Senja Temaram di Cipayung — Bagian 7: Isma

Must Read

Oleh Miftah H Yusufpati

SABTU pagi pukul 06.30, Bekasi baru saja terbangun oleh suara motor tukang sayur yang lewat. Namun Prabu sudah melaju di atas aspal dengan dada yang penuh degup tak menentu. Ia menyalakan mobilnya setelah menunaikan salat Subuh. Sebelum berangkat, ia mengirim pesan singkat kepada Caca:

“Aku berangkat sekarang. Siap-siap ya.”

Jarak yang harus ditempuh sekitar 70 kilometer ke arah selatan. Di dashboard mobil, udara pagi terasa lebih segar dari biasanya. Namun benaknya kacau. Dalam teori psikologi, itulah yang disebut emotional dissonance — saat hati dan pikiran tidak selaras.

Milad 117 H Muhammadiyah

Prabu menatap jalan layaknya menatap masa depan yang berkabut. Tetapi ia mengingat kembali ucapan Albert Einstein: “God does not play dice with the universe.” Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta. Artinya, apa pun yang terjadi, pasti ada skenario yang telah tertulis.

Tepat satu jam setengah kemudian, Prabu memasuki pintu Tol Ciawi. Macet seperti biasa. Mobil mengular seperti ular baja yang tak sabar mencapai pegunungan. Caca mengirim pesan:

“Abang sudah sampai mana?”

Prabu membalas dengan mengirim foto: padatnya jalur Ciawi yang penuh truk dan mobil wisatawan menuju Puncak. Tanda ia betul-betul sedang menuju Caca.

Lima belas menit kemudian, ia tiba di Kafe Domoro, Cikreteg. Kafe yang beberapa hari lalu menjadi saksi diam ketegangan perasaan. Masih tutup. Hanya ada pintu kaca yang digembok dan lampu-lampunya masih padam.

Namun Caca sudah menunggu di teras. Ia mengenakan jaket denim cokelat yang membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya. Ketika melihat mobil Prabu, ia berdiri tergesa, mencuci tangan di wastafel luar, lalu masuk mobil tanpa banyak bicara.

“Ke mana kita?” tanya Prabu pelan.

“Terserah…” jawab Caca singkat, dingin, seakan mereka bukan pasangan halal yang baru menikah seminggu lalu.

Sikap itu membuat Prabu diam beberapa saat. Di dalam ilmu komunikasi, ada istilah passive aggressive behavior — marah yang disampaikan diam-diam. Dan Caca sedang menunjukkan versi paling tajamnya.

Mobil bergerak menuruni Cikreteg menuju arah Ciawi. Warung-warung masih bergelung dalam kantuk pagi. Beberapa restoran ber-ruko belum membuka pintu. Udara masih dingin, dinding kaca mobil berkabut.

Hingga akhirnya Prabu melihat sebuah restoran berlantai dua. Besar, tapi masih sepi. Hanya satu mobil terparkir di depan, barangkali milik pekerja di dapur.

Prabu memarkir mobilnya.

Jeda panjang menyelubungi mereka. Sunyi yang terlalu pekat untuk pasangan yang semestinya sedang dimabuk cinta.

Setelah memesan makanan Prabu membuka percakapan: “Kita harus bicara. Di sini. Sekarang. Tentang kita.”

Caca menatap lurus ke depan, bukan ke arah Prabu. Ia menjawab tanpa ekspresi. “Nanti setelah makan kita bicara soal itu. Kalau sebelum makan Caca khawatir Abang nggak doyan makan,” katanya.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This