Tidak lama, meja mereka dipenuhi makanan. Jus jeruk. Nasi goreng. Mi rebus. Salad alpukat. MM Juice memang tempat makan — tetapi hari itu, ia berubah menjadi pasar keputusan hidup.
Ica duduk rapi, suaranya nyaris tidak terdengar.
Prabu menyampaikan mottonya — seperti proposal filosofis yang selalu ia ulang: “Saya ingin menikah untuk menjaga diri. Tidak pacaran. Tidak pegangan tangan sebelum akad. Saya ingin hubungan yang halal dan sehat.”
Ica mengangguk. Namun bagi Prabu, itu belum jawaban. Hanya gestur sopan — bukan komitmen. Pertemuan selesai tanpa simpul pasti. Ica pamit. Irna mengedipkan mata — kode transaksi. Prabu kembali mengulurkan uang. Dua ratus ribu berpindah tangan.

Tak ada amarah. Hanya rasa getir yang menyelinap — seperti kutipan Erich Fromm yang pernah ia baca: “Hubungan transaksional menggerus cinta sebelum ia tumbuh.”
Tak lama setelah kopi ketiga mendarat di atas meja, seorang gadis mungil masuk. Kerudung yang ia kenakan sederhana; tak ada riasan mencolok, hanya wajah lembut dengan senyum yang dipaksakan agar ketegangan tak terlihat. Langkahnya ragu namun terarah.
Namanya Isma. Umurnya baru dua puluh satu tahun.
Irna memperkenalkannya dengan gaya seorang agen properti yang lihai membaca nilai jual sebuah bangunan: “Masih gadis. Sunda–Aceh. Bapaknya dulu penambang emas tradisional. Sekarang keduanya lagi susah. Isma penopang keluarga.”
Prabu memperhatikan dengan diam yang bekerja lebih keras dari kata-kata. Ada keluguan otentik yang tidak dibuat-buat. Kesederhanaan yang justru menghadirkan martabat.
Isma adalah gadis lulusan SMA yang pernah bekerja di konfeksi sebelum kontraknya berakhir. Ia menjadi penopang keluarga dengan dua adiknya yang masih sekolah. Meski hidupnya dililit kesulitan, ia tak pernah menjadikan penderitaan sebagai komoditas: tidak mendramatisir nasib, tidak menjual air mata sebagai alat tawar — kesederhanaannya justru memancarkan martabat.
Prabu teringat Pierre Bourdieu bahwa dalam masyarakat berlapis, keterbatasan ekonomi kerap memaksa reproduksi sosial berulang: perempuan muda menikah dini sebagai strategi bertahan hidup. Irna memahami logika itu. Ia telah menjadikannya komoditas.
Pada pertemuan seperti ini, solusi selalu memiliki harga transaksional.
Hari itu, uang kembali berpindah tangan tanpa banyak dialog. 200 ribu untuk Isma — disebut “tanda ketulusan”. 600 ribu lebih untuk tagihan makanan. 200 ribu lagi untuk jasa Irna sebagai perantara.
Prabu menghela napas. Mungkin ini berkah. Mungkin ujian.
Ia teringat ucapan ulama Maroko, Syaikh Muhammad al-Majd: “Poligami bukan pesta. Ia adalah ujian niat dan kedewasaan menanggung beban.”
Mungkin ujiannya dimulai dari dompet —tapi jauh di kedalaman batin, nama Isma tertinggal.
Ada getaran yang tak pernah ia rasakan bersama Ica. Isma tidak tampak menjual diri. Ia lebih seperti seseorang yang… Jika memilih menikah, itu bukan strategi, melainkan takdir.
Udara Gadog siang itu mulai menipis. Kabut dari Puncak merayap turun, seperti tirai yang berusaha menyembunyikan segala pergolakan batin di dalam dari sorot dunia luar. Hujan baru saja selesai; petrichor bertahan di udara. Pinus-pinus menjulang seperti penjaga tua.
Prabu menyandarkan tubuhnya, lalu berkata pelan namun tegas: “Menikahlah dengan Bapak…”
Isma mengangkat wajah. Mata bening yang penuh tanya.
Prabu melanjutkan: “Bapak akan kuliahkan Isma sampai sarjana. Kalau perlu S2. Ilmu itu harta paling aman dalam hidup. Mungkin Bapak tak bisa wariskan banyak harta… tapi dengan ilmu, Isma akan cukup.”
Jemari Isma saling menggenggam — bahasa tubuh defensif, kata Paul Ekman. Tapi Prabu justru menangkap itu sebagai ketidaksiapan… bukan penolakan.
“Jadilah istri Bapak sekaligus mahasiswa. Kita bisa kos di Jakarta — yang terima pasangan halal. Isma kuliah malam hari, sementara Bapak selalu ada di dekat Isma.”
Irna menambahkan cepat, seperti hendak menutup transaksi: “Dengarkan itu, Isma. Jarang laki-laki mau biayai istri sekolah.”
Prabu menunduk sejenak, lalu menyisipkan dalil: “Ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Nabi bersabda: ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.’ Imam Syafi’i berkata: Ilmu adalah cahaya. Kalau Isma jadi istri Bapak, Isma — dengan izin Allah — akan bersinar.”
Irna mengangguk bangga. Tapi Isma tetap diam. Matanya berkabut oleh konflik dalam dirinya —Leon Festinger menyebutnya cognitive dissonance, pertarungan antara keinginan dan ketakutan.
Dalam hati Prabu bergolak: pernikahan bukan hanya kesiapan laki-laki, tapi keberanian perempuan untuk percaya.
Ia teringat Jean-Paul Sartre: “Cinta adalah keputusan yang diulang setiap hari.”
Apakah Isma kelak mampu mengulang keputusan itu? Prabu menunggu. Dan dalam menunggu, manusia belajar rendah hati. “Isma… maukah menjadi bagian dari masa depan Bapak?”
Diam. Tak ada iya. Tak ada tidak. Hanya pergolakan sunyi yang tak terucapkan.


