Madu Pahit Nenden — Bagian 11: Di Depan Vila

Must Read

Oleh Miftah H. Yusufpati

PAGI itu, Cipayung diguyur hujan deras. Petir menyambar di balik kabut yang turun rendah dari lereng Megamendung, seakan langit sedang menumpahkan seluruh beban yang dipendamnya semalaman. Angin kencang menggoyang pucuk-pucuk pohon pisang di belakang rumah, membuat daun-daunnya saling beradu, seperti bisik-bisik alam yang gelisah. Tanah merah di halaman berubah licin, memantulkan aroma basah yang khas—bau hujan yang bagi orang kampung selalu berarti berkah, sekaligus peringatan.

Di dalam rumah, kehidupan berjalan dalam ritme yang akrab. Nenden sudah sibuk di dapur bersama Iis. Uap nasi mengepul dari dandang, bercampur aroma bawang goreng yang ditumis perlahan. Iis memotong sayuran dengan gerakan terlatih—gerakan seorang perempuan yang telah puluhan tahun berdamai dengan keterbatasan dan tak pernah benar-benar menyerah padanya. Di ruang tengah, Isma menyapu lantai dengan gerakan ritmis dan teliti, seolah setiap helai debu memiliki tempatnya sendiri untuk disingkirkan. Nabila dan Firly masih terlelap di kamar, tubuh kecil mereka meringkuk hangat, tak terganggu oleh gemuruh hujan dan gelegar petir.

Ponsel Nenden bergetar di saku dasternya.
Nama Andrinov muncul di layar.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Sedang apa, Nden?” tulisnya.

Nenden melirik sekilas, lalu membalas sambil tetap mengaduk sayur.
“Sibuk di dapur. Biasa.”

Belakangan ini, Andrinov menjadi ritme tersendiri dalam hidup Nenden. Jika tidak menelepon, ia mengirim pesan—pagi, siang, malam—seperti penanda waktu yang konsisten. Tidak menuntut, tidak memaksa, tetapi hadir. Dalam attachment theory yang diperkenalkan John Bowlby, kehadiran berulang semacam ini bisa menumbuhkan rasa aman, bahkan sebelum kepercayaan benar-benar matang. Nenden menyadari itu, namun ia membiarkan pesan-pesan tersebut mengalir, sebagaimana air hujan mengikuti kemiringan tanah.

Ironisnya, ketika hujan menggila di Cipayung, Andrinov berada jauh di Malaysia. Di sana cuaca cerah, matahari bersinar tenang di atas toko yang dikelola keluarganya. Hujan di Cipayung tak pernah sampai ke negeri jiran itu—seperti juga beban hidup Nenden yang tak sepenuhnya bisa ia bagikan.

“Kapan Nenden mulai bekerja?” tanya Andrinov lagi.

Pertanyaan itu kerap diulang setiap kali mereka berbincang. Dan justru dari pengulangan itulah, tekad Nenden perlahan mengeras. Dalam ekonomi rumah tangga, keputusan sering kali tidak lahir dari hasrat, melainkan dari desakan. Seperti yang ditulis Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi, kemiskinan bukan semata ketiadaan pendapatan, melainkan ketiadaan pilihan yang layak.

“Tunggu saja Abang balik ke Jakarta,” jawab Nenden.

Jawaban itu bukan basa-basi. Ia lahir dari perhitungan yang sunyi. Kondisi ekonomi rumah telah memasuki fase genting. Toko yang dulu menjadi tumpuan telah tergadai. Simpanan kian menipis. Dengan hati yang masih menyimpan trauma, Nenden mulai menarik uang dari kartu ATM yang diberikan Andrinov. Saldo sepuluh juta rupiah kini tinggal separuhnya.

Dalam Islam, harta adalah amanah. Imam Al-Ghazali pernah menulis bahwa uang ibarat ular: ia bisa menjadi alat, tetapi juga bisa menjadi racun, tergantung bagaimana manusia menggenggamnya. Nenden memahami itu. Setiap kali menarik uang, ia mencatatnya. Setiap pengeluaran ia laporkan.

“Uangnya saya pakai buat kebutuhan rumah, Bang,” tulisnya suatu hari.
“Pakai saja,” balas Andrinov. “Nanti Abang transfer lagi kalau sudah habis.”

Nenden menatap layar ponsel cukup lama sebelum menjawab.
“Terima kasih, Bang.”

Ucapan itu sederhana, namun di baliknya tersimpan pergolakan batin yang tak ringan. Ia teringat sabda Nabi Muhammad: “Sebaik-baik harta adalah harta yang berada di tangan orang saleh.”  Tetapi ia juga ingat peringatan para ulama tentang bahaya ketergantungan yang perlahan mengikis martabat.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This