Hujan masih turun di luar. Iis menutup jendela dapur rapat-rapat. Isma menyandarkan sapunya. Dari kamar terdengar Nabila menggeliat, lalu menangis kecil—tanda ia akan segera bangun. Nenden menyimpan ponsel, menghela napas, lalu menghampiri putrinya.
Di tengah hujan, pesan-pesan, dan angka-angka di layar ATM, Nenden semakin paham: hidupnya kini bergerak di antara dua kutub—bertahan atau melangkah. Dan seperti madu yang terasa manis di awal namun pahit di ujung, setiap bantuan selalu membawa rasa yang tak pernah benar-benar tunggal.
Setelah Nabila kembali terlelap, Nenden berdiri lama di depan kompor. Api kecil menyala biru, bergoyang tertiup angin dari celah jendela. Sendok kayu masih tergenggam di tangannya, tetapi tak ada yang diaduk. Pikirannya melayang jauh—ke Jakarta, ke Pondok Gede, ke masa lalu yang tak pernah selesai, dan ke masa depan yang belum berani ia beri nama.
Dalam psikologi keputusan, kondisi ini disebut decision fatigue—kelelahan mental akibat terlalu lama berada dalam tekanan pilihan tanpa sumber daya yang memadai. Namun bagi Nenden, ini bukan sekadar kelelahan kognitif. Ini kelelahan eksistensial: lelah hidup di persimpangan tanpa papan penunjuk arah.

Ia mematikan kompor. Napasnya ditarik dalam-dalam. Keputusan yang ia simpan berhari-hari akhirnya mendesak keluar.
Ia melangkah mendekati Iis. Kakinya terasa berat, seolah melangkah di tanah becek. Setiap langkah adalah perpisahan kecil dengan Cipayung yang membesarkannya.
“Ma,” ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan, “pekan depan Nenden berangkat ke Jakarta.”
Iis berhenti bekerja. Pisau yang tadi memotong bawang kini terdiam di udara. Ia tidak langsung menoleh. Ia tahu, jika menoleh terlalu cepat, matanya akan lebih dulu bicara.
“Sekalian mengurus barang-barang Nenden di Pondok Gede,” lanjut Nenden. “Mungkin… Nenden akan bekerja kembali di sana.”
Kata Jakarta bergaung di dapur seperti gema lama. Kota itu bukan sekadar tempat—ia simbol: harapan, luka, peluang, dan godaan yang bercampur jadi satu.
Iis akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, namun bukan marah. Lebih mirip seseorang yang sedang mengukur jarak antara kenyataan dan keinginan.
“Kamu yakin?” tanyanya singkat.
Nenden mengangguk. “Nenden sudah salat istikharah, Ma. Lebih dari sekali.”
Ia tidak menyebut bagaimana setiap malam ia menangis setelah doa, bagaimana ia membaca ayat yang sama berulang-ulang: Fa idzā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh — apabila engkau telah bertekad, bertawakallah kepada Allah.
Ayat itu bukan janji kemudahan, melainkan perintah keberanian.
Iis menarik napas panjang. Dalam hatinya, ia bergulat. Sebagai ibu, nalurinya ingin menahan. Sebagai perempuan yang telah lama hidup keras, ia tahu: menahan bisa berarti mematikan kemungkinan.
Ia teringat peribahasa Sunda yang dulu sering diucapkan almarhum suaminya: Leumpang kudu aya tungtungna, hirup kudu aya maksudna.
“Kamu tahu risikonya?” tanya Iis.
“Tahu,” jawab Nenden. “Tapi tinggal di sini juga berisiko, Ma.”
Itu bukan bantahan. Itu pengakuan.
Iis menunduk. Matanya basah.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “Mama tidak bisa melarang.”
Kalimat itu terasa lebih berat daripada larangan mana pun.
“Tapi Mama titip satu hal,” lanjutnya. “Salat jangan pernah kamu tinggalkan. Jangan sampai karena ingin keluar dari susah, kamu masuk ke susah yang lain.”
Nenden mengangguk. Kata-kata itu menghujam tepat di bagian dirinya yang paling rapuh.
Siang hari, hujan mereda. Nenden berjalan ke ATM di pinggir jalan utama. Angka di layar menyala. Ia menarik uang perlahan. Saldo berkurang. Setiap penarikan terasa seperti menandatangani keputusan.
Ia kembali ke rumah dan menyerahkan uang itu kepada Iis.
“Ma, ini untuk kebutuhan bulan ini.”
Iis menerimanya dengan tangan gemetar.
“Mama mengalah,” ucapnya lirih. “Tapi inget, ulah kabita ku dunya nepi ka mopohokeun diri sorangan.” Ucapan Iis itu bermakna “Jangan sampai terlena oleh dunia hingga melupakan diri sendiri.” Maknanya lebih dalam: jangan terbuai oleh harta, kenyamanan, atau ambisi duniawi sampai kehilangan jati diri, nilai moral, dan hubungan dengan Tuhan.
Sore menjelang. Cipayung masih basah, namun matahari mulai menembus awan. Cahaya tipis jatuh di halaman, membentuk garis-garis lembut di tanah.
Di sanalah Nenden berdiri—di antara kampung yang membesarkannya dan kota yang memanggilnya. Ia tahu, madu pahit akan kembali hadir. Namun kali ini, ia melangkah dengan mata terbuka.
Bukan karena didorong.
Bukan karena dijanjikan.
Melainkan karena memilih.
Dan di bawah langit Cipayung yang masih lembap, tekad Nenden mengeras—perlahan, sunyi, tetapi tak lagi goyah.
***


