Nenden menarik napas panjang. Dunia kembali menuntutnya untuk kuat. Dan kali ini, ia siap—bukan karena janji siapa pun, melainkan karena kesadarannya sendiri. Kesadaran yang lahir dari luka, dari kehilangan, dari doa-doa yang dipanjatkan dalam sujud panjang di sepertiga malam. Ini mengingatkan orang akan perkataan Ibnu Atha’illah as-Sakandari: “Kadang Allah membuka pintu taat bagimu, tapi tidak membuka pintu penerimaan. Dan kadang Dia membuka pintu penerimaan meski pintu amal tampak tertutup.” Barangkali, pikir Nenden, hidupnya kini berada di fase itu: pintu penerimaan sedang dibukakan, perlahan.
Siang hari, matahari Jakarta bersinar keras, memantul di atap-atap rumah kontrakan Pondok Gede yang berderet rapat. Udara terasa padat, bukan hanya oleh panas, tetapi oleh denyut kota yang tak pernah benar-benar istirahat. Di antara suara pedagang keliling dan klakson kendaraan, ponsel Nenden berdering. Nama Andrinov muncul di layar.
Ia mengajak Nenden melihat-lihat rumah yang telah ia kontrak. Nenden setuju, namun meminta waktu sore hari. Mereka sepakat. Bagi Nenden, waktu bukan sekadar jadwal, tetapi batas—sebuah cara menjaga dirinya agar tidak tergelincir terlalu jauh. Dalam etika Islam, menjaga batas (hifzh al-hudud) adalah bentuk kehormatan diri, sebagaimana ditegaskan Imam An-Nawawi dalam syarah hadis-hadis adab pergaulan.
Bakda ashar, jeep Andrinov sudah memasuki gang sempit di depan kontrakan Nenden. Gang itu khas Jakarta pinggiran: cukup untuk satu mobil lewat perlahan, dengan anak-anak bermain bola di ujungnya dan jemuran pakaian menggantung seperti bendera-bendera kecil kehidupan sehari-hari. Andrinov memarkir kendaraan dan turun. Ia duduk di kursi plastik di teras rumah Nenden, memperhatikan pintu yang tertutup rapat.

Di dalam rumah, Nenden sedang salat. Gerakannya tenang, bacaan ayatnya mengalir pelan. Salat baginya bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan jangkar psikologis. Viktor Frankl, psikiater dan filsuf eksistensial, pernah mengatakan bahwa manusia mampu bertahan dari penderitaan apa pun selama ia menemukan makna. Dan bagi Nenden, makna itu sering kali ia temukan dalam dialog sunyi dengan Tuhannya.
Suara Nabila yang merengek terdengar dari dalam rumah. Andrinov menoleh. Ia menunggu beberapa saat, lalu mengetuk pintu dengan sopan. Ketukan itu terdengar sampai ke telinga Nenden. Ia memperpendek doanya, memberi salam, lalu bangkit dan membuka pintu.
“Tunggu sebentar ya,” ujar Nenden lembut.
Andrinov mengangguk. Ia tetap duduk, tangannya bertumpu di lutut, menahan rasa ingin tahu dan—ia akui—kekaguman yang tumbuh diam-diam. Dari celah pintu yang kembali tertutup, terdengar suara langkah kecil dan gemerisik pakaian.
Nenden mengganti baju Nabila terlebih dahulu, lalu dirinya sendiri. Ia mengenakan atasan berwarna pink lembut, celana denim sederhana, dan topi pink yang melindungi wajahnya dari sisa panas sore. Rambutnya dibiarkan tergerai, jatuh alami di bahu. Tidak ada riasan berlebihan. Justru dalam kesederhanaan itu, kecantikannya tampak utuh—kecantikan yang lahir dari ketenangan batin, bukan dari upaya menarik perhatian.
Ketika ia keluar dan mengunci pintu rumah, Andrinov berdiri. Sejenak, lelaki itu terpaku. Ada sesuatu dalam penampilan santai Nenden yang membuatnya terdiam. Mungkin karena ia melihat perempuan yang tidak sedang berusaha mengesankan siapa pun. “Cantik,” bisiknya nyaris tak terdengar, lebih seperti pengakuan pada dirinya sendiri.
Nenden bersikap cuek. Ia telah belajar, dalam pengalaman hidupnya, bahwa pujian sering kali menjadi pintu awal dari ekspektasi yang melelahkan. Ia memilih mengalihkan langkah ke samping, menemui Mbok Rani yang rumahnya berdempetan.
“Mbok, Nenden mau keluar sebentar,” katanya sambil tersenyum.
Mbok Rani mengangguk, matanya menyipit ramah. “Hati-hati, Nden. Jakarta rame,” pesannya sederhana, seperti doa.
Dalam momen kecil itu, Nenden merasakan kontras hidupnya begitu jelas: antara kampung dan kota, antara masa lalu dan masa depan, antara kebutuhan dan kehati-hatian. Ia teringat peribahasa Sunda yang sering ia dengar sejak kecil: hirup mah ulah saukur kuat, tapi kudu pinter nempatkeun diri—hidup jangan hanya kuat, tapi juga harus pandai menempatkan diri.
Andrinov membuka pintu jeep, mempersilakan Nenden dan Nabila masuk. Mesin menyala, kendaraan bergerak pelan keluar gang. Jakarta sore itu menyambut mereka dengan hiruk pikuknya—lampu lalu lintas, pedagang kaki lima, dan manusia-manusia yang sedang mengejar sesuatu, entah apa namanya.
Di dalam jeep yang melaju, Nenden memandang ke luar jendela. Ia tahu, perjalanan ini bukan perjalanan yang bersih dari risiko. Tetapi seperti yang ditulis oleh Ibn Qayyim al-Jauziyyah, “Hati yang hidup adalah hati yang berani berjalan menuju kebenaran, meski jalan itu dipenuhi duri.”
Dan Nenden, dengan madu pahit kehidupannya, sedang belajar menikmati rasa itu—perlahan, sadar, dan penuh tanggung jawab atas pilihannya sendiri. (Bersambung ke Bagian 12)


