Lima hari kemudian, sebuah pesan masuk dari Andrinov. Singkat, lugas, seperti kebiasaannya.
Abang sudah di Jakarta. Nenden siap? Abang jemput.
Nenden membaca pesan itu tanpa tergesa. Ia sedang duduk di tepi ranjang, menatap Nabila yang bermain dengan boneka kain lusuh—boneka yang sudah menemaninya sejak bayi. Ada jeda kecil di dadanya, bukan ragu, melainkan kesadaran bahwa satu fase hidup benar-benar akan ditinggalkan.
Ia membalas pelan:
Tunggu di depan Vila Jakarta Lloyd ya, Bang.
Bersamaan dengan pesan itu, ia mengirimkan titik lokasi melalui Google Maps. Vila Jakarta Lloyd—bangunan lama di kawasan Cipayung Datar, peninggalan masa ketika Puncak menjadi tempat peristirahatan pejabat dan saudagar Jakarta. Dindingnya tebal, catnya mulai pudar, tetapi berdiri kokoh. Seperti banyak hal dalam hidup Nenden: tak lagi indah, namun belum runtuh.

Sore turun perlahan. Kabut tipis mulai merayap dari sela-sela perbukitan. Udara basah menyisakan dingin yang menempel di kulit. Dari kejauhan, suara mesin Jeep terdengar, memecah keheningan kampung.
Andrinov datang tepat waktu.
Jeep berwarna gelap itu berhenti di depan vila, bannya meninggalkan jejak samar di tanah lembap. Andrinov turun, berdiri tegap, memandang sekitar sejenak—seolah mengukur jarak antara dunia yang akan ditinggalkannya dan dunia yang hendak ia rangkul. Ia mengirim pesan singkat.
Abang sudah di depan.
Tak sampai lima menit, pintu rumah terbuka.
Nenden muncul dengan langkah mantap. Di tangannya, Nabila tergandeng erat. Anak itu ceria, matanya berbinar melihat mobil besar yang asing baginya. Rambutnya diikat sederhana, bajunya bersih meski tak mewah. Ia melangkah ringan, tanpa beban yang ia pahami, membawa kepolosan yang justru membuat hati Nenden bergetar.
Andrinov menatap mereka berdua. Sekilas ada senyum di wajahnya—senyum lelaki yang merasa kehadirannya berarti. Namun Nenden melihat lebih dari itu: ada ekspektasi, ada harapan, dan ada garis tipis antara perhatian dan kepemilikan.
“Nabila,” sapa Andrinov lembut.
Anak itu tersenyum, lalu bersembunyi setengah di balik kaki ibunya.
Nenden membalas salam dengan anggukan sopan. Tidak berlebihan. Tidak pula menjauh. Ia berdiri di antara masa lalu dan masa depan, membawa seorang anak, membawa luka, dan membawa tekad yang baru saja ditempa oleh hujan, doa, dan keterpaksaan hidup.
Sore itu, di depan Vila Jakarta Lloyd yang tua dan sunyi, sebuah perjalanan baru dimulai.
Bukan perjalanan yang bersih dari risiko, bukan pula jalan yang sepenuhnya terang.
Tetapi untuk pertama kalinya, Nenden melangkah bukan karena diseret keadaan—melainkan karena ia memilih untuk berjalan.
Andrinov bergerak cepat. Ia mengambil koper Nenden dari teras, mengangkatnya ke jok belakang Jeep dengan sigap, seolah ingin menunjukkan bahwa hal-hal berat tak perlu lagi dipikul perempuan itu sendirian. Lalu ia membuka pintu depan, mempersilakan Nenden duduk di kursi co-pilot. Gerakannya sopan, nyaris formal, seperti seseorang yang ingin menjaga jarak sekaligus kedekatan dalam satu tarikan napas.
Mesin Jeep dinyalakan. Suaranya berat, bergetar rendah, menyatu dengan dengung sore Puncak yang mulai sepi. Kendaraan itu melaju menuruni jalan berliku menuju ruas utama Puncak–Ciawi. Di kaca samping, kebun teh dan pepohonan pinus bergeser perlahan, seperti lembaran hidup yang sedang ditutup satu per satu.
Nenden memeluk Nabila. Anak itu tampak menikmati perjalanan, menempelkan wajahnya ke kaca jendela, matanya mengikuti kendaraan-kendaraan besar yang melintas. Kepolosan itu menusuk hati Nenden—ia sadar, setiap keputusan orang dewasa selalu membawa anak-anak ikut serta, tanpa pernah benar-benar dimintai pendapat.
Setelah melewati Gadog, Jeep masuk ke tol Jagorawi. Jalan lurus membentang, lampu-lampu kendaraan mulai menyala. Jakarta menunggu di ujung aspal, dengan segala kemungkinan yang belum tentu ramah.
“Nenden ke Pondok Gede dulu, Bang,” ucap Nenden akhirnya, memecah keheningan.
Andrinov mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu alamat itu. Pernah, bertahun lalu, ia mengantar Nenden pulang ke rumah kontrakan itu—saat perempuan itu masih bekerja di kafe Tanah Abang, masih menyimpan mimpi-mimpi kecil yang belum dipatahkan kenyataan. Ingatan itu melintas singkat di benaknya, lalu lenyap bersama deru mesin.
Jeep keluar dari pintu tol Cibubur. Lalu lintas mulai padat. Lampu merah, deretan motor, suara klakson—Jakarta menyambut dengan wajahnya yang khas: riuh, tergesa, dan tak pernah benar-benar menunggu siapa pun.


