Senja Temaram di Cipayung — Bagian 7: Isma

Must Read

Udara di restoran pagi itu seolah membeku. Prabu dan Caca duduk di pusaran badai emosional mereka sendiri. Makanan di meja telah tandas. Namun yang tak kunjung selesai adalah pertarungan antara kenyataan dan harapan.

Prabu mengangkat wajahnya. Ia menatap Caca—dalam, menembus batas yang bahkan Caca tak sanggup sembunyikan. Caca membalas tatapan itu. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia bersuara: “Sejak saya menikah dengan Abang, saya merasa stres… Saya punya suami, tapi tak bisa bertemu. Abang di sana… saya di sini. Abang sudah punya keluarga, sedangkan saya sendiri. Saya sering sakit… beberapa kali saya pingsan. Abang tidak ada di samping saya…”

Kalimat-kalimat itu seperti anak panah yang dilepaskan tanpa arah, tapi semuanya mengenai hati Prabu.

“Aku istri simpanan. Beginilah nasib istri simpanan…” ucapnya lirih namun tajam. “Ingin menjerit, Abang jauh di Bekasi. Lalu… untuk apa saya punya suami jika tak ada di sisiku?”

Milad 117 H Muhammadiyah

Tangannya mengepal di atas paha. Suaranya bergetar hebat saat melanjutkan: “Salah kita juga… Kenapa sebelum menikah kita tidak ke makam kedua orang tua Caca…”

Sejurus kemudian, air matanya tumpah. Ia sesenggukan, tersengal di antara kata-kata:

“Abang… Caca bermimpi orang tua Caca… Mereka datang… Mereka marah Caca menikah dengan suami orang. Mereka… melarang. Kita nggak dapat restu mereka, Bang…”

Tangis itu meledak—benar-benar meledak—hingga tubuhnya sedikit gemetar.

Bagi Prabu, ini adalah fenomena yang sangat nyata dalam psikologi: manifestasi rasa bersalah yang menekan bawah sadar, hingga akhirnya memuncak menjadi mimpi-mimpi bernada ancaman.

Tetapi…Prabu tetap diam.

Tidak ada tangan yang terulur untuk mengusap air mata. Tidak ada kata “tenanglah” atau “aku di sini”. Karena di dalam dada Prabu, ada ledakan yang lain — kekecewaan.

Kekecewaan yang hampir berubah menjadi dendam.

Caca menyeka matanya dan kembali berbicara, kali ini dengan suara yang lebih tegas:

“Kita sampai di sini saja, Abang. Caca nggak mau terus. Ayah dan Ibu melarang…”

Seakan semua keputusan sudah tertutup rapat. Ia menunduk, lalu berkata dengan lirih:

“Jika Abang merasa Caca menipu… akan Caca kembalikan semua yang Abang kasih. Tapi Abang… Caca nggak pernah berniat menipu Abang…”

Kalimat itu seperti pisau: menyayat, tapi tanpa arah yang jelas.

Prabu menghela napas panjang. Ia menatap Caca—tajam, tidak lagi penuh cinta, melainkan penuh tanda tanya.

“Caca…” ucapnya pelan namun penuh tekanan, “Saya benar-benar kecewa. Saya merasa tertipu.”

Ia membiarkan kalimat itu menggantung. Ia ingin Caca merasakannya menancap dalam.

“Apa yang saya khawatirkan sebelumnya terjadi. Kenapa saya ingin mengangsur mahar? Karena saya waspada tentang penipuan seperti ini.”

Kalimat itu bukan sekadar tuduhan, melainkan proyeksi logika yang pahit. Dalam ilmu ekonomi syariah, mahar adalah hak mutlak istri, tetapi dengan satu pengecualian: jika ia yang meminta cerai sebelum dukhul, mahar dikembalikan sepenuhnya. Itu pendapat mayoritas fuqaha, dari mazhab Syafi’i hingga Hanbali.

Prabu mengutip hukum itu bukan untuk menang. Tapi untuk menegakkan apa yang menurutnya adil.

“Saya tidak meminta kembali uang yang saya berikan. Tapi mahar… harus dikembalikan. Karena kamu yang meminta cerai. Dan saya belum mencampurimu…”

Prabu memandang tepat ke mata Caca: “Masihkah uang mahar itu?”

Caca menggigit bibir, lalu menggeleng. “Sudah habis, Bang… Akan saya angsur…”

Prabu terhenyak. Bayangan uang yang ia keluarkan—lebih dari dua puluh juta melayang seperti debu yang hilang ditelan angin Gunung Gede. Dalam waktu seminggu, semuanya lenyap?

Logika Prabu berputar liar. Semua potongan puzzle buruk mengenai Caca mulai menyatu:

HP minta yang mahal
Kontrakan 3 bulan harus dibayar
Pabrik yang lokasinya tidak jelas
Marah ketika ditelusuri
Hubungan fisik yang selalu ditahan

Semua…kini masuk akal.

Benarkah aku hanya sapi perahan baginya? Pertanyaan itu menyelinap masuk, tajam seperti belati. Prabu memejamkan mata sejenak. Ia mengingat kata-kata Ali bin Abi Thalib: “Jangan benci seseorang secara berlebihan. Sebab bisa jadi suatu hari, ia akan menjadi orang yang kamu cintai.”

Dan juga sebaliknya.

Ketika ia membuka mata… Yang tersisa hanya satu hal: Marwahnya sebagai lelaki yang terluka. Dan pernikahan ini—yang baru seumur jagung—berdiri di tepian jurang kehancuran.

Prabu menatap Caca—lama, penuh getir yang tak mungkin dirangkum kata. Ia mengatur napasnya sebelum berbicara tegas: “Kembalikan semua mahar itu… dan saya akan langsung jatuhkan talak tiga begitu mahar itu lunas. Sebelum itu, kamu masih menjadi istri saya.”

Suara Prabu terdengar datar tapi mengandung badai moralitas di dalamnya. Ia melanjutkan dengan nada yang lebih tenang namun tak kalah pedih: “Adapun uang lain yang sudah saya keluarkan… tidak usah dipikirkan. Itu nafkah. Hakmu sebagai istri, meskipun usia pernikahan kita baru sepekan.”

Hubungan sepekan — tapi luka rasanya seperti sepuluh tahun.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This