Kabut di luar jendela mengental — bahkan langit pun ikut menahan napas. Di antara dengung blender jus dan bau tanah basah, Prabu belajar satu kebenaran: Yang paling menegangkan dalam hidup bukan penolakan… melainkan diam yang membuka ribuan kemungkinan.
Ketika akhirnya Prabu pulang melintasi Bogor, lampu-lampu kendaraan tampak seperti kunang-kunang kelelahan, mengambang di udara malam yang dingin. Pertanyaan itu menempel pada kaca helm hatinya: Apakah ini awal ketenangan baru? Atau hanya satu nama lagi dalam daftar panjang pertemuan berbayar yang memenjarakan harapan? Jawabannya belum turun malam itu. Namun ia tahu satu hal: Pencarian ini belum selesai — justru baru saja dimulai.
***
Keesokan harinya, ketika matahari menggantung malas di atas atap-atap rumah, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel Prabu. Dari Irna. “Pak, saya lagi di rumah Isma. Lagi ngobrol sama papa sama mamanya.”

Prabu menghentikan pekerjaannya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Bagaimana?” tanya Prabu.
Balasan datang beberapa detik kemudian. “Mereka prinsipnya setuju. Kalau Isma juga setuju. Soal usia nggak masalah, Pak.”
Prabu mendengus pelan. Mungkin itu kabar baik. Atau mungkin kabar yang harus ia telan pelan-pelan seperti pil pahit yang dibungkus gula. Namun pesan berikutnya membuatnya terdiam lebih lama. “Isma nggak bisa dihubungi. HP-nya digadai Mamanya. Kalau nebus 200 ribu. Uang dari Bapak kemarin langsung buat kebutuhan dapur, bukan buat nebus HP.”
Prabu menatap pesan itu sambil memikirkan banyak hal dalam satu tarikan napas. Keluarga itu tidak sedang memainkan drama murahan; hidup mereka memang keras. HP bukan prioritas ketika dapur masih harus mengepul.
Agar bisa berkomunikasi dengan Isma, Prabu mentransfer 500 ribu kepada mama Isma.
Tidak lama kemudian Erna memberi kabar: “HP sudah ditebus, Pak, tapi baterainya rusak. Harus diganti. Besok atau lusa baru bisa dipakai.”
Prabu tersenyum getir. Ia teringat perkataan Khalil Gibran: “Kemiskinan bukan aib, tapi kesulitan yang membuat manusia belajar menjadi kuat.”
Ia merasa Isma sedang berada di titik itu—titik rapuh yang membuatnya tampak justru semakin jujur.
Beberapa hari kemudian, Prabu memutuskan berangkat sendiri ke MM Juice. Ia mengabari Ronaldo bahwa ia akan bertemu Isma bersama papa dan mamanya.
MM Juice masih siang itu. Hanya terdengar kipas angin yang mengerang pelan dan suara ponsel kasir yang memutar musik Sunda instrumental.
Prabu memilih meja yang sedikit menyudut, dekat kasir. Ia ingin ruang dengan pandangan luas, tapi tetap cukup jauh dari keramaian. Ia memesan kopi hitam—pahit tanpa gula. Pahit yang tidak perlu disembunyikan, seperti realitas hidup yang sedang ia hadapi: tentang kehilangan, tentang harapan baru yang masih rapuh.
Sambil menunggu, ia membuka laptop — mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan. Namun fokusnya seperti air hujan yang selalu jatuh mengikuti gravitasi; pikirannya kembali kepada Isma.
Tak sampai satu jam, tiga sosok muncul di pintu MM Juice Gadog. Isma berjalan di depan, kerudungnya sederhana, wajahnya lembut seperti embun di pucuk daun teh. Di belakangnya: ayah dan ibu — langkah mereka canggung, namun penuh hormat.
Prabu lekas berdiri. Ia menjabat tangan ayah Isma erat, lalu memberi salam penuh takzim pada sang ibu. “Silakan duduk, Pak, Bu,” katanya, menjaga suara agar setenang udara Puncak yang dingin.
Irama restoran bergerak seperti biasa: denting sendok, suara blender jus, aroma jeruk segar. Tapi bagi Prabu, semua itu seperti hening panjang yang menunggu keputusan besar.
Prabu memanggil pelayan. Isma memesan sop buntut—makanan favoritnya. Ayahnya memilih mie rebus, ibunya jus alpukat. Prabu menambahkan camilan kecil, sekadar berharap suasana menghangat sebelum kalimat-kalimat serius meluncur.
Dan tibalah saat itu.
Dengan suara yang ia jaga agar tak seperti ceramah, Prabu membuka percakapan:
“Saya sudah sampaikan ke Irna… bahwa saya ingin menikah lagi. Bukan bermain-main. Saya ingin yang halal. Saya ingin menjaga diri saya — dan menjaga Isma, kalau ia bersedia.”
Ayah Isma mengangguk pelan. Ibunya menunduk, menyembunyikan sesuatu yang rumit dalam hatinya.
Prabu melanjutkan, “Saya sadar usia saya jauh lebih tua. Bahkan lebih tua dari Bapak…”
Ia tersenyum kecil — senyum seorang lelaki yang paham bahwa usia adalah statistik yang sering disalahgunakan.
“Para ulama sejak lama menjelaskan: syarat pernikahan itu bukan usia, melainkan kerelaan dan kemampuan menjaga hak-hak masing-masing. Rasulullah pun menikahi Aisyah yang jauh lebih muda, dan para sahabat memakluminya. Jadi secara syar’i… tak ada yang dilanggar.”
Ayah Isma menimpali, “Kalau usia mah kami tak keberatan, Pak. Yang penting Isma nyaman.”
Itu jawaban yang baik. Namun belum jawaban yang ia cari.
Lalu pertanyaan itu datang — meluncur dari bibir ibu Isma dengan ketelitian seorang ibu yang menjaga harga diri anaknya: “Bapak katanya belum cerai dari istri kedua?”
Seketika dada Prabu terasa diketuk keras dari dalam. Ia menelan ludah yang mendadak pahit — jauh lebih pahit daripada kopi yang sudah dingin. Ia memaksa diri tetap tenang. “Itu sudah saya serahkan ke pengacara,” jawabnya.
Ia sempat menjelaskan sedikit tentang perkara mahar yang belum kembali, dan ancaman hukum yang mungkin ditempuh. Kata-katanya jujur — namun terlalu tajam, terlalu legalistik untuk telinga seorang ibu yang hanya ingin memastikan anaknya tidak masuk ke dalam badai.
Wajah ibu Isma mengeras. Kekhawatiran yang sebelumnya samar kini muncul ke permukaan. Ia menatap Isma — bukan dengan marah, tapi dengan kecemasan seorang ibu tentang masa depan darah dagingnya.
“Isma… bagaimana menurut kamu?”
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Suaranya sangat pelan, seperti daun kering yang jatuh tanpa bunyi. “Saya belum tahu, Ma…”
Jawaban itu menghantam Prabu jauh lebih keras dari pertanyaan sebelumnya. Ada jeda panjang — jeda yang dalam teori psikolinguistik menunjukkan kegamangan batin yang sulit dijembatani kata.
Ibu Isma kembali bertanya: “Bagaimana prosedur pernikahan nanti?”
Prabu menjelaskan rencana awalnya: nikah siri dulu — sah agama, administrasi belakangan. Kuliah untuk masa depan Isma. Hidup sederhana, halal, pelan-pelan membangun.
Namun justru kalimat-kalimat itu membuat suasana mengental.
Ada yang berubah pada sorot mata ibu Isma — dari ingin percaya, menjadi ingin berhati-hati. Bahkan Isma yang tadinya menunduk dalam keramahan kini menatap Prabu dengan kecemasan yang sulit ia sembunyikan.
Ayah Isma mencoba menetralkan, “Tergantung Isma… kami tidak ingin memaksa.”
Tapi mereka semua tahu — keraguan sudah duduk di meja bersama mereka.
Tak lama kemudian Ronaldo datang. Prabu melambai menyapanya. Dan seperti menemukan pintu keluar dalam sebuah ruangan yang sempit, keluarga Isma segera berdiri.
“Kami pamit dulu, Pak,” kata ayah Isma.
Prabu mengangguk. Tidak bisa berbuat lebih banyak.
Ia menatap punggung mereka menjauh — tiga orang berboncengan di sepeda motor tua, menembus kabut Gadog yang kian menebal. Sebuah fragmen sosial yang begitu jujur: kemiskinan memaksa mimpi melaju di atas dua roda yang berderit.
Ketika motor itu hilang di tikungan, Prabu menutup laptopnya pelan. Kopi hitamnya kini hanya air dingin yang gagal menghangatkan siapa pun.
Di dadanya muncul dua rasa sekaligus: takut kehilangan kesempatan dan takut mengambil kesempatan dari seseorang yang belum siap
Ia bertanya dalam hati: Bisakah cinta tumbuh di tanah yang gersang oleh kemiskinan, keraguan, dan selisih usia? Atau justru tanah seperti itulah yang melahirkan cinta yang lebih jujur—lebih berserah kepada Tuhan?
Di luar sana, kabut terus turun. Seakan langit ikut resah pada jawaban yang belum lahir. Prabu meraih kopinya. Pahit. Ia menatap ke depan. Pertarungan baru saja dimulai. (Bersambung ke Bagian 7)


