Senja Temaram di Cipayung — Bagian 7: Isma

Must Read

Prabu terpaku. Kata-kata Caca barusan seperti petir yang menyelinap tanpa suara. Ia tahu sambungannya akan memporakporandakan harapan. Ia memalingkan wajah ke luar jendela. Gunung Gede terlihat samar dari kejauhan, pucuknya ditutupi kabut yang melayang seperti napas alam yang gelisah.

Pelayan datang membawa dua gelas teh hangat yang masih mengepulkan uap. Aroma melati berbaur dengan udara dingin pagi itu. Seharusnya momen itu hangat untuk pasangan pengantin baru. Tapi bagi Prabu, udara justru terasa menusuk tulang. Perutnya yang tadinya lapar, mendadak tak sanggup menelan apa pun.

Dalam ilmu neuropsikologi, perasaan sakit hati seringkali mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik—anterior cingulate cortex. Dan Prabu merasakannya dengan sangat jelas: seperti dada diremas logam panas, tengkuk menegang hingga berdengung.

Ia bertanya dalam hati: “Sudah sejauh ini aku berkorban. Uang, waktu, tenaga, kesungguhan, bahkan marwahku sebagai lelaki. Dan balasannya? Dinginnya tembok perasaan.”

Milad 117 H Muhammadiyah

Semua bayangan manis tentang istri muda impian kini memudar. Yang tersisa adalah ketakutan pahit akan pengkhianatan dan penolakan. Ia teringat kata-kata Umar bin Khattab: “Jangan mencintai seseorang sedalam-dalamnya, karena bisa jadi suatu saat ia adalah yang paling kamu benci.”

Seperti itulah cinta Prabu kini—ia mencintai dalam-dalam, dan sedang merasakan pedihnya jurang kekecewaan.

Pikiran Prabu mulai bergerak liar. Ia teringat bagaimana Caca marah ketika ia mencari tahu soal pabrik di Ciburial—atau Cibadak—atau entah di mana. Informasi yang tidak jelas itu seperti benang kusut yang menuntut jawaban lebih keras dari sebelumnya. “Kenapa dia begitu defensif? Apa yang sebenarnya ia sembunyikan?”

Dan yang paling tajam: “Apakah aku ini hanya mesin uang bagi dia?”

Teori ekonomi perilaku menyebut moral hazard—ketika satu pihak memanfaatkan informasi yang disembunyikan untuk keuntungan sepihak. Prabu mulai merasa dirinya korban eksperimen sosial yang pahit.

Ia menelusupkan jari ke dagu, menenangkan diri dengan logika. Ia adalah lelaki terdidik, paham syariah dan fikih poligami. Ia mengikuti pandangan Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-Albani, hingga Yusuf Al-Qaradhawi tentang hak dan kewajiban suami-istri dalam pernikahan kedua.

Dan kini hak-haknya diinjak, kewajibannya—justru ia yang memikul seorang diri.

Prabu menghela napas panjang. Ia ingin percaya bahwa semua ini masih bisa diperbaiki. Tapi sisi lain hatinya berbisik: “Barangkali aku tertipu. Barangkali cinta ini hanya ilusi hitam.”

Sementara Caca…tenang saja memotong roti bakarnya, mengusap meja dari remah-remah, seolah yang akan dibicarakan nanti bukanlah perkara hidup-mati hubungan mereka.

Prabu menatap perempuan itu. Yang dinikahinya dengan ijab kabul di hadapan Allah. Yang seminggu lalu masih memanggilnya suami dengan penuh manja. Yang kini menjaga jarak seolah ia hanyalah kerikil di sepatu.

Tangan Prabu mengepal di bawah meja. Ia menahan amarah yang bergolak.

Dalam hati ia berdoa lirih: “Ya Allah… jika ini ujian untuk menguatkanku, lapangkan dadaku. Tapi jika ini adalah penipuan, bukakan tabir kebenaran itu segera…”

Ia menatap lagi Caca. Perempuan itu akan membuka mulutnya sebentar lagi. Dan Prabu tahu: kalimat yang akan keluar bisa menjadi vonis terakhir untuk pernikahan mereka yang bahkan belum sempat berlayar.

Dalam diam, Prabu siap mendengar—meski hati belum tentu siap menerima.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This