Rumah kontrakan di Pondok Gede akhirnya terlihat. Bangunan sederhana itu berdiri apa adanya, catnya mulai kusam, pagar besinya berderit saat disentuh. Di sanalah sebagian hidup Nenden pernah ia tinggalkan begitu saja—bersama pernikahan yang gagal, kenangan yang tak sepenuhnya sembuh, dan barang-barang yang kini harus ia putuskan: dibawa, dijual, atau dilepaskan.
Jeep berhenti perlahan.
Nenden menatap rumah itu cukup lama sebelum membuka pintu. Di dadanya, ada perasaan ganjil—bukan rindu, bukan pula sesal, melainkan kesadaran bahwa hidup tidak pernah benar-benar kembali ke titik semula.
Ia turun, menggandeng Nabila, sementara Andrinov kembali mengambil koper dari belakang.
Matahari Jakarta hampir tenggelam, menyisakan cahaya jingga pucat di antara kabel listrik dan atap rumah-rumah padat.

Di tempat itulah, di ambang pintu rumah kontrakan yang pernah ia sebut rumah, Nenden berdiri sejenak—menghela napas, menegakkan punggung.
Ia tahu, perjalanan ini belum selesai.
Namun satu hal kini pasti: langkahnya bukan lagi sekadar reaksi atas luka, melainkan keputusan sadar untuk menata ulang hidupnya—meski harus dimulai dari reruntuhan yang lama ia tinggalkan.
Daun pintu berderit pelan saat didorong. Aroma rumah lama segera menyergap: campuran debu, kayu lapuk, dan sisa-sisa kehidupan yang pernah berlangsung tenang di dalamnya. Cahaya senja masuk dari jendela depan, menyingkap ruang tamu kecil yang nyaris tak berubah—hanya lebih sunyi.
Dari samping rumah, langkah kaki terdengar tergesa.
Mbok Rani muncul, tubuhnya sedikit membungkuk, kerudung lusuhnya disemat rapi. Wajahnya terkejut, lalu segera berubah hangat.
“Eh, Nenden…” sapanya, tangannya langsung menjulur, menggenggam tangan Nenden dengan erat, seolah takut perempuan itu kembali menghilang. “Mbok kira nggak bakal lihat kamu lagi ke sini.”
Nenden membalas genggaman itu, matanya menghangat.
“Mbok masih di sini?”
“Iya,” jawab Mbok Rani polos. “Mbok masih ngerawat rumah ini. Mas Daniel masih bayar Mbok sampai sekarang.”
Kalimat itu menghantam pelan, tapi tepat. Nama Daniel kembali hadir tanpa sengaja, tanpa nada tuduhan. Hanya fakta yang berdiri apa adanya.
Nenden tersenyum—senyum yang lebih dewasa dari dirinya setahun lalu.
“Terima kasih, Mbok. Nenden jadi tenang dengarnya.”
Ia melirik sekeliling rumah. “Lama ya, Nenden pergi. Setahun lebih.”
Mbok Rani mengangguk pelan. “Lama sekali. Rumah ini sering sepi. Kadang Mbok cuma buka jendela, biar nggak pengap. Takutnya kalau ditinggal lama, rumah juga bisa sedih.”
Ucapan sederhana itu membuat dada Nenden mengencang. Ia menunduk sejenak, lalu menatap kembali ruang yang dulu menjadi saksi harap dan kecewanya—dinding yang menyimpan gema tawa, lantai yang pernah basah oleh air mata, dan sudut-sudut yang mengingatkannya pada hidup yang sempat ia tinggalkan tergesa.


