Madu Pahit Nenden — Bagian 11: Di Depan Vila

Must Read

Pagi di Pondok Gede terasa berbeda bagi Nenden. Lebih sunyi, lebih tertata, seolah rumah itu sedang menahan napas bersamanya. Cahaya matahari masuk dari sela-sela gorden, memantul di lantai yang lama tak disentuh. Nenden memilih beristirahat sejenak. Ia belum ingin memutuskan apa pun: belum tentang bekerja di Tanah Abang, belum tentang arah yang akan ia ambil setelah kembali ke Jakarta. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya jauh lebih letih. Ia paham, keputusan yang baik jarang lahir dari tubuh yang dipaksa bergerak.

Telepon berdering. Nama Daniel muncul di layar.

Nenden mengangkatnya tanpa antusias. Daniel menanyakan kabarnya dengan suara yang dibuat ringan. Nada yang dulu sering ia gunakan untuk menutup sesuatu. Tak lama kemudian, Daniel datang. Di tangannya ada dua bungkus nasi uduk, masih hangat, aromanya mengisi ruang tamu yang dingin.

“Ini untuk sarapan,” katanya, menaruh bungkusan itu di meja.

Milad 117 H Muhammadiyah

Daniel tahu Nenden berada di Pondok Gede. Sehari sebelumnya, Nenden menanyakan status rumah itu. Tentang barang-barangnya yang masih tertinggal, tentang kemungkinan ia kembali sebentar ke Jakarta. Daniel tidak banyak berkomentar saat itu. Ia belajar—terlambat—bahwa terlalu banyak kata sering menjadi bumerang bagi kebohongan.

“Mau kerja di mana?” tanya Daniel kemudian. “Balik saja ke percetakan.”

Nenden diam. Ia menatap nasi uduk itu sejenak—makanan sederhana yang dulu sering mereka makan bersama, sebelum semuanya retak. Dalam psikologi moral, kebohongan yang berulang bukan hanya merusak kepercayaan, tetapi juga menurunkan moral standing pelakunya di mata korban. Nenden merasakannya kini. Ia tidak marah. Ia hanya melihat Daniel seperti seseorang yang kalah—bukan oleh keadaan, melainkan oleh pilihannya sendiri.

“Tidak,” jawab Nenden akhirnya. Singkat, tegas, tanpa penjelasan.

Nabila, yang sejak tadi bersembunyi di balik kaki Nenden, perlahan mendekat. Rasa takutnya bercampur dengan rasa ingin tahu yang jujur. “Itu Papa,” kata Nenden lembut. Mata Nabila bersinar. Ia melangkah mendekati Daniel, yang spontan merengkuhnya—gerakan refleks seorang ayah yang lama menahan rindu.

“Wajahnya mirip kamu,” ujar Nenden datar, nyaris tanpa emosi. “Semoga kelakuannya tak menurun.”

Kalimat itu tidak diucapkan untuk melukai, tetapi untuk menegaskan batas. Daniel terdiam. Ia tahu, setiap bulan ia selalu mengirim nafkah untuk Nabila. Ia menjalankan kewajiban minimalnya. Namun dalam etika Islam, nafkah bukan sekadar transfer uang; ia adalah kehadiran, tanggung jawab, dan keteladanan. Imam Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa hak anak bukan hanya pada harta, tetapi pada perlindungan dan pendidikan jiwa.

Daniel belum sanggup memberi itu. Ia belum sanggup menatap Nenden tanpa merasa kecil oleh luka yang ia ciptakan sendiri. Kemarahan Nenden tak pernah benar-benar mencair. Bukan karena ia menyimpan dendam, melainkan karena luka itu terlalu dalam untuk disembuhkan dengan permintaan maaf yang terlambat.

Nenden memandang adegan itu dengan jarak yang baru. Ia tidak lagi berharap Daniel berubah demi dirinya. Ia hanya berharap, jika pun ada perubahan, itu terjadi demi anak mereka. Dalam teori rekonsiliasi, ada luka yang tidak menuntut pemulihan hubungan, melainkan penataan ulang peran. Dan di situlah Nenden berdiri kini, sebagai ibu yang memilih kejelasan, bukan nostalgia.

Pagi terus bergerak. Nasi uduk itu tetap di meja, tak segera disentuh. Bukan karena Nenden tak lapar, melainkan karena ia sedang belajar satu hal penting: tidak semua yang datang dengan niat baik layak diterima kembali ke dalam hidupnya. Ada kebaikan yang terlambat, dan ada pula penyesalan yang datang setelah kerusakan tak lagi bisa ditambal.

Namun Nabila bukan Nenden. Perut kecilnya tak mengenal sejarah luka. Ia merengek minta makan, suaranya jujur dan tanpa beban, seperti hukum alam yang tak pernah berkompromi dengan emosi manusia. Daniel pun membuka bungkusan nasi uduk itu. Aroma santan, serai, dan daun pandan segera memenuhi ruang tamu rumah kontrakan Pondok Gede—rumah yang pernah menjadi pusat harapan, lalu berubah menjadi arsip kegagalan.

Daniel mencoba menyuapi Nabila. Gerakannya kikuk, seperti seseorang yang sedang mempelajari kembali peran yang lama ia tinggalkan. Sendok itu terhenti di udara. Nabila menolak, memalingkan wajahnya, lalu menoleh kepada Nenden. Dalam psikologi perkembangan, John Bowlby menyebutnya sebagai secure attachment: anak akan mencari figur yang konsisten hadir dalam hidupnya, bukan sekadar figur biologis. Tanpa sepatah kata, Nenden mengambil alih. Tangannya terampil, tenang. Begitu sendok berpindah, Nabila pun makan dengan lahap.

Ada kepercayaan yang tak bisa dipaksa, hanya bisa tumbuh dari kebiasaan dan kehadiran yang setia. Daniel menyaksikan itu dalam diam. Ia paham, beberapa hal tak bisa direbut kembali hanya dengan uang atau kunjungan mendadak. Seperti kata filsuf Jerman, Martin Heidegger, “Being is time.” Keberadaan adalah soal waktu—siapa yang hadir, dan siapa yang absen.

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This