Prabu sadar apa yang ia sampaikan memiliki dasar kuat dalam fiqh munakahat. Para ulama dari empat mazhab menetapkan bahwa jika istri menggugat cerai sebelum dukhul, maka mahar wajib dikembalikan. Ia teringat perkataan Imam Syafi’i: “Pada mahar terdapat hak suami jika terjadi fasakh sebelum terjadi hubungan suami-istri.”
Prabu bergeser mendekati Caca. Ia memeluk perempuan itu dari belakang — pelukan yang bukan lagi berisi cinta, melainkan sisa-sisa harapan yang remuk. “Mengapa bisa berakhir seperti ini, Ca…?” suara Prabu parau, menahan gemuruh di dadanya.
Caca mematung. Tidak ada balasan pelukan. Tangannya kaku, wajahnya tertunduk. Mungkin rasa bersalah menyekap seluruh geraknya. Atau mungkin… hanya kebingungan yang mendominasi.
Di luar, matahari merangkak naik menyelimuti lereng-lereng hijau Caringin. Udara yang semestinya sejuk kini terasa sesak.

Waktu berjalan pelan. Keduanya diam cukup lama, sampai siang hari menyelinap masuk ke sela jendela restoran.
Akhirnya, mereka keluar dari restoran itu. Tidak ada lagi percakapan berarti di antara mereka. Napas keduanya berat seperti kabut pagi yang tertinggal di sela-sela pepohonan Puncak.
Caca kemudian meminta diantar ke sebuah salon kecantikan di wilayah Caringin. Sebuah ruko kecil di pinggir jalan beralaskan bebatuan hitam yang masih basah. Di depannya tergantung pot-pot bunga lili yang mulai layu, persis seperti harapan yang sejak tadi mati perlahan di dada Prabu.
Aroma tanah basah menyeruak, sisa hujan semalam yang menyisakan dingin menusuk.
Sesampainya di depan salon, Caca hanya berkata singkat:
“Terima kasih, Bang.”
Kalimat itu seperti pintu yang menutup dengan gemuruh, meski hanya diucapkan lirih.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada senyum perpisahan.
Tidak ada tanda ia ingin diperjuangkan lagi.
Prabu mengangguk, seolah itu satu-satunya bahasa yang tersisa untuk mereka berdua. Caca masuk ke salon, pintu kaca menutup, dan Prabu terpaku di balik kemudi. Dunia tiba-tiba mengecil, seperti hanya tersisa ruang sebesar kabin mobilnya.
Ia teringat ucapan Jalaluddin Rumi: “Cinta tidak pernah memaksa. Ia selalu mengajak dengan lembut. Jika ia memaksa, ia bukan cinta.”
Kalimat itu menghantam dadanya dengan getir yang tak bisa ia cegah. Tangannya bergetar saat meraih ponsel. Ia menekan nama yang sudah lama ada di daftar kontak, tapi baru hari itu ia butuhkan sedalam ini: Irna—mak comblang yang dulu penuh harapan, kini menjadi saksi kehancuran.
Begitu tersambung, kalimat Prabu meluncur cepat: “Saya akan cerai. Saya tertipu.”
Hening di seberang. Irna seperti mengatur napas sebelum bertanya pelan: “Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?”
“Banyak,” jawab Prabu pendek. “Kita ketemu saja.”
Ia memutus telepon tanpa menunggu jawaban. Mobil kembali melaju pelan, meninggalkan Caringin, menuju Gadog—menuju penanda babak baru kehidupannya.
Gadog siang itu masih berbalut wangi tanah basah, kabut yang turun pelan menyelimuti restoran MM Juice. Di situlah Prabu bertemu Irna.
Lampu-lampu kuning hangat. Suara blender jus dan piring beradu. Kontras dengan batinnya yang kusut berantakan.
Irna datang dengan langkah mantap, wajahnya siap mendengar sekaligus menilai.
Tanpa basa-basi, Prabu bercerita: “Saya menikah dengan Caca. Karena itu saya menolak ketika Teh Irna ingin mempertemukan saya dengan perempuan lain.”
Irna bukan orang baru dalam hidup Prabu. Ia adalah salah satu mak comblang, selain Ima, yang selama ini menjadi perantara perjodohan—saksi perjalanan Prabu mencari pendamping halal. Sejak awal, Irna tahu seluruh kisah Prabu: perjalanan spiritualnya, keinginannya menjalankan sunnah poligami dengan penuh tanggung jawab, termasuk prinsip-prinsip yang ia pegang dalam memilih pasangan.
Karena itu, ketika Prabu berkata dengan suara berat: “Saya pikir kesetiaan akan cukup… Tapi rupanya saya salah.”
Irna mendengarkan dengan alis terangkat sedikit, menandakan ia terkejut sekaligus prihatin.
Prabu melanjutkan: “Yang Teh Irna kenalkan sebelumnya… banyak yang hanya ingin uang saya. ATM berjalan. Itu sebabnya sejak awal saya bilang: saya bukan orang kaya. Saya hanya ingin ibadah saya lebih baik… bila pun poligami, saya ingin perempuan yang matang: 25–40 tahun. Jangan terlalu muda.”
Irna menyentuh bahunya sebentar—gestur yang bermaksud menenangkan: “Jodoh itu misteri, Pak. Kadang datang dari jalan yang kita tak sangka.”
Ia lalu memperlihatkan beberapa foto calon baru. Tapi Prabu hanya menatap sekilas—hatinya masih tertinggal di depan salon Caringin.
Dalam hati ia mengulang prinsip yang ia pegang: “Poligami bukan sekadar keinginan… tapi amanah,” bergitu pesan Syekh Ali Juma’ah. Dan dalam Teori Biologi Evolusi, “manusia cenderung mencari pasangan lebih dari satu karena naluri biologis,”
Namun ia kembali pada etika sebagaimana Immanuel Kant katanya, “Perempuan bukan objek keinginan, tapi subjek moral yang setara.”
Ia tahu: Ini bukan tentang syahwat. Bukan pula tentang pelarian. Yang ia cari adalah teman menuju surga. Bukan pasangan yang datang karena uang lalu pergi tanpa berpamitan.
Irna akhirnya menutup percakapan dengan sebuah kalimat yang membuat Prabu terdiam lebih lama dari biasanya: “Mungkin Caca bukan akhir, Pak. Patah hati sering kali penunjuk jalan Tuhan ke arah yang lebih benar.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun menukik dalam. Prabu terpekur. Kabut di luar jendela restoran menebal, seolah alam ingin menyembunyikan air matanya agar tetap laki-laki di mata dunia. Ia menatap sisa teh yang telah dingin dan hambar, lalu menarik napas panjang—seolah berharap oksigen dapat membawa sebagian bebannya pergi.
Petualangan mencari istri halal — yang ia kira mudah dengan modal uang, pengetahuan agama, dan niat baik — justru menghadirkan kompleksitas sosial, moral, dan emosional yang jauh melampaui kajian akademis mana pun. Poligami bukan hanya teks fikih: ia adalah medan ujian manusia.
Dan di luar sana… di antara dingin Puncak yang menyergap pelan… babak berikutnya sedang menunggu giliran.
“Bapak akan saya perkenalkan dengan seorang gadis. Ia ingin segera menikah. Tidak keberatan menjadi istri kedua,” ujar Irna tiba-tiba, suaranya dibuat bersemangat, seolah ini bisnis yang menjanjikan.
Prabu mengangguk singkat. “Sekarang?”
Irna segera berdiri, sibuk menekan nomor di ponselnya sambil berjalan kecil di sekitar meja. Setelah beberapa menit negosiasi terdengar samar, ia kembali duduk. “Ada dua orang yang akan saya perkenalkan kepada Bapak. Ini ikhtiar. Siapa tahu… jodoh.”
Perempuan pertama masuk dengan langkah mantap. Tinggi sekitar 165 sentimeter, kulitnya terang, wajah oval dengan mata tajam — seperti mampu membaca masa lalu seseorang. Pada lengannya terdapat tato bunga kecil yang tintanya mulai pudar; sebuah artefak psikologis, tanda bahwa ia pernah ingin menjadi seseorang yang lain. Belakangan, Prabu mengenal namanya: Ica.
Belum sempat perkenalan dimulai, Irna menyodorkan tangan ke Prabu. “Pak… minta uang rokok dulu.”
Prabu mengembuskan napas getir. Permintaan seperti itu sudah menjadi ritus sosial tak tertulis dalam perjodohan ini — ekonomi moral yang terlanjur menjadi kebiasaan. Ia menyerahkan lima puluh ribu. Sebelumnya ia sudah memberikan jumlah sama “untuk ojek Ica”.


