Malam semakin larut. Angin Cikreteg mulai menusuk tulang, membawa aroma dedaunan basah dari pepohonan yang ada di daerah itu. Pukul 22.00 lewat sedikit, Ima dan Salma mengajak Caca pulang. Besok pagi, Caca harus kembali bekerja di Cicurug.
Prabu berdiri dari kursinya. Ia mengantar mereka sampai halaman kafe. Lampu-lampu Domoro meredup di belakang, sementara suara musik seperti menertawakan kegugupan lelaki yang baru beberapa hari berstatus suami—suami yang terpaksa hidup bagai bayangan di balik tirai rahasia.
Mereka bertiga naik sepeda motor, berboncengan ramai-ramai. Ima memegang kemudi, Salma di tengah, dan Caca paling belakang dengan pandangan yang tak bisa dibaca siapa pun—bahkan oleh suaminya sendiri.
Prabu menepuk dompetnya dan mengeluarkan uang. Ia menyerahkan uang ganti bensin kepada Ima dan Salma, masing-masing seratus ribu rupiah. Hal kecil—namun menjadi satu-satunya cara Prabu menunjukkan tanggung jawabnya malam itu.

Secara ekonomi keluarga, ia memahami sebuah konsep sederhana dalam ilmu sosiologi keluarga: kontribusi finansial sering menjadi simbol kehadiran seorang laki-laki dalam rumah tangga.
Namun di mata Caca, simbol itu tampaknya tidak cukup.
Prabu melihat motor itu menjauh, lampu belakangnya berkedip-kedip sampai akhirnya hilang ditelan gelap. Dan rasa kehilangan yang tak semestinya muncul dalam pertemuan singkat pun menyergap dirinya.
Setelah membayar makan dan minum kepada Siti Aminah, Prabu kembali ke mobil dengan langkah berat. Pikirannya seperti jalan berliku-liku dari Puncak menuju Sukabumi—tanpa lampu penerangan, penuh tikungan dan kejutan.
Dia bertanya dalam hati: Apakah Caca mengatur jarak? Ataukah ia hanya takut pernikahannya diketahui orang?
Dalam logika fikih, pernikahan sah tidak harus publik, tetapi para ulama sepakat bahwa isyhar — pengumuman pernikahan — adalah sunnah muakkadah agar tidak menimbulkan fitnah. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata: “Bila pernikahan disembunyikan, maka baunya mirip zina.”
Ucapan itu menusuk jantung Prabu seperti duri dari dalam tubuhnya sendiri.
Mobil Prabu melaju menuruni Cikreteg. Lampu jalan berlari di kaca samping, membentuk garis cahaya yang berkelebat seperti kenangan-kenangan yang belum sempat menjadi indah. Hatinya tak karuan. Ia telah menghalalkan Caca dengan ijab kabul yang ia ucapkan dengan suara bergetar. Namun kini, Caca terasa bukan istrinya. Seperti ada sekat transparan yang tidak bisa ia pecahkan: sekitar harapan, ekspektasi, dan rasa cinta yang belum menemukan arah pulang.
Di tengah perjalanan, ia teringat kata-kata psikolog Victor Frankl: “Ketika seseorang tak mampu mengubah keadaan, ia ditantang untuk mengubah dirinya sendiri.”
Prabu menarik napas panjang, menatap gelapnya malam Cikreteg yang perlahan ditinggalkan di belakang. Ia sadar, cinta yang ia perjuangkan bukan sekadar urusan biologis dan dalil syar’i. Ada hal lain yang lebih rumit—emosi yang saling bertabrakan, ketakutan yang dibungkus gengsi, dan kesenjangan hidup yang belum terjembatani. Langit memunculkan bintang di atas sana. Namun Prabu justru merasa seolah ia sedang menyelam lebih dalam ke ruang gelap yang tidak dikenalnya.
Dan di sanalah ia bertanya lagi: Benarkah ini jalan yang diberkahi? Ataukah ia sedang menggali kubur untuk kebahagiaannya sendiri?
Mobil terus melaju, sementara hatinya tertinggal di halaman Domoro—berdiri sendirian, memandangi punggung seseorang yang baru ia nikahi, namun sudah mulai terasa seperti orang asing.
***
Keesokan paginya, udara Bekasi seperti biasa panas lebih cepat dibanding jam dinding. Prabu baru saja menyelesaikan laporan kerjanya ketika sebuah pesan WhatsApp masuk dari Caca.
Ia mengabarkan tentang kemungkinan dipindahkan ke Cibadak. Prabu mencoba menanggapi dengan kepala dingin. “Kenapa harus kamu? Tidak ada pegawai lain?”
Balasan datang cepat: Caca dianggap masih lajang, sehingga lebih fleksibel untuk dipindahkan ke pabrik Cibadak. Caca menambahkan ada kenaikan gaji menunggu di sana.
Cibadak—sebuah kota kecamatan yang tidak selamanya bersahabat. Jalan raya yang membelah kota itu kombinasi antara padatnya truk-truk pabrik dan laju motor yang terkesan nekat. Dari sini, Prabu membayangkan Caca menyusuri jalur panjang yang dibatasi tebing dan sawah, menyebrangi arus industrialisasi Sukabumi yang belum sepenuhnya tertata.
Namun Prabu selalu terbiasa dengan verifikasi. Ia percaya, seperti yang dikatakan oleh Carl Sagan: “Extraordinary claims require extraordinary evidence.”
Maka secara refleks ia membuka laptop. Menelusuri pabrik tempat Caca bekerja. PT KG Fashion Indonesia — perusahaan Korea — alamatnya jelas di Cicurug. Bukan Cibadak.
Ia telusuri peta. Semua mesin pencari. Hasilnya sama: KG Fashion hanya di Cicurug. Tidak ada di Cibadak.
Kecurigaan ilmiah muncul. Ada variabel yang tidak konsisten. Ia mengirim pesan: “KG Fashion itu di Cicurug. Bukan Cibadak. Caca sebenarnya dipindahkan ke pabrik apa?”


