Madu Pahit Nenden — Bagian 11: Di Depan Vila

Must Read

Di sana, di rumah kontrakan yang tetap dijaga meski penghuninya pergi, Nenden merasakan sesuatu yang jarang hadir belakangan ini: bahwa tidak semua yang ditinggalkan akan membusuk—sebagian justru bertahan, menunggu, hingga seseorang cukup kuat untuk kembali dan berdamai.

Mbok Rani hendak memeluk Nabila. Namun gadis kecil itu bersembunyi di balik kaki Nenden, jemarinya mencengkeram ujung daster ibunya.
“Ucapkan salam, ini Nenek Rani,” bujuk Nenden lembut.
Nabila mengintip sebentar, lalu mengulurkan tangan kecilnya, malu-malu.

Mbok Rani tersenyum gemas, mencubit pelan pipi Nabila. “Udah gede. Cantik,” katanya, matanya berbinar.

Lalu pandangan Mbok Rani beralih ke Andrinov yang sejak tadi berdiri agak kaku, memperhatikan semuanya seperti orang luar yang baru masuk ke bab lama sebuah cerita.
“Itu suami Eneng?” tanyanya lugas kepada Nenden.

Milad 117 H Muhammadiyah

Belum sempat Nenden menjawab, Andrinov buru-buru melangkah maju dan menyalami Mbok Rani. “Andrinov,” katanya singkat, memperkenalkan diri dengan senyum sopan—seolah jawaban sudah cukup diwakili oleh sikap.

Nenden tidak merasa perlu menjelaskan apa pun. Ia memilih diam, melangkah masuk ke rumah, dan langsung menuju kamar mandi. Air kran mengalir deras ketika ia membasuh muka. Di cermin buram itu, ia menatap bayangannya sendiri—perempuan yang sedang kembali ke titik awal, bukan untuk mengulang, melainkan untuk menata ulang. Ada kelelahan di matanya, tetapi juga kilau tekad yang pelan-pelan menemukan bentuknya.

Setelah Mbok Rani pamit dan kembali ke kediamannya sendiri, rumah kembali sunyi. Suara kipas angin beradu dengan dengung kendaraan dari kejauhan. Andrinov berdiri di ruang tengah, menunggu, seolah memberi ruang bagi Nenden menyelesaikan urusannya dengan masa lalu.

“Mau tinggal di sini atau ke Tanah Abang?” tanya Andrinov akhirnya, nadanya hati-hati, tidak memaksa.

Nenden menoleh. “Emang ada rumah di Tanah Abang?” tanyanya, setengah heran.

Andrinov mengangguk. “Waktu Nenden bilang nunggu Abang sampai Jakarta, Abang langsung cari kontrakan buat Nenden,” jelasnya. Ucapannya terdengar ringan, seolah itu keputusan kecil. Padahal bagi Nenden, kalimat itu memuat makna besar: kesiapan, niat, dan juga potensi ketergantungan.

Nenden terdiam. Ia memandang Andrinov dari ujung kaki sampai ujung rambut—menakar ketulusan di balik kerapian, membaca niat di balik sikap tenang. Tatapan itu bukan tatapan perempuan yang sedang jatuh hati, melainkan seorang ibu yang belajar berhitung ulang risiko hidupnya.

Andrinov tidak merasa risi. Ia berdiri tegak, sesekali melempar senyum tipis—senyum orang yang yakin telah melakukan hal benar, atau setidaknya merasa demikian.

Di antara mereka, kata-kata belum menemukan bentuk. Namun udara terasa penuh oleh pertanyaan yang tak diucapkan: tentang batas, tentang masa depan, dan tentang seberapa jauh bantuan bisa berubah menjadi ikatan.

***

Perkuat Dakwah Urban, Muhammadiyah Jakarta Selatan Bangun Sinergi Strategis

JAKARTAMU.COM | Kolaborasi antarcabang dalam struktur organisasi menjadi kunci penting untuk memperluas dampak sosial dan keagamaan bagi masyarakat. Semangat...

More Articles Like This