Madu Pahit Nenden — Bagian 11: Di Depan Vila

Must Read

Andrinov berpamitan ketika melihat kelopak mata Nenden mulai berat. Hari telah melewati batas wajar bagi seorang ibu dengan anak kecil. Ia tidak banyak bicara—hanya pesan singkat agar Nenden beristirahat—lalu melangkah pergi, meninggalkan rumah kontrakan itu dalam kesunyian yang lembut. Jakarta di luar masih berdenyut, tetapi di dalam, waktu seolah diperlambat.

Di ranjang yang dulu—ranjang yang menyimpan jejak tawa, letih, dan doa—Nenden merebahkan tubuhnya di samping Nabila. Putrinya telah terlelap lebih dulu. Napas kecilnya teratur, seolah menenangkan kegelisahan yang belum sepenuhnya reda di dada Nenden. Ia menatap langit-langit lama, membiarkan ingatan datang dan pergi, sebelum akhirnya tertidur.

Tengah malam, Nenden terbangun oleh suara lirih Nabila meminta minum. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.00. Dengan langkah tertatih, ia menuju meja di ruang tamu. Masih ada air kemasan yang dibawa dari Cipayung—air yang rasanya berbeda, mungkin karena dibawa bersama niat pulang dan pergi sekaligus. Setelah Nabila minum, gadis kecil itu kembali pulas, seolah dunia memang aman selama ibunya ada di dekatnya.

Nenden tidak kembali ke ranjang. Ia mengambil air wudu. Air dingin menyentuh kulit, membangunkan kesadaran yang sempat terlipat oleh lelah. Ia berdiri menghadap kiblat, menunaikan salat tahajud. Bacaan ayat-ayat mengalir pelan. Pada sujud yang panjang, waktu terasa mencair. Dalam tradisi tasawuf, sujud adalah titik terendah manusia dan titik tertinggi doa—saat ego dilepaskan, dan harap diserahkan.

Milad 117 H Muhammadiyah

“Ya Allah,” ucapnya lirih, “jika Andrinov baik buatku, lancarkanlah ikhtiar ini.”

Ia tidak menuntut tanda yang gemuruh. Ia hanya memohon kejernihan. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa doa bukan alat untuk memaksa takdir, melainkan cara membersihkan hati agar mampu menerima keputusan-Nya. Nenden memahami itu. Ia tidak menutup mata terhadap arah yang sedang terbentuk. Andrinov belum mengucapkan isi hatinya dengan kata-kata yang panjang, tetapi arah langkahnya telah berbicara.

Dalam psikologi relasional, manusia sering membaca intensi bukan dari pernyataan, melainkan dari konsistensi tindakan. Dan di situlah Nenden menimbang: kesiapan, kejujuran, dan batas. Ia tidak keberatan jika takdir kelak mempertemukan mereka—apa pun status Andrinov—selama kejujuran berdiri di depan. Bukan karena ia menyepelekan hukum atau etika, melainkan karena ia belajar pahit dari kebohongan yang pernah merobek hidupnya.

Kejujuran adalah fondasi. Dalam fikih muamalah, para ulama menempatkan shidq (kejujuran) sebagai asas transaksi—dan pernikahan, lebih dari apa pun, adalah akad paling agung. Ibn Qayyim al-Jauziyah menulis bahwa setiap akad yang berdiri di atas tipu daya, meski sah secara bentuk, akan runtuh secara makna. Nenden tidak ingin mengulang luka lama: janji yang manis, fakta yang pahit.

“Apa yang bisa diharapkan dari lelaki pembohong?” pikirnya. Kebohongan bukan sekadar kesalahan moral; dalam teori kepercayaan sosial, ia merusak predictability—kemampuan manusia memperkirakan masa depan bersama orang lain. Tanpa itu, hubungan berubah menjadi kecemasan yang berkepanjangan.

Sujudnya berakhir. Nenden duduk sejenak, mengatur napas. Ia tahu, pilihan hidup jarang datang sebagai jawaban bersih. Ia datang sebagai rangkaian ikhtiar yang harus diuji oleh waktu dan nilai. Di luar, Jakarta masih gelap. Di dalam, hati Nenden pelan-pelan terang.

Ia kembali ke ranjang, memeluk Nabila. Dalam pelukan itu, ia menguatkan satu janji kepada dirinya sendiri: apa pun yang terjadi, ia tidak akan menukar martabat dengan kemudahan, tidak akan menukar kejujuran dengan rasa aman semu. Madu boleh manis, tetapi pahitnya telah mengajarkan cara membedakan.

Dan malam itu, di antara doa dan denyut kota, Nenden memilih berjalan dengan mata terbuka—menyerahkan hasil kepada Tuhan, sambil menjaga batas yang ia pasang sendiri.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This