan itu tidak ikut hadir di dalam hati Prabu.

Mens Caca hampir rampung, tapi perilakunya justru makin menyebalkan. Pesan WhatsApp yang masuk seringkali bernada kekecewaan. Ia kembali mengungkit ucapan Prabu yang dianggap kurang pantas. “Kamu tadi nyebut nama istri pertama kamu. Jangan sebut nama itu di depan aku,” tulisnya.

Prabu memijat pangkal hidungnya. Ia memahami dari sudut psikologi bahwa mood perempuan saat menstruasi sering dipengaruhi fluktuasi hormon progesteron dan estrogen. Tapi tetap saja, Prabu merasa seperti berjalan di ladang ranjau emosi.

Caca mencari rumah kontrakan, seperti yang dipesankan Prabu. Syaratnya: ada garasi, bisa dimasuki mobil, dan lingkungan tidak menyeramkan. Rumah-rumah yang mereka temukan memang bagus, tapi pemilik menuntut pembayaran minimal tiga bulan di muka. Dua juta sebulan berarti enam juta langsung dibayar.

Milad 117 H Muhammadiyah

Jumlah itu menghantam napas Prabu.

Ia memutar kalkulasi seperti seorang ekonom. Ia sudah mengeluarkan belasan juta untuk menikahi Caca: mahar, cincin, biaya wali, sewa vila, perjalanan bolak-balik, belum lagi nafkah bulanan 2,5 juta yang barusan ia transfer hari ini.

Matematika sederhana pun terasa kejam.

Kepala Prabu berdenyut. Ia ingat ucapan Ibnu Taimiyah yang dulu ia baca: “Keadilan dalam poligami bukan hanya membagi hari atau harta, tetapi membagi hati agar tidak melukai.”

Namun teorinya selalu lebih mudah daripada praktiknya.

Sore itu, Caca mengirim pesan lagi: “Bang… HP aku sering ngadat. Aku pengin ganti yang bagus. Yang ini udah gak layak.”

“Ada rekomendasi berapa harganya?”

“Paling 12 juta. Itu normal kok, kan ini HP untuk kerja.”

Prabu menatap ponselnya lama. Ia sendiri menggunakan ponsel seharga enam juta, yang dibelinya dengan menabung. Wina—istri yang sudah bertahun menemaninya—tak pernah meminta yang mewah. Dibelikan HP tiga juta pun Wina sudah memeluknya dengan rasa syukur.

Di titik ini, batin Prabu mulai goyah.

Ilmu sosiologi keluarga pernah ia pelajari lewat buku: dinamika rumahtangga sering retak karena ekspetasi yang tak sejalan realitas ekonomi. Konflik bukan soal mampu atau tidak mampu, tapi soal batas kesanggupan.

Ia menatap langit senja yang menguning. Awan bergulung seperti peringatan yang tak ia hiraukan sejak awal. Ia mencoba menenangkan diri dengan mengingat sebuah kutipan Albert Einstein: “Kesalahan terbesar kita adalah melakukan hal yang sama berulang kali dan berharap hasil yang berbeda.”

Apakah ini kesalahan?
Atau ujian?
Ataukah keduanya sekaligus?

Prabu menarik napas panjang. Dalam hati ia mulai membandingkan. Dan perbandingan adalah sinyal bahaya dalam kaidah psikologi pernikahan.

Wina sederhana.
Caca penuh tuntutan.

Wina memberi rasa teduh.
Caca memberi badai di tengah musim yang seharusnya damai.

Untuk pertama kalinya sejak menyebut akad, pikiran itu muncul tanpa bisa ia redam:

Apakah rumah tangga ini bisa bertahan?

Angin sore mengibaskan gorden jendela. Prabu memejamkan mata. Di dalam keheningan, ia mulai mencium bau retakan yang bahkan belum sempat menjadi rumah.

***

Mens Caca tinggal dua hari lagi akan berakhir. Tapi rindu Prabu tak bisa dibendung. Ia mengajak Caca bertemu di sebuah kafe di Cikreteg, sepulang kerja. Nama kafe itu Domoro —nama orang Jawa– tetapi pemiliknya seorang perempuan Sunda paruh baya bernama Siti Aminah. Kafe tersebut bersih, tenang, dan meskipun menyediakan fasilitas karaoke, mereka tidak menjual minuman beralkohol. Ruangan itu terasa aman untuk membicarakan masa depan.

Sore itu, Prabu datang lebih dulu. Ia membuka laptop di pojok ruangan, memanfaatkan waktu untuk menuntaskan pekerjaannya. Aktivitas mengetik selalu menenangkan, seperti terapi kognitif dalam teori psikologi: fokus pada tugas yang konkret dapat meredam badai yang berkecamuk di dalam kepala.

Tak lama kemudian, Caca datang. Tidak sendiri. Bersama Ima dan seorang gadis lain yang wajahnya lebih muda — belakangan Prabu tahu itu adik Ima, namanya Salma.

Mereka bertiga memilih meja dekat layar karaoke. Ima dan Salma mulai bernyanyi lagu-lagu populer, suaranya bergema lembut dalam ruangan semi gelap itu. Caca duduk di sebelah Prabu, tapi ada jarak yang tak bisa dijembatani oleh sandaran kursi.

Prabu mencoba menggenggam tangan istrinya — istri yang ia pilih melalui keberanian dan dalil agama — namun Caca menarik tangan seperti tersengat listrik halus. Prabu tersenyum kecut. Sangat kecut.

Caca memulai percakapan dengan nada datar. “Bang, perusahaan akan memutasi saya ke Cibadak, Sukabumi. Jadi saya harus cari tempat tinggal yang lebih dekat ke sana. Dari Caringin ke sana jauh, bisa dua jam naik motor.”

Prabu terdiam. Ia langsung menghitung jarak dalam pikirannya seperti ahli geografi: Bekasi–Cikreteg sudah berat, kini Bekasi–Cibadak? Sungguh seperti memanjat gunung sambil menggendong rahasia besar.

Namun ia memilih menjawab dengan keyakinan: “Tidak masalah. Aku akan tetap datang. Bekasi–Cibadak bukan alasan untuk tidak bertemu denganmu.”

Di dalam hati ia mengutip pendapat Al-Ghazali bahwa cinta sejati memerlukan pengorbanan fisik dan mental. Namun ia juga tahu, secara sosiologis jarak geografis sering menjadi pemicu retaknya komunikasi.

Caca hanya mengangguk. Tidak ada apresiasi. Tidak ada senyum. Bahkan sekadar genggaman pun tidak.

Beberapa kali lagi Prabu mencoba mengambil tangannya — dan beberapa kali pula Caca menghindar. Seolah cinta ini harus tunduk pada protokol yang ia sendiri tak pernah jelaskan.

Siti Aminah datang membawa pesanan: sepiring sosis yang masih mengepulkan aroma gurih dan segelas kopi susu hangat. Uapnya naik perlahan seperti doa yang ragu menuju langit.

Prabu melirik layar ponsel. Di sana ada pesan belum terbaca dari Wina. Pesan sederhana, penuh kasih: “Jangan lupa makan ya, Mas.”

Batin Prabu terguncang. Kontras yang begitu nyata. Lagi-lagi ia teringat pendapat Syekh Yusuf al-Qaradawi: “Poligami bukan tentang kemampuan menikah lagi, tetapi kemampuan menegakkan keadilan yang nyaris mustahil bagi manusia.”

Prabu menatap wajah Caca yang tetap dingin, seolah hati itu bukan miliknya lagi.

Dan untuk pertama kalinya ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ilmu, dalil, dan tekad cukup untuk melawan realitas? Ataukah ia tengah menapaki jalan menuju kehancuran yang ia bangun dengan kedua tangannya sendiri?

===

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This